Pesan Perdamaian KiaiKanjeng PDF Print E-mail
Ditulis oleh Toto Rahardjo | Selasa, 06 Januari 2009 20:16 di Info | Berita

Windesheim - Cak Nun dan Noe Letto mengajari Caglayan Bilgil (mahasiswa keturunan Turki) memainkan gamelan.Di kota (Amstelveen, Deventer, Nijmegen, Leeuwarden, Stenden, Zwolle, Windesheim, Zwolle, Rotterdam, Etten-Leur, Amsterdam) Belanda, KiaiKanjeng bertemu dengan berbagai komunitas ( Merkez Moskee, Al-Hikmah Moskee, Al Kabir Moskee, Cristus Triumfatorkerk, Julianakerk, Jeruzalem kerk, Gerardus Majella kerk, Sinagoge Zwolle, Stenden Hogeschool, Christelijke Hogeschool, dan lain-lain).

Kesan Pdt. Aart Verburg (Protestante Kerk in Nederland) yang mengundang Emha dan KiaiKanjeng di Belanda: "Terus terang saja setelah film Fitna yang diproduksi oleh Geert Wilders ditayangkan, ada semacam ketegangan antara kaum Nasrani dan Muslim di Belanda, ada semacam komunikasi yang kurang bagus. Bagi kami yang penting Gereja Protestan Belanda merasa mempunyai tugas di tengah masyarakat untuk menciptakan hubungan baik, sehingga masyarakat itu tidak terpecah belah. Dengan melalui budaya orang juga bisa menciptakan ketegangan, menyalahkan orang lain dan menciptakan kegelisahan. Sekarang untuk mempertemukan kembali dan menciptakan suasana yang lebih bagus lagi, kita juga masuk melalui pintu budaya, dan Emha beserta Kiaikanjeng dengan musiknya, dengan keunikannya justru berhasil menciptakan suatu pertemuan yang sangat unik".

Pdt. Aart melanjutkan ceritanya, bahwa di kota Den Hag pemerintah Belanda sekarang ini tengah sibuk memperhatikan persoalan-persoalan keragaman yang bersumber dari berbagai kelompok antar golongan (orang Turki, Maroko, Belanda, Suriname dan lain-lain), di wilayah-wilayah yang bermasalah -- Gereja juga hadir di sana bekerjasama dengan orang yang berusaha untuk menciptakan suasana damai diantara semua golongan itu dan juga antara orang yang agama berbeda.

Di Den Hag Emha dan KiaiKajeng, banyak orang diundang, awal-awal yang mendaftar sangat sedikit, tetapi waktu hari H datang ratusan orang, penuh. Ketika KiaiKanjeng mulai tampil, banyak orang mengeluarkan HP-nya, mereka kirim SMS, "sekarang juga kamu harus datang, ini peristiwa bagus, jangan dilewatkan...." Ternyata ada satu meja dengan orang-orang Turki, ada satu meja dengan bapak-bapak orang Maroko, ada ibu-ibu yang bahasa Jawanya sangat dalam, tetapi berasal dari Suriname. Ada orang dari GKIN, Gereja Indonesia yang ada di Belanda, juga ada orang dari pemerintah kota. Bermacam-macam. Seorang Turki bilang sama saya, "Pak selama ini memang sudah banyak acara kebudayaan, tetapi acara ini lebih dalam, jauh lebih dalam dari yang sebelum-sebelumnya, karena di sini juga ada sentuh agama, ada unsur agama yang menyentuh hati". Mereka terharu. Ada doanya, ada musik macam-macam, dan mereka betul-merasa sekarang kita diakui sebagai orang yang utuh, merasa dipersatukan dan mengalami suatu suasana yang sangat membantu perkembangan dikemudian hari.

Dalam kesempatan ini Emha juga memaparkan pengalamannya di Den Hag. Menurutnya, informasi asal-muasal berbagai komunitas yang datang justru setelah di panggung. Ada yang dari Irak, dari Iran, Maroko, Turki, Pakistan, bahkan ada satu dua dari India dan Bangladesh, dan tentu saja ada orang dari Belanda.

Tujuan utama Emha dan KiaiKanjeng adalah memanusiakan mereka. Mengakui keberadaan mereka, karena mereka juga sangat senang diakui. Bagaimana cara mengakui adalah dengan dialog dan bertanya. Kalau kita berdialog dengan orang Irak, maka harus ada satu kalimat yang menyentuh hati mereka mengenai Irak. Kalau ngomong kepada orang Suriname, maka harus bangkitkan nostalgia yang juga menyentuh hati mereka. Jadi setiap komunitas disapa dengan hal-hal yang sebenarnya menyentuh hati mereka. Musik harus di aransir, diciptakan khusus untuk keperluan-keperluan itu. Jadi kalau kita mau main musik untuk orang Turki kita harus perhitungkan apa yang kira-kira orang Turki tersentuh hatinya. Maka KiaiKanjeng harus siap dengan semua aransemen, dari lagu-lagu Belanda lama, lagu-lagu Belanda Baru. Bahkan orang-orang Turki meminta kami mengaji, minta baca Qur'an, minta sholawatan.

Kata Cak Nun; "malam itu mereka mendengar segala sesuatu yang secara resmi belum pernah mendengar, tetapi secara batin, sebenarnya mereka sudah mengenal itu di dalam hati mereka, 'so they find them self' mereka menemukan diri mereka sendiri. Sehingga acara bertahan sampai jam 10 malam". Dari jam 6 dengan break makan setengah jam, mereka bertahan, untuk di Belanda anda tidak bisa melewati acara lebih dari satu setengah jam atau dua jam. Malam itu bahkan mereka bisa bertahan sampai jam 10 jam lebih. Dan jumlah ratusan orang, itu anda jangan bandingkan dengan di Indonesia. Cak Nun menimpali lebih lanjut; "Kalau di Indonesia kita bisa 35 ribu orang dalam pengajian saya. Karena kita kan memang over produksi manusia".