Musik KiaiKanjeng lahir dari hal-hal yang sangat sederhana, yang mungkin tidak ‘indikatif’ terhadap sejumlah dimensi budaya para pekerja musik: misalnya ‘kwalitas’, ‘kreativitas’, ‘karier’, ‘profesionalisme’, ’star’ dan sebagainya.
Alat-alat musik KiaiKanjeng, materi artistiknya, pola aransemennya, wilayah sepakterjang aktualisasi sosialnya, lahir dari suara hati kecil manusia-manusia yang tergabung di dalamnya. Suara hati kecil itu misalnya: menikmati persaudaraan kemanusiaan, dalam skala kecil maupun seluas yang bisa dijangkau.
Gamelan KiaiKanjeng adalah modifikasi dari Gamelan Jawa yang notasinya diciptakan sedemikian rupa sehingga secara terbatas bisa mengakomodasi kemungkinan musical dari wilayah manapun di dunia. Hal itu didorong oleh semangat dan kerelaan hati untuk bukan hanya mengakui eksistensi manusia manapun (bangsa apapun, golongan apapun, beragama apapun) tetapi juga menghormati dan mencintai mereka.
***
Dalam bahasa Jawa ada idiom nguwongke wong, memanusiakan manusia. Artinya mengakui manusia sebagai manusia, menghormatinya, memahaminya terus menerus dan mencintainya.
Aransemen musik KiaiKanjeng dan semua perjalanan sosialisasinya berpijak pada kesadaran dan cinta agar dalam atmosfir keseharian mereka selalu ada siapa saja yang mereka ingin bersaudara dengan mereka. Ada saudara se-Asia, ada saudara Afrika, Latin, Timur Tengah, Barat, atau apapun dan siapapun, yang KiaiKanjeng selalu dibebani oleh ‘rasa takut’ untuk kehilangan kontak persaudaraan dan cinta dengan mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, KiaiKanjeng juga ada semacam kecemasan bahwa persaudaraan dan cinta kemanusiaan itu bisa mungkin dilunturkan, didistorsikan, dikurangi, diredusir, didangkalkan atau dihalangi oleh sejumlah mekanisme perhubungan kebudayaan yang terlalu dikuasai oleh Lembaga Negara, Lembaga Industri dan Lembaga Agama. (Hal terakhir ini pasti memerlukan pembahasan dan waktu khusus).
***
Akan tetapi ‘visi sangat sederhana’ itu mau tak mau membuat kami harus menyederhanakan pula pandangan dan identifikasi kami atas diri kami sendiri.
Misalnya, kami semua adalah Muslim, tetapi sebenarnya mungkin lebih indah andaikan siapapun tak usah mengetahui bahwa kami Muslim. Karena yang penting bukan siapa kami, dari masa asal kami dan apa identitas kami. Yang utama: apakah yang kami lakukan ini bermanfaat dan menggembirakan manusia yang berjumpa dengan kami atau tidak.
Kalau harus memilih apakah KiaiKanjeng itu Group Musik, Seniman, Agamawan, Ideolog, atau sebutan apapun, mungkin kami merasa lebih aman dengan sebutan “Aktivis Kemanusiaan”. Lebih aman lagi kalau disebut “manusia” (saja), karena mempertahankan kemanusiaan adalah perjuangan utama setiap dan semua manusia.
Tuhan sendiri, di dalam pandangan Islam, kelak di Hari Pengadilan, tidak menanyakan identitas kami, melainkan mengidentifikasi dan meregulasi perilaku sosial dan pribadi kami. Islam hanya “input”, yang berurusan dengan manusia lain dan Tuhan adalah “output” sosialnya sebagai manusia.
Andaikan pola perhubungan sosial tidak memungkinkan kami menyembunyikan identitas Agama kami, maka biasanya kami memohon semacam kesepakatan agar Agama diposisikan sebagaimana istri atau suami. Setiap orang berhak memilih istri atau suaminya masing-masing, lengkap dengan kemerdekaan argumentasi dan alas an-alasan sejarahnya. Dan setiap orang tidak punya hak untuk mempertanyakan serta tidak perlu memperdebatkan kenapa lelaki itu kawin dengan wanita itu. Juga tidak perlu mengkomparasikan dengan alasan apapun bahwa istri saya lebih cantik dari istri orang lain atau suami wanita itu lebih gagah dibanding suami sahabatnya.
Tentu saja, antara Agama dengan istri atau suami tentu saja terdapat spesifikasi dan posisi yang tidak persis sama.
***
Kami datang ke Negeri Belanda dan ke manapun di Indonesia dan dunia, tidak terutama sebagai Group Musik atau Kelompok Kesenian Mungkin ada aransemen musik dan kesenian lain yang kami suguhkan, tetapi itu tidak membuat kami meletakkan diri (juga tidak membuat Indonesia melihat kami) sebagai pemusik atau seniman.
Mungkin ada sejumlah ungkapan pemikiran tentang sejumlah hal, tetapi itu tidak membuat kami menemukan diri (juga tidak membuat Indonesia menganggap kami) sebagai pemikir atau intelektual, apalagi kaum terpelajar. Juga mungkin terdapat sejumlah unsur dan sikap yang berkaitan dengan Agama, namun sama sekali hal itu tidak mendorong kami memperlakukan diri (juga tidak membuat Indonesia mengakui kami) sebagai pelaku atau aktivis Agama.
Jika sangat terlihat bahwa Agama yang kami maksud adalah Islam, hal itu juga sama sekali tidak membuat kami repot untuk memperbedakan, mempersoalkan, memperdebatkan atau apalagi meng”kami”kan Agama pelukan dan me”mereka”kan Agama-agama lain yang dipeluk oleh sesama manusia di muka bumi.
Kami adalah sekumpulan sangat kecil manusia-manusia yang mengisi siang malam kehidupan kami dengan upaya untuk menikmati persaudaraan, cinta, kebersamaan dan kemenyatuan antar manusia, baik dalam skala yang kecil maupun besar.
Kami menyebut kebersamaan itu dengan “Gerakan Maiyah”, dengan jaringan komunitasnya di seluruh Indonesia, dengan upaya-upaya saling memberdayakan di bidang pendidikan, kreativitas kebudayaan, ekonomi, serta aktivitas-aktivitas kesenian.
***
Setiap aransemen musik kami, setiap bunyi, nada, irama serta bentukan-bentukan musikalnya benar-benar kami niatkan untuk menikmati “persaudaraan semua manusia di dunia”.
Demikian juga di dalam setiap kegiatan teater dan kesenian lain. Setiap forum rakyat rutin bulanan yang kami selenggarakan di 5 kota besar Indonesia. Setiap Sekolah yang kami dirikan di sejumlah tempat. Setiap buku atau tulisan yang kami sebarkan. Setiap ruang komunikasi yang kami berada di dalamnya. Setiap support ekonomi kecil yang menyebar ke berbagai titik rakyat kecil di negeri kami.
Setiap persentuhan dan keterlibatan kami dengan siapapun, dalam bidang apapun, awal dan akhirnya, sekali lagi: “hanyalah” semangat menikmati persaudaraan kemanusiaan. Juga ketika atau seandainya kami bersentuhan dengan wilayah-wilayah yang “mengerikan” di dunia, umpamanya politik, Presiden, industri besar, persaingan ideologi-ideologi global, atau apapun — tetaplah kami tidak berani tidak menomersatukan manusia dan persaudaraannya.
***
Kami kumpulan manusia-manusia yang lemah, yang takut kehilangan intimitas kemanusiaan, dan rasa takut itu kami bayar dengan keberanian untuk kehilangan yang lain: sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan. Atau dari sudut lain: kami adalah sekumpulan manusia-manusia yang tak mampu mencapai sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan — maka kami berusaha jangan sampai kehilangan “yang paling sederhana dari kehidupan”: yakni persaudaraan, keluarga dan intimitas kemanusiaan dalam hidup yang amat singkat ini.
Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/kukpok
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.










