Berulangkali saya melihat pertunjukan teater Dinasti, yang waktu itu, tahun 1980-an sering menggunakan dua tempat, Seni Sono dan Taman Budaya di Bulaksumur. Lakon-lakon Dinasti yang saya tonton antara lain, “Geger Wong Ngoyak Macan”, “Raden Gendrek Sapu Jagad”, “Patung Kekasih”, “Sosok Diam di Kandang Bubrah”, “Syeh Siti Jenar” dan beberapa judul lagi yang saya lupa namanya. Memang tidak setiap lakon yang dipentaskan Dinasti saya bisa melihatnya, namun sebagian besar saya mengikutinya.
Telah lama Dinasti tidak pentas, bahkan sama sekali sebagai grup teater Dinasti tidak memiliki aktivitas. Sedangkan individu anggotanya yang sudah terpencar-pencar tetap mempunyai aktivitas yang tidak bersinggungan dengan Dinasti, meski berkisar di wilayah seni. Ini kali, Dinasti mementaskan “Tikungan Iblis”, naskah karya Emha Ainun Najib, pertunjukan memakan waktu dua setengah jam, cukup panjang untuk ukuran pertunjukan teater pada masa sekarang.
Gedung Hall Taman Budaya penuh sesak. Kursi-kursi penuh. Di bawah panggung penonton banyak yang duduk lesehan. Dan di deretan kursi bagian belakang, tidak sedikit penonton yang rela duduk di bawah. Ada juga yang berdiri sambil bersandar di tembok.
“Tikungan Iblis” hadir setelah pembunuhan terjadi. Dua orang berkelahi. Ketika keduanya menyadari dan sepakat berbaikan, rupanya salah satu di antaranya memendam rasa sakit hati. Ketika, seorang yang satunya sedang santai sambil tidur terlentang, lelaki yang kecewa itu menyimpan dendam, secara diam-diam membunuhnya. Iblis datang dan berbagai macam petuah melalui kata-kata membanjiri setiap adegan.
Iblis yang diperankan oleh Joko Kamto bermain dengan cukup baik, setidaknya seperti permainan Joko pada waktu Dinasti dulu. Keaktoran Joko, meski lama tidak pentas di panggung, tidak lenyap. Joko, untuk saya, masih menikmati peran yang dia mainkan, seperti selama dia pentas dengan teater Dinasti.
Ketika ada kelompok teater yang pentas tidak mengumbar kata-kata bahkan kadang hanya menyajikan impresi-impresi — Dinasti justru kembali mengukuhkan tradisinya. Kekuatan kata atau kekuatan dialog menjadi ciri yang tidak bisa hilang. Seluruh pertunjukan “Iblis’ tidak sepi dari dialog. Beberapa ada selingan lagu untuk memberi nuansa pertunjukan. Juga ada selingan ‘dagelan’ yang memplesetkan iklan televisi yang marak dengan ‘ketik reg’ dan seterusnya.
Pertunjukkan “Tikungan Iblis” mengritik keadaan yang sedang terjadi, termasuk mengritik produksi wacana yang membanjir. Pada konteks ini, “Tikungan Iblis”, sesungguhnya juga mengritik dirinya sendiri, yang banjir dengan kata. Penuh wacana. Persis seperti kondisi politik di Indonesia, yang tidak sepi dari wacana, tetapi tidak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari warga masyarakat, yang telah rela memilih setiap lima tahun sekali.
Penonton yang berjubel rupanya bertahan sampai usai. Orang-orang seperti merasa kangen terhadap Dinasti. Dan Emha Ainun Najib menyebut pertunjukan “Tikungan Iblis” sebagai pentas kebahagiaan.
Melihat pertunjukan teater Dinasti, seringkali tidak pernah sepi dari kata-kata. Yang menyenangkan dari pertunjukan teater Dinasti, setidaknya pada “Tikungan Iblis” orang disuguhi beragam persoalan. Sehingga meski serius menjadi tidak menegangkan, karena ada unsur lucunya.
“Kamu manusia ya?” tanya iblis.
“Insya Alllah, manusia,” jawab yang ditanya.
Dan penonton tertawa terbahak. Gerr. Maka suasana tegang seringkali dikendorkan dengan dialog yang serius, tetapi ditaruh pada konteks yang pas, sehingga menghadirkan rasa lucu.
Dinasti, teater yang pada tahun 1980-an sempat memberi warna jagad teater di Yogya dan membawa “Tikungan Iblis”, hadir dengan sedikit berbeda, setidaknya tidak meninggalkan teknologi audio visual. Meski di setiap adegan penuh kata-kata, teknik audio visual mengisi sisi lain dari kata-kata.
Ons Untoro
Rumah Budaya Tembi
Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/mhjkgd
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.










