PKS Jadilah Kertasnya Allah PDF Print E-mail
Ditulis oleh HM / Progress | Jumat, 21 November 2008 23:54 di Info | Berita

PKS Jadilah Kertasnya Allah Dipimpin ketua umumnya, Ahmad Sumiyanto, malam itu, 26 Februari 2008, sejumlah pengurus DPW PKS Yogyakarta bersilaturahmi ke rumah Cak Nun. Mengawali kulo nuwun-nya, Ahmad Sumiyanto menyatakan bahwa Islam yang dibawa Cak Nun ini terasa ringan, sementara yang dibawa PKS terasa berat. Para pengurus PKS Jogja ini kemudian meminta wejangan Cak Nun tetang apa-apa yang sebaiknya dilakukan PKS di tengah persoalan bangsa dan kehidupan keagamaan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta.

Merespon pernyataan itu, Cak Nun menyatakan, "PKS sekarang sedang berada dalam posisi punya presisi mana yang sebaiknya dimaterikan, mana yang sebaiknya digerakkan sebagai energi, dan mana yang mesti frekuensi. Kalau overmateri, bisa-bisa PKS diarani (dibilang) ini itu. Apalagi sekarang Islam sedang dikuyo-kuyo (disalah pahami dan dirusak citranya-red.). Saat ini adalah puncak kebodohan. Tetapi, Allah akan segera mengumumkan Islam. PKS jadilah kertasnya Allah. PKS jadilah mangsi (tinta)-nya Allah...."

Melengkapi uraian itu, Cak Nun menjelaskan tiga sifat yang menjadi gejala alam dan peradaban yaitu materi, energi, dan frekuensi. (Baca berita Jangan Madzhabkan Cinta). Ayahnya Noe Letto ini juga menceritakan kepada para pengurus PKS Jogja ini bahwa dirinya sedang menularkan wacana tentang Indonesia. "Saya curiga Indoensia akan jadi khalifah atau pemimpin dunia. Saya rasa PKS ada di ambang itu," kata Cak Nun.

Pernyataan itu pun didasarkan pada asumsi yang saat ini sedang getol diwacanakan olehnya bahwa orang Jawa itu luar biasa tangguh. Jawa yang dimaksud bukanlah Jawa geografis seperti saat ini, melainkan Jawa besar yang pernah melahirkan Majapahit, bahkan lebih jauh lagi, ketika dulu gunung Krakatau belum meletus. Ketika Indonesia masih satu jazirah dengan Arab. Bahkan Cak Nun sedang curiga bahwa nenek moyang orang Jawa itu lebih tua dibanding Nabi Ibrahim yang dari dua putranya melahirkan bangsa Arab (lewat Ismail) dan Israel (lewat Ishaq).

Cak Nun mengajak PKS untuk mengembalikan kejayaan kita dulu. "Kenapa mesti ikut Barat, Arab, Iran, dan lain-lain. Terjemahkan ketangguhan Jawa itu ke dalam gerak sejarah." Ketika salah seorang pengurus PKS itu meminta saran dari Cak Nun soal RUU Keistimewaan Jogja, Cak Nun menyatakan asal "ayatnya" atau argumentasinya benar dan kuat, mendukung keistimewaan Yogya juga tidak masalah. Cak Nun juga menyatakan, "PKS harus mencari posisi yang tepat menghormati keraton-keraton yang ada di Indonesia."

Pertemuan di ruang kerja Progress Manajemen dan berlangsung sekitar dua jam itu sangat akrab, penuh kekeluargaan, dan ukhuwah, lebih-lebih hidangan yang disajikan adalah jajanan khas Jawa: klepon, onde-onde, dan getuk. Apalagi Cak Nun juga menyelinginya dengan menceritakan pengalaman hidupnya yang sarat humor, unik, dan menyentuh hati.[]