Macapat syafaat adalah kegelisahan Emha dan cara Emha untuk menyapa Jogja, sekaligus merespon kondisi masyarakat Jogjakarta, yang juga merupakan “Padhang mBulan-nya” Jogja. Sehingga yang ditawarkan acara ini adalah spiritualitas, estetika dan kemesraan kemanusiaan. Dialektika intelektual hanya berposisi subordinatif terhadap langit spiritualitas, karena rasionalitas memang hanya kulit ari dari arasy spiritualitas, atau karena akal yang diwacanakan oleh Al-Qur’an tidaklah identik dengan otak, rasio atau intelektualitas. Sholat, dzikir dan sholawat.
Acara yang diselenggarakan tiap tanggal 17 masehi ini lebih banyak dipakai oleh Emha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari jamaah atau merundingkan masalah apa saja dengan keadilan berpikir dan kejernihan hati, sehingga ia tidak perlu berceramah sebagaimana di acara yang lain. Emha memuncaki acara ini dengan mengajak bersama-sama untuk sholat, wiridan, sholawatan dan do’a.
Selain Padhang mBulan dan Macapat Syafaat, acara serupa juga dikenal sebagai Gambang Syafaat di Semarang, Kenduri Cinta Jakarta, Bangbang Wetan Surabaya, dan beberapa kali secara tentatif di berbagai kota di Indonesia, misal: Papparandang Ate di Tinambung Mandar SulSel, Tali Ka Asih di Bandung dan Obor Ilahi di Malang.


