HTI Jogja Ikutlah Ciptakan Atmosfer Qudratullah PDF Print E-mail
Ditulis oleh HM / Progress | Jumat, 21 November 2008 23:59 di Info | Berita

Sore itu, 14 April 2008, di kediamannya, Cak Nun menerima kunjungan pengurus Hizbut Tahrir Jogja. Pengurus HTI Jogja yang beberapa bulan lalu sempat hadir di Pengajian Mocopat Syafaat ini bermaksud ngangsu kawruh kepada Cak Nun sebagai sosok yang mereka pandang sudah berpengalaman dalam berdakwah atau memperjuangkan Islam. Namun, Cak Nun yang saat itu didampingi Mas Toto Raharjo, seorang aktivis sosial, segera menukas penuh rendah hati, "Tidak benar saya berpengalaman. Tua iya, tetapi berpengalaman tidak. Pengalaman bisa sama, tetapi persepsi bisa beda".

Dengan sangat senang Cak Nun memberikan sejumlah pandangannya tentang situasi Islam saat ini yang menurutnya perlu dicermati betul oleh terutama sekali organisasi seperti HTI. "Dalam politik dan kebudayaan muncul stigma yang sangat sulit, yaitu bahwa Islam itu musuhnya demokrasi. Ini berlaku secara internasional. Kita sering menjadi pelanduk stigma itu. Kalau tidak demokrasi, ya Islam. Atau sebaliknya. Padahal demokrasi itu bagian kecil saja dari demokrasi, kadang-kadang diperlukan, kadang-kadang tidak. Demokrasi dibutuhkan pada proporsi tertentu. Nah, saya tidak mau menjadi korban stigma itu. Saya cairkan semuanya ke dasar-dasar nilai semula...," urai Cak Nun.

Lebih jauh Cak Nun mengajak HTI untuk melakukan langkah-langkah dengan memperhitungkan stigma tersebut. "Bisa saja lho orang Islam itu benci Islam. Kalau mereka disuruh milih, banyak yang pilih demokrasi, karena stigma itu mengandung fasilitas, maintenance...." Juga Cak Nun mengingatkan agar HTI mengerti persis beda antara wasilah (metode/strategi) dan ghayah (tujuan). "Sekarang ini antara wasilah dan ghayah, kalau tidak terbalik yang kecampur-campur. Nah HTI yang punya ghirrah Islam yang benar harus pinter-pinter. Saya ingin, sebagai orang luar HTI, HTI tidak kelihatan gampang nesuan (gampang marah). Mukmin adalah apabila orang lain merasa aman di sisi Anda. Kalau sudah merasa aman, akan lebih mudah...," pesan Cak Nun.

Cak Nun juga mengungkapkan keprihatinannya bahwa di tingkat elit, organisasi-organisasi Islam belum tentu bisa 100% menghindari habitat politik, sementara di level bawah bertemu dengan organisasi-organisasi Islam lainnya yang tidak mustahil melahirkan social crash. Padahal, kata Cak Nun, itu semua sama-sama orang Islam. "Kenapa tidak ada konstruksi sosial yang memungkinkan adanya solusi," tanya Cak Nun.

Berbicara tentang strategi, Cak Nun pun menyampaikan sejumlah usulan. Pertama, HTI harus menentukan mau nafas pendek atau nafas panjang. Maksudnya, menetapkan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang. Setiap jangka mengandung jangka lainnya alias bersifat dialektis. "Yang harus Anda sadari adalah apa kelebihan atau keistimewaan Anda dibanding saya," tegas Cak Nun.

Kedua, HTI Jogja bisa melontarkan wacana-wacana yang lain sama sekali dari wacana yang selama ini identik sebagai wacana HTI. Apakah itu pada level kultural maupun lainnya. Selain itu, saran Cak Nun, HTI juga bisa melakukan pengkayaan segmentasi. Yang terakhir, dan ini yang penting, sebaiknya HTI memperluas wacana khilafah (maknanya, aplikasinya, dan cakupannya). "Itu semua dilakukan supaya kita juga ikut me-recovery "syariat" yang selama ini telah menjadi phobia bagi banyak pihak serta agar khilafah terasa akrab,” kata Cak Nun. Usai menjelaskan itu semua, Cak Nun menggarisbawahi dan berharap agar HTI bisa menjadi salah satu pekerja perubahan internasional dan membantu penciptaan atmosfer qudratullah. []