Ujung Tombak Maiyah

Posted by Sabrank Suparno (081 359 913 627)16 November 2009 in Blog | 2 Comments

“Anak-anak perlu bermain di bawah sinar rembulan, sebelum mereka tumbuh besar dan mampu menagkap alam semesta”.

I. Pangkal Tombak Maiyah

Nama lengkap saya Sabrank Suparno. Dari Dowong Ds Plosokerep, Sumobito, Jombang (±4 km) arah selatan pendhopo padhang mbulan. Idiom masyarakat nJombang sering menyebut dengan istilah “arek kidule kali”. Sedangkan rumpun Desa Menturo ke Barat dan Utara, acap kali di sebut “arek lore kali”.

Alhamdulillah sebagaimana anda, saya sudah tertarik seluruh ion-ion atom dalam diri saya (hembusan niat, energi untuk berangkat, dan diselamatkan dalam perjalanan) oleh Alloh ke gravitasi pengajian padhang mbulan sejak tafsir alfatihah tekstual (oleh Cak Fuad) dan tafsir kontekstual (oleh Cak Nun). Saya adalah salah satu peserta workshop penulisan yang dilaksanakan tanggal 2-4 Oktober 2009 di pendhopo padhang mbulan Menturo Sumobito Jombang. Workshop ini berkaitan erat dengan kemenangan buku memaknai maiyah yang saya tulis dengan judul 1. Rembulan Cincin Kawin Dunia, dan 2. Negeri Rosul Seluas Sajadah.

Jika ditinjau dari teori universal kosmopolit, dimana satu manusia saja di muka bumi ini merupakan bagian dari komponen alam semesta, maka saya menawarkan diri untuk anda tegur sapa, jabat tangan, dan atau jalin kerja sama, saling membantu satu sama lain, baik moral ataupun intelektual. Tentu saja dalam batas-batas kesanggupan masing-masing, dalam koridor saling menyelamatkan dan saling mengamankan baik dalam skala individu ataupun  kolektif berumat, berbangsa, bernegara, dan bahkan dunia.

II. Busur Tombak Maiyah

Secara keseluruhan yang disebut maiyah adalah orang-orang yang terlibat secara langsung ataupun tak langsung bertemu ruas kutub keilmuannya dalam satu ide, prinsip dan gerakan yang sama. Yakni mengedepankan energi kebaikan dengan cara kebersamaan. Kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan dengan takaran hukum yang dapat dipertanggung jawabkan di hadapan ummat manusia, alam semesta dan Tuhan YME. Adapun awal gerakan maiyah ini diprakarsai Emha Ainun Najib sekeluarga. Barulah setelah itu berkembang merebak ke delapan penjuru mata angin skala Nasional dan dunia. I’tikad untuk melangsungkan gerakan inilah yang kemudian lehir istilah “jam’iyah maiyah (berkumpul dengan rasa kebersamaan). Bersama dengan siapa? Pertama bersama dengan antar manusia, kedua bersama dengan para Nabi dan Rosul, ketiga bersama dengan alam semesta, dan yang terakhir bersama dengan sang pemilik tunggal saham kehidupan yakni Allah SWT.

Dalam peperangan abadi hidup ini untuk mengalahkan kebodohan, menguak kebuntuan, menyibak ketidak cermatan dalam menyikapi ketimpangan hiruk-pikuk keadaan yang acap kali menyeret kita ke jurang kenistaan terbukti Jam’iyah maiyah mampu tampil eksis menjawab kebutuhan sejarah peradaban ummat. Seluruh jama’anya tidak hanya beku di puncak obsesi fiktif. Akan tetapi cair energik dalam gerakan aktif yang akhirnya berpuncak pada target-target sektoral finansial. Sebagai contoh kasus Lapindo misalnya. Jamaah ini mampu menyelesaikan dengan tepat dan damai. Padahal sejarah mengetahui kalau kasus Lapindo jelas tidak mampu diselesaikan secara birokratif. Justru malah berbelit melilit lingkar jika diselesaikan oleh para birokrat. Lantas apa sebabnya jamaah maiyah mampu merampungkannya?? Jawabannya sederhana! Karena teori yang diterapkan dalam jamaah maiyah adalah mainset keikhlasan tanpa pamrih. Dengan konsesi jargon : “jangan menjadi pengemis di pintu alam, tapi bergeraklah memperbarui alam”. Jargon inilah yang menjadi sumber “engine power” jamaah maiyah untuk optimis melangkah membuka pintu diantara beberapa jendela. Keberhasilan semacam ini harus dilebarkan lebih intensif dan profesional.

III. Ujung Tombak Maiyah

a. Maiyah sebagai gerakan menulis

Gerakan maiyah ini sudah berjalan  cukup lama. Di bawah naungan Padhang Mbulan saja sudah berjalan ± 15 tahun. Dalam kurun dekade ini banyak hal yang terjadi berkaitan dengan kejadian nyata, perilaku mejik, serta ketajaman intelektual yang tiba-tiba mencuat. Bahkan kejadian tersebut kadar kwalitasnya layak untuk dijadikan rumus-rumus baru dalam kehidupan. Ada juga segmen pola pikir yang dapat dijadikan dasar hukum, baik sar’i dan haqikoti. Alangkah mubadzirnya jika semua ini tidak terdokumentasikan dengan detail! Memang ada beberapa anggota yang merekam kegiatan jama’ah ini. Tetapi acapkali jadi pertanyaan baru yang tumpang tindih berganti. Seberapa efektifkah kegiatan pendokumentasian dari beberapa anggota baik CD, shooting atau yang lainnya bagi jama’ah? Apalagi untuk disebarkan ke masyarakat luas yang belum mengetahui kegiatan ini.

Kita perlu berfikir ulang dari semua pihak yang terlibat, khususnya  para jama’ahnya. Seri berikutnya yang terpenting setelah menejemen pelaksanaan adalah terbentuknya menejemen pendokumentasian. Agar kesan yang ditimbulkan oleh gerakan besar maiyah bukanlah hanya sekedar aktifitas yang “nguyahi segoro”. Yakni sebuah acara berproses pada datang, mendengarkan, dan akhirnya bubar. Padahal di sisi lain, kadar pemikiran Cak Nun terkadang tidak termuat dalam ruang otak pendengarnya. Nahhh…..alangkah tepatnya jika setiap moment acara ini berlangsung, ada beberapa orang yang merangkum, mengedit, dan kemudian mencetak dalam bentuk tulisan. Yang pada saat senggang dapat dijadikan bahan kajian ulang oleh anggota jama’ah!!

b. Membentuk literasi maiyah

Hasil pendokumentasian tulisan tersebut kemudian dicarikan formula alternatif yang sewaktu-waktu dapat dijadikan acuan jama’ah yang lain untuk bahan telaah. Minimal dibentuk mini meding. Supaya terjangkau bagi jama’ah maiyah yang belum mampu bergerak di dunia internet. Dalam skala besar dibentuk sampai ke tingkat Bloger atau Google.

Litarasi maiyah ini bisa bersifat “out Kontribution” (kontribusi keluar) dan in Kontribution. Kontribusi keluar adalah literatur yang diserap dan di lahirkan maiyah di taruh sejajar dalam literatur luar semisal, toko buku, perpustakaan dan lain-lain untuk menambah kehasanah perbukuan dunia pendidikan. Sedangkan yang dimaskud literasi dalam adalah pemasokan buku-buku karya tulis dari luar maiyah ditaruh sejajar dengan buku  khusus  maiyah.  Buku  yang  dipasok  dari luar berfungsi menambah wawasan yang berhubungan dengan maiyah, dan atau juga bisa sekedar menghantarkan pemahaman ke literatur buku yang dirumuskan  maiyah. Dalam hal ini minimal semua anggota jama’ah maiyah berkomitmen membikin semacam laboratorium pustaka. Lantas bagaimanakah target pembentukan laboraturium ini bisa tercapai ? Solusi yang paling mudah adalah bila setiap  jama’ah  yang  mempunyai  buku,  merelakan menanam  saham  bukunya untuk meletakkan di perpustakaan maiyah.

c. Mewujudkan jama’ah yang progresif

Dari seluruh uraian di atas  dapat kita tarik sebuah pemetaan yang meliputi identifikasi setiap jama’ah yang di tarik berdasarkan garis lajur kadar pendidikan dan kreatifitas personalnya. Maka kita temukan minimal 2 hal. Pertama : ada jama’ah maiyah yang hanya mampu datang dan mendengarkan, kedua: ada juga jama’ah yang mampu berkreatifitas membukukannya dalam tulisan. Pembauran kedua corak jama’ah ini berlangsung terus menerus dalam setiap pertemuan. Peristiwa adhesiv inilah yang akan mewujudkan kekuatan corak dan warna baru dalam literatur maiyah. Dimana jama’ah yang tidak mampu menulis bersedia menceritakan pengalaman hidupnya kepada jama’ah yang mampu menulis. Sebab dimungkinkan pengalaman jama’ah yang tidak bisa menulis mempunyai wawasan ilmu dahsyat dibanding yang mampu menulis. Proses inilah yang akan melahirkan bentuk hegemoni baru dalam sejarah penulisan. Dimana sebuah karya diangkat dengan bahan dasar riset yang detail dari pori-pori file otak masyarakat. Libih obyektif empiris dari pada buku yang dilahirkan atas penulis individu.

Jama’ah maiyah ini adalah gerakan besar, tentu idealnya para penulis jama’ahnya harus menghasilkan karya yang berbobot, dan tidak sekedar buku pinggiran jalan. Untuk mewujudkan jama’ah maiyah yang progresif bukanlah hal yang sulit. Asalkan antar anggota jama’ahnya bersama-sama bergandengan tangan untuk satu tekat, yakni meninggalkan suatu tanda bahwa pernah adanya tampilan sejarah pada anak cucu negara ini kelak.

Para penulis jama’ah inilah yang kita ibaratkan ujung mata tombak. Mereka adalah personal yang bersifat lancip dan mengerucut yang kemudian berakhir di ujung. Mengapa demikian? Karena kreatifitas dan kecermatan merekalah yang mempunyai nilai lebih dalam sebuah gerakan. Tentu para penulis inilah yang akan mampu menjelaskan duduk persoalan secara jelas tentang apa dan bagaimana maiyah bergerak kedelapan penjuru mata angin di berbagai lini sektor kehidupan.

Tulisan ini merupakan makalah hasil Workshop Penulisan
Dipresentasikan di serambi pengajian Padhang Mbulan tanggal 2 Nopember 2009

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/yl9b28o

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Comments

  1. Matuhan  on 18 November 2009

    Sahabat Ali bin Abi Thalib: “Agar hewan buruanmu (ilmu) tak lepas ikatlah dg tali (dukumentasi, CD, buku dll)”. Sbb bakasane CN ga gamoh. Salam & salut pd cak suparno & konco2 ma’iyah

    Reply

  2. Sang Nananging Jagad  on 18 November 2009

    100% saya sangat sepakat dengan gagasan cak Sabrang Suparno.
    Sayapun meski dengan segala keterbatasan juga tengah berusaha menuliskan kembali butiran hikmah yang senantiasa tercurah dalam forum Kenduri Cinta.
    Beberapa catatan saya dapat dipreksani di http://sangnanang.dagdigdug.com

    salam kenal mawon,

    Reply

Leave a Reply