Doa Renungan

Posted by Emha Ainun Nadjib25 November 2009 in Kolom Emha | 13 Comments

Wahai Tuhan maha pemilik segala kepastian
Wahai Tuhan maha penampung segala kemungkinan
Engkau himpun kami semua di ruangan ini
Untuk mengupacarai keindahanMu
Kami menempuh jalan yang berbeda-beda
Namun ujung perjalanan kami semua adalah rumahMu
Hidup kami belum baik, dan jauh benar
Tak ada di antara kami yang alim atau saleh
Tapi kami semua adalah pecinta keindahanMu

Wahai Tuhan Maha Perupa
Yang menggambar jagat raya
Mozaik estetika yang tak terkejar
Oleh imajinasi hambaMu yang hina
Yang menghamparkan alam semesta
Dengan detail keindahan
Yang hampir seluruhnya tak kasat mata manusia
Yang menorehkan padanya milyaran hologram
Yang bernama ummat manusia

Wahai Tuhan alMushawwir
Maha Perupa Agung
Yang wajahMu tak terlukiskan
Oleh jari-jari kerdil kebudayaan
Yang keindahanMu tak tersentuh oleh mimpi
Yang cahayaMu menjilat gairah kami
Sampai jiwa tenggelam dan kami sirna diri
Menjelma jadi patung-patung berjalan
Mencari roh yang dulu Kau tiupkan

Wahai Tuhan maha wajah yang tak terlukiskan
Wahai Tuhan sosok agung yang tak tergambarkan
Inilah karya-karya kami
Replikasi amat sederhana
Dari wujudMu sendiri
Inilah titik, garis, warna dan nuansa
Yang meniru kelebatan keindahanMu sendiri
Mohon terimalah di pangkuanMu
Sentuhlah dengan magi ujung jariMu

Wahai Tuhan yang maha berdiri sendiri
Wahai Tuhan yang mandiri sejati
Titik-titik ini berasal dariMu sendiri
Garis-garis ini pasti torehanMu sendiri
Warna-warna ini niscaya milikMu sendiri
Dan nuansa ini tak lain adalah ekpressi cintaMu sendiri
Adanya semua kami, hanya karena Engkau cintai
Maka terimalah karya-karya ini
Sebagai ungkapan sujud sembahyang kami

Wahai Tuhan maha pecinta
Yang mempersilangkan ada dengan tiada
Yang memperjodohkan waktu dengan ruangnya
Yang menghimpun kembali seluruh cinta
Nun di luar sana megah berdiri
Gedung-gedung politik dan teknologi
Yang dari jasad dan kuasaMu mereka juga mereplikasi
Menjadi cangkul, roda, logika Boolean dan Fuzzy
Belajar meniruMu sebagaimana kami
Politik mereplikasi kekuatan dan kekuasaanMu
Teknologi mengimitasi kebesaran dan kegagahanMu
Industri menerapkan keluasan dan ekspansiMu
Nuansa dan kelembutan tak tersentuh oleh tangan mereka
Cinta dan kerinduan tak tersentuh oleh fikiran mereka
Sedih dan bahagia tidak kompatibel dengan sistem mereka
Sehingga karya-karya kami sesungguhnya dianggap tak ada
Kecuali diletakkan di pinggiran pasar konglomerasi mereka
Sebagai aksesori marjinal dan sekedar pelengkap penderita

Wahai Tuhan yang menciptakan manusia
Sebagai masterpiece di antara makhluk-makhluk lainnya
Tidak ada karya kecuali sesudah Engkau pinjamkan
Tangan keterampilan dan mripat keajaiban
Maka seluruh karya ini adalah karyaMu sendiri
Dicerahkan oleh elektromagnetik ilham ke ubun-ubun kami
Engkau payungi dengan kasih sayangMu
Engkau utus ribuan bahkan jutaan pecinta
Berduyun-duyun mengunjungi dan membeli
Dengan dana yang Engkau taburkan
Dari bank-bank langitMu sendiri
Dengan bekal penghormatan dan apresiasi
Yang Engkau hembuskan dari bilik rahasiaMu yang suci
Sebab Engkaulah maha perajut cinta
Maha penyambung garis-garis estetika
Yang menggambar gelombang dan melukis frekwensi
Yang meskipun Engkau sembunyikan di dalam atau di luar bingkai
Namun aransemen cintaMu berdendang di kandungan setiap hati

Wahai Tuhan yang maha perupa
Engkaulah tamu utama pengunjung karya-karya kami
Para malaikat dan auliya bertebaran mengawalMu
Terimalah ucapan selamat datang kami semua
Ahlan wasahlan bihudlurikum jami’a
Mohon pantulkanlah cahaya keindahanMu
Menabur dan memenuhi ruangan dan setiap karya kami
Tutupilah aib dan kekurangan kami dengan kearifanMu
Tabirilah kekurangan dan kelemahan kami dengan siasatMu

Wahai Tuhan yang maha mendirikan dan menyangga
Tegaknya tiang kasih sayang dan bendera cinta
Kami semua tidak pernah sungguh-sungguh paham dunia
Dan dari hari ke hari semakin tidak mengerti apa-apa
Namun ada yang kami pastikan dan tekadi
Ialah takkan pergi dari wilayah indahnya cintaMu
Dunia kami persempit hanya dalam titik, garis dan warna
Karena kami tahu Engkau yang maha besar
Sesungguhnya lebih lembut dari yang paling lembut

Yogya, 25 Nopember 2009

Untuk acara pembukaan pameran besar Seni Visual Indonesia EXPOSIGNS 25 tahun ISI Yogyakarta di JEC tanggal 25 November 2009

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/yfzw4h5

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

13 Comments

  1. Matuhan  on 26 November 2009

    Rabbana ma khalaqta hadza bathila ^Subhanaka faqina adzaa bannar ( Ya Tuhan kami, tdklah Engkau ciptkan ini dg sia-2; Maha Suci Engkau maka hindarkan kami dr siksa api neraka)

    Reply

  2. qeila  on 26 November 2009

    amin

    Reply

  3. iman  on 28 November 2009

    jujur saya baru pertama kalinya berkesempatan mendengarkan doa caknun, dan ternyata sangat indah. Ketika itu benar-benar mampu mengalihkan perhatian saya diantara riuhnya para teman & kawan di acara itu. Sangat nyata, universal, apa adanya, dan kaya estetika …Subhanalloh …

    Reply

  4. lizamul widad  on 2 December 2009

    Cak Nun, Fuzzy logic dan Boolean logic niku pripun? maturnuwun

    Reply

  5. Mundhori  on 7 December 2009

    Doa kegiatan batiniah dalam dialog dengan Tuhannya. Performen doa berisi permintaan untuk dirinya, untuk orang lain dengan kondisi tahu diri, pasrah, lemah lahir batin. Namun aktifitasitu berekspresi dinamis, berani, tdk ada rasa malu tetapi tetap memiliki andalam, daya tawar, yaitu ketaqwaan padaNya. Sementara renungan merupakan diam dalam kesalahan, penyesalan, dan ada unsure niat bakal kembali berbuat setelah mendapatkan wahyu. Renungan bersifat fasif, tetap memiliki spirit utuk kembali. Antara doa dan renungan tetap ada kesamaan, yaitu kosong hati, kosong ruang, untuk memberikan kesempatan solusinya..Namun saya bingung cak Nun, dimana meletakkan pemicu untuk suksesnya

    Reply

  6. heru  on 9 December 2009

    indah sekali do’a ini cak nun, dari sembilan baris pertama saja bikin ndredeg, sepurane cak nun, do’a nya tak copy dan tak paste kemana mana wis !

    Reply

  7. nunik  on 19 December 2009

    setelah selesai membacanya, baik hati maupun lisan saya langsung mengamininya.

    amin ya Rabb…

    doa yang indah untuk Yang Maha Indah

    saya masih menunggu karya-karya Cak Nun selanjutnya

    semoga akan, selalu dan tetap ada…

    Reply

  8. seno  on 23 December 2009

    cak….

    saya mencari…ridho dan jalan NYA ..yang akan memberi penerangan selamanya…

    Reply

  9. syaiful  on 23 December 2009

    indah sekali ,to mas emha tolong dong kirimi video tombo ati yang dulu aku udah cari kemana mana ga ada

    Reply

  10. Preman_Cakung  on 27 December 2009

    Terlalu tinggi untuk ane jamah, ah….pasti karena hidup ane terlalu kotor untuk mengerti esensi dari doa renungan yang ente buat cak…..

    Reply

  11. yadi  on 8 January 2010

    Dear Cak Nun,
    Saya bukan seorang muslim tapi saya kagum pada orang yang bertasawuf…ajarilah saya bagaimana menumbuhkan kekaguman dan kecintaan pada yang Illahi….
    Saya tak berniat untuk menjadi seorang muslim, karena saya percaya sungai yang sejati semuanya pastilah bermuara di laut.
    Saya hanya ingin menjadi salah satu alat gamelan seperti pada musik Kyai Kanjeng anda untuk bersama2 dengan alat gamelan lainnya memainkan nada sehingga tercipta satu harmoni yang indah demi untuk memuji dan memulyakan Tuhan.

    Reply

  12. wiwit mingratwaty  on 15 January 2010

    Jadi air
    Jadi Mata
    Ke cintaNYA bermuara

    Reply

  13. Muhamad Adam  on 2 February 2010

    Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
    Pertama, izinkan aku men-copi-paste tulisan-tulisanmu wahai Sang Cahaya Agama. Kedua, Setelah Kepada Baginda Rosul, Khulafaurrasyidin, Tuan Syeik Abdul Kadir Jailani, dan para Habib Allah maka aku berharap berkahmu sebagai Waliullah, agar sampai kepada cita-cita besarku: Menjadi penulis sepertimu.

    Reply

Leave a Reply