Alkisah di suatu negeri kepulauan yang tak putus dirundung multi krisis tersebarlah suatu kabar sensasional bin heboh nian. Seorang pria milyarder berusia hampir 50an tahun dikabarkan menikahi gadis balita (bawah lima belas tahun). Di kota bermukimnya sang milyarder digambarkan sangat kaya raya. Propertinya tersebar di tiap penjuru kota. Teras rumahnya dilengkapi ’showroom’ dengan deretan mobil mewah keluaran mutakhir berkilau-kilau memantulkan prospek materi, menyilaukan mata dan menggoda hati orang yang melihatnya. Sebuah pameran kemewahan yang akan membuat para gadis berpikir seratus kali jika akan menolak lamaran sang milyarder. Tak kurang sebuah brankas besar berisi milyaran uang terpajang angkuh dan kokoh di teras istananya, membuat kagum dan keder para warga sekaligus makin menegaskan eksistensi sang tokoh milyarder di kotanya. Iapun seolah menjelma menjadi raja kecil di lingkungannya, sebuah kota yang menjadi bagian dari republik yang sarat dengan kontras sosial ekonomi ini.
Kisah tentang kiprah sang milyarder seolah mengikuti adagium klasik: harta-tahta-wanita. Ketika harta dan materi mendongkrak tahta atau posisi seseorang maka biasanya akan muncul keinginan-keinginan lain untuk melengkapi eksistensinya, termasuk diantaranya keinginan terhadap wanita sebagai pendamping hidup. Semuanya berjalan normal dan wajar.
Kontroversi muncul ketika kata “wanita” pada adagium tersebut ditafsirkan menjadi “wanita-wanita”, bahkan “wanita dibawah umur” seperti yang dilakukan oleh sang tokoh milyarder di republik kontras ini. Ia pun menjadi man make news yang dikejar para wartawan, menjadi pusat fokus dari sorotan kamera berbagai media lokal dan nasional. Popularitas sang milyarder pun naik ke tingkat nasional. Beragam komentar dan reaksi muncul bersahutan. Psikolog, ulama, LSM, menteri, bergantian merespon. Polisi pun menindaklanjuti.
Adapun sang mempelai wanita belia yang selama ini terkesan “dibungkam” akhirnya angkat bicara. Pernyataan gadis yang dianggap masih bau kencur itu mungkin diluar perkiraan publik pada umumnya. Tapi sesungguhnya tidaklah mengejutkan bagi yang paham gejala sosial di negeri ini. Publik yang selama ini mencemaskan kondisi psikologis si gadis, menyayangkan kepolosan dan masa anak-anak yang akan terenggut oleh pernikahan dini tersebut pun kecewa dan kecele. Dan ekspektasi publik tentang citra kepolosan, kebaukencuran, kesan kekanakan, pupuslah sudah, menguap diudara, seiring dengan kalimat-kalimat yang sangat “dewasa” yang diucapkan si gadis belia.
Pernyataan gadis balita (bawah limabelas tahun) itu bisa ditarik sebagai contoh kasus yang mengindikasikan bahwa anak-anak bangsa era kontemporer ini sebetulnya sudah sangat melek terhadap prospek materi bahkan di usia yang masih belia. Silahkan bertanya pada para sosiolog ataupun psikolog, apakah ini progresi atau regresi dan dekadensi. Silahkan pula mengutuki tayangan-tayangan yang menjual mimpi dan kemewahan semu di ruang keluarga kita yang mengkarbit anak-anak bangsa serta merasukinya dengan nilai-nilai materialis profanistik dan paham instanisme anti etos kerja.
Dan tampaknya kisah ini akan berakhir dengan happy ending. Sang milyarder happy, si ortu happy, anak gadisnya tentu juga happy seperti saat mengutarakan rasa cintanya kepada sang milyarder. Maka moral lesson atau pesan moral dari kisah ini ialah bahwa untuk soal fisik dan usia, cinta mungkin buta. Tapi untuk urusan harta dan materi cinta sebenarnya melek sekali dan tidak buta. Karena cinta dengan jeli tau mana yang milyarder, mana yang bukan. Maka tidaklah aneh jika cinta di era kontemporer multi krisis ini menganut rangkaian motto seperti: “witing tresno jalaran akeh duite”, atau “dari harta turun ke hati”.
Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/mjpzad
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.











Fa, Fa! on 4 October 2009
pedophilia?
yo podho rek..
aku yo gelem
mung aku (durung) milyarder
hehe…
but
if You think
love is blind
…….
……
…..
….
..
.
Not me not I…
cak abud on 4 October 2009
hwahahahaha… lucu…
HAMID on 20 October 2009
ksus milyaryarder Ini mengingatkanku akan satu peristiwa di inggris,dimana ada anak yg meniggal dalm usia 15 thun. ktik ditanyakn penyakit apa yg tlh mnyebbkn ank ini mninggl,ternyt ank in mnggl scr normal. ank ini tlh tau sglny,tlh mlakukan sglnya.sdh lngkap mnjdi mnusia. ia mti dlm keadaan normal. itulh sebuah kisah tragis ank mnusia dingara maju,dengn tehnologi,pengetauan,serta uang,ia dlm wktu 15 thun sdh bs “mnyelesaikn hdpnya”dlm dunia yg serba instan ini. by hamid solo 08132338199
Ratri Dian on 26 October 2009
Wah wah jleb jleb..hehe..
TOP!!
Sebuah realita yang menyakitkan…
Huffh..
Matuhan on 18 November 2009
Iku tumbu entuk tutup, pas, klop. Sing milyader kpingin, sing areke yo enak, bpk ne kpuenak, media panen info. Sing ‘iri’ iku sing ndak kebagian….he…dst
irfan on 3 February 2010
media yang kurang arif yang merubah pandangan seseoarang//media yang penampilanya mengandalkan mutiara2 duniawi yang membuat orang memilih mengistankan segala cara untuk hidup layak walau hanya untuk sementara…