"GOLPUT" Gitu Saja Kok Repot

Posted by Andri Dwi Wiyono5 February 2009 in Blog | 2 Comments

Siapa yang tak kenal Gus Dur? Manusia yang dihadirkan  khusus oleh Tuhan  sesuai dengan jamannya. Banyak predikat yang disandang, baik sebagai tokoh ulama, cendikiawan, negarawan, budayawan, dan lain-lain termasuk kepiawaian dalam humor. Golput, kata dalam rentetan kata yang dilontarkan Gus Dur cepat mendapat respon dari kalayak dengan presepsi dan interpretasi yang beragam.

Mendekati tahun 2009 sebagai pusaran utama siklus politik dan ekonomi, akan menciptakan suasana yang semakin menegangkan sekaligus menyenangkan (serem tapi lucu) dan membuat banyak orang menjadi apatis sekaligus memakmurkan (merem tapi ayem). “Golput” bisa menjadi sebuah kata mandiri atau menjadi sebuah kalimat yang beridiom, yaitu Golongan Putih. Kata Golput dan atau kalimat Golongan Putih akan memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai kondisi sosial maupun kondisi kepribadian dari orang yang mendengarkan maupun membacannya.

Bila kalimat “Golongan Putih” yang didengar dan dibaca, maka si pendengar dan pembaca tersebut akan meresponnya dengan menggali memorinya untuk melakukan perjalanan ke masa lalu. Ketika jaman Demak dan Pajang, muncul simbolisasi Golongan Putih (islam putih/syariat) dan Golongan Abangan (islam abangan/islam jawa). Pada masa Perang Paderi (bahkan sebelumnya) di Sumatera Barat muncul simbolisasi golongan putih/islam dan golongan adat/hitam. Golongan Putih dalam presepsi dan intrepertasi lebih lanjut akan mendominasi susana hati dan pikiran tentang masalah agama, spiritual, budaya dan perjuangan, sehingga menjadi stigma khusus sampai saat ini.

Jika kata “Golput” yang terdengar dan terbaca, maka membuat si pendengar dan pembaca akan terbawa dalam nuansa dinamika politik pada masa Orde Baru, masa Reformasi dan masa Indonesia Baru. Hal ini akan menimbulkan efek respon yang berlainan antara masyarakat maupun dinamika kelembagaan politik di negeri ini. Pada tataran tertentu akan menjadi posisi diametral yang berhadap-hadapan atas kontinuitas sebuah kepentingan (kekuasaan). Maka akan muncul statemen dari berbagai kalangan bahwa “Golput” dilarang, diingatkan, dibiarkan atau mungkin diajurkan.

Bila kata “golongan” itu kita definisikan sebagai kelompok, kalangan, kekuatan atau ummat, maka kata “putih” kita artikan sebagai apa? Kita perankan menjadi apa? dan kita fungsikan untuk apa?

Putih bisa diartikan menjadi warna/pigmen, gelombang, sinar/energi dan cahaya. Menurut kejadiannya warna dibagi menjadi dua, yaitu warna additive dan subtractive. Warna additive adalah warna yang berasal dari cahaya dan disebut spectrum. Sedangkan warna subtractive adalah warna yang berasal dari bahan dan disebut pigmen. Warna pokok additive adalah merah (Red), hijau (Green), biru (Blue), disebut model warna RGB. Warna pokok subtractive adalah Sian (Cyan), Magenta, dan Kuning (Yellow), disebut model warna CMY.

Putih sebagai spektrum (gelombang dan energi/sinar) dari cahaya, pada spektrum elektromagnetik, “cahaya tampak” adalah  dengan panjang gelombang  selang/ interval 0,3 dan 1,50 mikro (sunlight) dan yang bisa ditangkap mata manusia panjang gelombang warnanya berkisar antara 380-780 nanometer. Bila panjang gelombang di atas interval tersebut maka dinamakan inframerah, gelombang mikro dan gelombang radio, inilah yang sering disebut gelombang. Sedangkan bila di bawah interval tersebut maka dinamakan ultraviolet, sinar X dan sinar Gamma, hal ini sering disebut sinar yang memiliki kekuatan/energi.

Bila putih bukan sebagai warna/pigmen dan  bukan pula sebagai gelombang dan sinar/energi, apalagi sebagai suatu indentitas politik. Maka putih itu sejatinya tidak ada, yang ada adalah cahaya. Sebagaimana dalam kumpulan Syair Asmaul Husna (Progress, Juli 2005) dari Emha Ainun Nadjib, yaitu syair “An Nuur”,  Asma Allah yang ke 93 dan nama Surat 24 dalam Qur’an.

An Nuur

Malaikat yang terbuat dari cahaya
Adanya desir nafas-Nya
Iblis yang tumbuh dari api membara
Adalah garis yang mencuat dari lurusnya

Adapun Adam
Adapun aku
Berangkat dari batu daging
Memerangi zat binatang
Untuk tinggal menjadi samar cahaya
Merindukan Cahaya Yang Sebenarnya.

Bila teman-teman menanyakan partisipasiku dalam siklus politik-ekonomi  2009, maka aku jawab bahwa Sang Maha Cahaya kupaksa hadir dalam bilik hatiku dan kuikutsertakan dalam memilih atau dipilih. Apakah aku perlu melangkah atau tidak ke bilik pencoblosan? Apakah aku perlu dan mau mencantumkan nama dan fotoku dalam kertas pencoblosan? itu adalah hakku, yang terpenting adalah telah dan selalu kutunaikan kewajibanku pada rakyat, negara dan Pencipta. Gitu saja kok repot!

Andri Dwi Wiyono
Masyarakat Pembelajar
Komunitas KENDURI CINTA
Jakarta, 08-08-2008
(Buat Cak Puji : Waras dan Suwun)

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/lhua8l

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Comments

  1. Ratri Dian  on 1 November 2009

    Ck ck ck…mantab!!!
    Like this dah pokoknya!!
    Salaam….^^

    Reply

  2. santri sudrun  on 24 February 2010

    GOLPUT, golongan putih… putih itu bersih.. lha gimana lagi, dari pada ikut merah nanti dikatakan merah, ikut hijau dikatakan hijau… ah dari pada milih trus yang dipilih belum jelas, belum kita ketahui, kita kenal, kita pahami.. ya GOLPUT juga gak apa apa kan? Lha wong Tuhan aja ngak menharamkan GOLPUT to? Salam untuk temen2 Kyai Kanjeng.. Khususon untuk Punggawanya.

    Reply

Leave a Reply