Gerakan Majnun Internasional

Posted by Emha Ainun Nadjib6 October 2009 in Kolom Emha | 12 Comments

Kita catat dulu catatan para penjajah internasional jenis mutakhir: “Kita adalah kekuatan yang invisible. Organisasi, institusi dan individu-individu di Negara-negara jajahan kita bikin secara tidak sadar bekerja untuk kepentingan kita. Tujuan kita yang sebenarnya tidak boleh diketahui oleh mereka, dengan membikin mereka justru merasa melawan kita, padahal sedang menjalankan disain-disain kita”.

“Aktor-aktor yang menjalankan program internasional kita bukan orang-orang kita, melainkan tokoh dan aktivis masyarakat negara jajahan, seluruh agen polisi internasional, bankers, industrialis, ekonom, politisi, termasuk public figure, pemimpin-pemimpin informal. Mereka sangat penting karena mereka menjalankan sekaligus melindungi kita, sambil meyakini bahwa mereka sedang melawan kita”.

“Kita dorong semangat dan egoisme mereka dan kebutuhan mereka untuk sukses. Padahal mereka tak lebih bagaikan macan dengan jiwa domba karena mereka tidak punya visi tentang kemauan kita sebenarnya. Siapa yang akan menyangka bahwa orang-orang terkenal ini sebenarnya kita yang mengatur naik ke panggung, sesuai rencana besar kita”.

Tidak mungkin itu semua kita urai dalam tulisan pendek. Jadi kalau berminat, jadikan PR saja, pelan-pelan dipelajari sambil nanya sana sini. Selebihnya, berikut ini saya sedikit menambahi sketsa-sketsa.

*****

Flu atau pilek itu ‘icon’ nya hidung. Gambar orang flu berpusat pada hidung, umbel dan sapu tangan, ditambah gebres-gebres, demam dan awak ndhrudhuk.

Tetapi apakah flu berpusat di hidung? Tidak. Hidung tidak ikut flu, yang flu adalah kondisi menyeluruh dari tubuh, hidung menanggung akibatnya dan paling tersiksa. Jadi kalau menyembuhkan flu, bukan hidung fokus perhatian metoda kuratifnya.

Demikian juga kalau Anda melihat dan menilai soal narkoba, bukanlah narkoba pusat masalahnya. Narkoba “hanya” batalyon-batalyon tentara penjajah internasional yang disebar ke seluruh pelosok bumi. Batalyon pasukan neo-kolonialisme mondial lainnya dikirim menyerbu pasar ekonomi, info media, universitas dan sekolah, lembaga pemerintahan dan perwakilan rakyat dan semua lini kepengurusan sejarah suatu bangsa, termasuk menjadi rayap-rayap dalam berbagai konsep, ideologi dan aturan-aturan hukum dan birokrasi.

Ada juga pasukan “lelembut” dikirim ke dalam otak kepala manusia, ke dalam hatinya, memasukkan, mendesakkan dan mendominasikan virus-virus cara berpikir, irama selera, trend, sikap budaya, kecenderungan sosial dan apapun saja “software” kehidupan manusia. Batalyon pasukan lelembut ini dengan sendirinya terbawa sampai ke bilik-bilik pribadi, masuk rumah-rumah ibadah, bahkan mempengaruhi cara manusia memperlakukan Tuhan, Malaikat, Nabi dan Kitab Suci. Tiba-tiba saja pada suatu hari ketahuan bahwa kita yang yakin bahwa kita ini pandai dan saleh, ternyata kita adalah prajurit bantuan yang ikut melaksanakan tugas Gerakan Majnun Internasional.

*****

Dari zaman ke zaman dulu ummat manusia dijajah oleh mithologi tentang aristokrasi Raja-Raja. Kemudian dijajah oleh serbuan tentara dari mancanegara. Berikutnya dijajah melalui ekonomi dan pasar. Lantas dijajah melalui pikiran dan perasaan. Dan sekarang semua formula imperialisme dan kolonialisme itu dipakai kapan saja dan mana saja yang relevan dan effektif.

Irak harus diserbu pasukan gabungan dengan terlebih dulu dicarikan “ayat”nya agar sah menyerbu. Sedang dipikir-pikir 2008-2015 Iran harus menjadi fokus serangan, sementara harus dipastikan Kaum Muslimin harus terpecah belah di seluruh dunia, dan cara memecah mereka adalah dengan memasukkan virus-virus cara berpikir, cara memandang sesuatu, cara melihat dan merasakan.

Indonesia tidak perlu diserbu dengan tentara dan bedil bom bayonet. Orang Indonesia gumunan, latah dan gampang dibikin mabuk: jadi cukup diserbu dengan iming-iming di segala bidang. Segala yang memabukkan dimasukkan ke Indonesia. Orang Indonesia begitu mudah mabuk demokrasi sementara Amerika Serikat sendiri tak segitu-segitu amat menyikapi demokrasi. Demokrasi, HAM, psikisme gender, otonomi daerah, teknologi komunikasi dan informasi, Neo-Liberalisme, dan segala macam partikel yang menggiurkan: diuntal mentah-mentah oleh orang Indonesia, tanpa reserve. Sesungguhnya demokrasi dst itu adalah perangkat pengelolaan sejarah yang baik jika manusia memahami dosisnya, batasnya, konteksnya, takarannya, koridor wilayahnya, ruang dan waktunya. Tetapi kita malas berpikir, pokoknya ambil dan telan!

*****

Jangankan narkoba: air sajapun memabukkan kalau sekali minum setengah drum. Nasi, rujak cingur, rawon, pecel, semua memabukkan jika tidak dikontekstualisir secara ruang dan waktu. Mungkin itu sebabnya Tuhan suruh kita sholat lima waktu yang keseluruhannya hanya butuh waktu sekitar setengah jam. Kita pasti mabuk kalau Tuhan kasih metoda sholat yang satu kali sholat butuh 3 jam, sehingga 5x sehari jumlah waktunya menjadi 15 jam. So sholat sajapun memabukkan dan berakibat negatif kalau tidak tepat satuan ruang dan waktunya.

Maka narkoba itu 10x lipat setan iblis efektivitasnya untuk memajnunkan manusia. Narkoba itu melebihi neraka, dan pemakai narkoba adalah manusia terbodoh tiada tara. Di dalam neraka saja orang kesakitan tersiksa tetapi memiliki kemuliaan karena sedang menjalani hukuman alias pembersihan. Orang bersalah yang dihukum itu harus bangga karena memang demikianlah yang benar. Salah + tidak dihukum = Salah kwadrat. Salah + dihukum = Benar. Orang yang dipenjarakan dan dimasukkan neraka berarti menjalankan kebenaran.

Akan tetapi sejahat-jahat dan sebodoh-bodoh pemakai narkoba masih jauh lebih bodoh dan lebih jahat para inisiator dan penyebar narkoba. Narkoba adalah senjata paling ampuh dibanding segala rudal dan bom jenis mutakhir. Kalau Negara adikuasa menjatuhkan bom di Surabaya maka sepanjang hidup Negara pengebom itu dikutuk oleh sejarah. Tetapi kalau narkoba yang membunuh satu atau dua generasi muda Indonesia yang jumlahnya melebihi penduduk Surabaya: tak ada yang dikutuk selain narkoba itu sendiri. Narkobanya dibajingan-bajingankan, tapi pelaku di belakangnya bisa justru menjadi public figure, tokoh panutan, duta keselamatan masyarakat atau apapun.

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/yeyrsmj

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

12 Comments

  1. Bambang S  on 8 October 2009

    Masya Allah. Kayanknya kita orang (khususnya muslimin) Indonesia sedang mabuk dan tidak sadar akan siapa diri kita, apa yang melingkupi kita. Dan bayangan di depan kita menipu. Ya allah. Moga2 ada banyak lahir pencerahan untuk menyelamatkan kita.

    Reply

  2. Mundhori  on 19 October 2009

    Asal persepsi kita sadar atas scenario majenun internasional itu, strategi mereka, visi misi dan target mereka. Asalkan kita paham atas amunisi dan spionase mereka, bukan merupakan ancaman bagi kita. Walau kita itu tidak termasuk rakyat umum, tapi sebagian kecil yg punya kesadaran atas tanggung jawab bangsa. Karena scenario yg telah kita kuasai dalam kesadaran, merupakan tameng, pusat kendali untuk memainkan trup jitu. Menyusun siasat, jebakan, barikade atau apapun upaya, dalam antisipasi bahaya majenun internasional itu. Mumpung punya kesadaran atas tradisi, kultur nasional, agama, social gotong royong, rakyat yg liat penuh pengalaman, mari kita picu sebagai virus untuk menggerakan kita semua, sebagai anti penjajahan internasional yg berdemensi imperialis capitalisme itu.

    Reply

  3. Kang Warsa  on 28 October 2009

    Konspirasi…sepertinya masih menjadi warna hidup di dunia ini. Saya pikir tak akan berakhir!

    Reply

  4. rojes fauzy majnun  on 29 October 2009

    alhamdulillahastagfirlah.orang majenun baca perihal kemajenunan manusia yang ditulis orang yang super majenun.kalo satu saja orang majenun hos tampil kehadapan dunia, sudah saatnya kiamat segera tiba.orang majenun akan memberesi segala sesuatunya sesuai skenario yang dimajenuni.

    Reply

  5. Ega  on 29 October 2009

    Iyo cak, ngapusi untuk kebaikan iku insyaALLAH ga popo!

    Reply

  6. Ginung  on 3 November 2009

    itu semua berangkat dari dunia pendidikan, lha wong pimpinan guru saja banyak yang ndak mudeng sedang ngoceh apa di depan para guru, produk siapa yang diocehkan, apa nanti dampaknya bagi yang digurui ,guru tinggal manut “atur pangandikan” sang majikan. Alhasil “out put” nya ya “gampang di tekak- tekuk”.

    Reply

  7. afif  on 10 November 2009

    begitu rendahnya cara berpikir kita dalam memaknai kehidupan..semoga Allah selalu
    membinbing kita dalam keteraturan ruang dan waktunya, sehingga kit bisa menempa diri dalam keutuhan perenungan yang sempurna…amien..

    Reply

    • m.izzudin  on 19 November 2009

      tunggu kehancuran dunia, baru rampung itu masalah konspirasi. wong semuanya memiliki kepentingan masing2…waspadalah….waspadalah..

      Reply

  8. Matuhan  on 19 November 2009

    Untk kselamtan generasi dr gerakn majnun kita masukjadikan buku2 CN sbg kurikulum & mata pelajaran di sekolah2. Apa p’ guru & CN setuju…?(pikiranku: opo yo iso!)

    Reply

  9. hayyun  on 7 December 2009

    sayangnya, kita gag pernah mikir sampe sana. Jadi perlu ancaman-ancaman baru atau peringatan, agar kita segera sadar diri kita

    Reply

  10. taufiq qurohman  on 28 December 2009

    kita ini sdh dijajah 350 th, merdeka sebentar trus dijajah lg dg modernisasi, manipulasi, korupsi…..tapi bangsa kita ini kok nggak sadar2 ya…sampai kapan ya…mudah2an Allah melindungi kita dari api neraka.

    Reply

  11. Abu Dekha  on 1 February 2010

    Duh Gusti Nyuwun ngapuro..
    aku kangen MAIYAH.. akeh pitutur becik neng kono

    Reply

Leave a Reply