Sudah terpecah dan terkeping sampai seberapa PKB, juga NU? Tidak. Kita ambil perspektif lain. Itu bukan bentrok, bukan perpecahan. Itu romantisme demokrasi. Itu dinamika ijtihad (perjuangan pemikiran). Itu produk wajar dari tradisi berpikir merdeka: salah satu prinsip yang membuat manusia bernama manusia.
Sebagaimana kalau jumlah pemeluk Islam ada sejuta, maka dimungkinkan ada sejuta aliran, dipersilahkan setiap orang memberlakukan tafsirnya masing-masing, dan satu-satunya yang berhak menagih pertanggung-jawaban adalah Tuhan. Silahkan ada golongan NU, Muhammadiyah, Persis, Persis NU, Persis Muhammadiyah, Muhammad NU, Sunni, Syiah, Sun’ah, Syinni, PKNU, Langitan, Bumian, Lautan, Gunungan, PKB Alwiyah, PKB Wahidiyah, PKB Muhaiminiyah, PKB Yenniyah… semakin banyak semakin demokratis dan menghibur.
Tapi omong-omong sebenarnya PKB adalah satu-satunya parpol yang konstituennya paling berakar. Mungkin tidak tepat benar metaphor berikut ini: tapi ibarat hutan dan taman: PKB adalah upaya membangun hutan menjadi taman. Taman PKB berbasis di hutan yang melahirkan PKB, dengan akar dan sifat hutan yang masih kental. Golkar misalnya, adalah sebuah taman modern yang professional, sejumlah pohon diambil dari hutan dan tetap mendayagunakan kimia tanah hutan — tetapi ia sebuah taman teknokratis yang tidak memprimerkan hutan.
Semua, PDIP, PPP, PKS, PAN, PD atau PBB, juga tidak steril hutan, tetapi PKB yang paling jelas berakar di hutan. Asal muasal sosio-kulturalnya, dialektika historisnya, masih menampakkan kekentalan perhubungan antara tamannya dengan hutannya. Sebagaimana PAN, PKS, PPP dan PBB “gagal” mewujudkan jargonnya Cak Nurkhalis Madjid “Islam Yes, Partai Islam No” – PKB-lah yang paling kental setting budaya santrinya. ‘Partai Islam No’ susah keluar dan berkembang dari lembaran AD-ARTnya, de fakto tetap saja “Partai Islam”. Meskipun Ifrith Sekjen Komunitas Jin Internasional direkrut masuk PKB, tetap saja yang terjadi bukan pluralisme, orang tetap menganggap Jendral Ifrith yang masuk NU supaya kalau meninggal ditahlili.
Andaikan saja tradisi transformasi sosial berlaku cukup matang di Indonesia, kemudian atas dasar itu PKB dibangun kembali secara modern, maka dia susah ditandingi oleh kelompok politik yang manapun lainnya.
Akan tetapi PKB semakin seru saja bergumul di dalam bungkusan ’sarung’ tradisional. Mungkin saja sarung itu ber-merk ‘Gus’. Belum tentu benar, tapi kalau mau menabung pembelajaran tentang PKB hari ini ada baiknya kita tengok sosiologi budaya ‘Gus’, bahkan mungkin ‘antropologi’ nya.
Sopan santun Jawa menyebut Nabi Muhammad SAW dengan Kanjeng Nabi. Dalam bahasa Arab: Sayyid, semacam Sir. Sayyidina Muhammad.
Beliau pernah bilang “Saya jangan disayyid-sayyidkan”. Maka masyarakat Muhammadiyah cenderung tidak memakai gelar Sayyidina. Panggil ngoko saja: Muhammad. Tetapi kalau kita menyebut pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dengan “Dahlan” saja, “Si Dahlan”, atau dulu ketika beliau masih sugeng kita menyapa beliau “Mau ke mana Lan?” — teman-teman Muhammadiyah banyak tak siap juga.
Jadi idiom ‘Sayyidina’ itu mungkin berkonteks budaya sebagaimana kita memanggil “Pak”, “Mas”, “Oom”. Tentu saja “saya jangan disayyid-sayyidkan” itu tidak berhenti pada makna harafiah. Maksudnya Kanjeng Nabi kita jangan feodal, jangan menjunjung-junjung secara tidak rasional. Allah semata yang ‘Ali Akbar, yang maha tinggi dan maha agung. Sampai-sampai beliau tidak mau digambar wajahnya, khawatir jadi icon, branding, berhala, mitos.
Di kalangan Jawa tradisi, dipakai kata “Kanjeng”, “Raden” atau “Den”. Den-nya masyarakat santri adalah “Gus”. Gus itu semacam Raden yang ”islami”. Di Jombang ada Gus Rur, Gus Nur, Gus Dur. Untuk saya ada gelar VIP: “Guk”, Guk Nun. Itu panggilan sesama teman penggembala kambing, kerbau, sapi, ngasak di sawah.
Gus itu lebih tinggi dan lebih luas dibanding Den. Itu berlaku tak hanya secara tradisional. Semua wacana, persepsi dan analisis tentang wilayah perpolitikan tertentu di Indonesia selama 35 tahun ini terlalu meremehkan dahsyatnya kekuatan ‘Gus’. Sampai hari ini kita gagal ilmu, gagal obyektivitas, gagal kejujuran, gagal kerendah-hatian dan kejantanan di dalam memotret fenomena sangat factual itu dalam frame pemikiran demokrasi, egaliterianisme, independensi budaya dan politik.
Itupun kalau bicara tentang Gus Dur, NU, PKB, Muhaimin Iskandar, Yeni Wahid, PKNU, Choirul Anam, Kiai (desa pesantren bernama) Langitan dst, tanpa setting sejarah yang ‘masuk lubuk hutan’ secara cukup memadai. Gus Dur NU PKB dll hanya kita jadikan anasir-anasir dari khayalan akademik kita yang asyik sendiri dengan huruf-huruf, yang karena para akademisi dan pengamat adalah penguasa negeri wacana, maka mereka mengumumkan kepada dunia dan dirinya sendiri bahwa NU itu begini Gus Dur itu begitu — kemudian tatkala besoknya terbukti tak ada eskalasi rasional dari wacana-wacana itu, kita diam-diam melupakannya.
Mungkin kita tugasi khusus peneliti politik untuk memperhatikan hal-hal yang sederhana: kalau mau paham PKB, NU, Gus Dur: coba tengok pengetahuan tentang keluarga imigran Tebuireng, struktur dan eskalasi sejarah “klan-klan” pribumi dan pendatang di Jombang, budaya Ludruk dan Gambus Misri, Hadlratus Syaikh, Mbah Wahid, Mbah Wahab, Masyumi, Muhammadiyah, Yai Kholil Bangkalan, pisang, kitab, cincin…. ***
Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/klppe2
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.











ahmad rifai on 7 July 2009
assalamualaikum
Abesen cak ‘n salam salut atas segala perjuanganya
cak..gimana caranya kalau mau mengundang caknun ‘n kiai kanjengnya kedaerah saya (subang – jawa barat)
tolong jawabanya
wassalamualaikum
Redaksi on 9 July 2009
Silakan anda kirim surat secara resmi melalui EMAIL INI. Nuwun.
Udin on 21 July 2009
i lv you cak….
arief on 27 July 2009
cak nun,minta bantuan doa untuk adik saya yang terbaring sakit sudah 3 tahun lebih, sakit kanker cak
matur nuwun
achmad kadarsah on 3 August 2009
Assalamualaikum,
Cak, saya orang sukabumi,jabar, sudah lama pingin bertemu sama cak,saya suka dengan tulisan cak , ada beberapa buku yang telah saya koleksi ,diantaranya, sedang tuhanpun cemburu , markesot bertutur, anngukan ritmis kaki pak kiai dll, saya mendapat inspirasi dan cermin diri dari bacaan tersebut ,
Cak kenapa tidak gerakkan saja umat yang membutuhkan seorang pemimpin yang jelas visinya seperti cak, umat membutuhkan,
oh, saya mengucapkan salam perkenalan sama cak.
wassalam
Madolay on 12 October 2009
mas nyari di mana sih buku2nya? saya cuma punya yang baru2 aja plus slilit sang kyai sama kerajaan Indonesia.
kalo dah tahu infoin yah ke ai_sadakah@yahoo.co.id
gisca romadona on 11 August 2009
asslm.
cak nun,dulu sy pernah mimpi.mimpi tersebut terjadi sekitar awal kekuasaan sby.dalam mimpi tsb sy bertemu bpk.sby n bpk.suharto,kami berbincang2 di daerah rumah sy,tiba2 rmh sy menjadi kraton tmpat tnggal p.harto.kemudian di blakang kami,kami dengar gemuruh ombak datang menghampiri kami,seketika itu kami lari menuju puncak bukit bersama para warga.ternyata ombak itu adalah lumpur yang mana telah menenggelamkan desa kami.
Dalam kenyataan,desa saya juga terendam lumpur panas sidoarjo.
apakah mimpi sy ada hub nya dengan kejadian tsb.dan apa maknany?
mohon penjelasannya.
terimakasih
wasslm.
mukti ards on 12 August 2009
Cak Nun…aq kangen dan rindu padamu.
dimana aq bisa menemuimu walau hanya dengan ndelik dari jamaah lain.
cak aq ingin hadir kesemua kendurimu..dmna saja dan tiap hari apa Cak? I love u full
Martono on 13 August 2009
Assalamualaikum Cak Nun,
Kami ditunjuk sebagai konsultan penyelenggara dari salah satu perusahaan asing berkantor di Jakarta untuk mengadakan acara pencerahan pada karyawan yang bersifat in-house ( bukan public seminar ). Kami berencana untuk mengundang Cak Nun untuk ceramah in-house pada acara buka puasa bersama yang akan dihadiri oleh karyawan klien kami baik yang muslim ataupun non-muslim pada tanggal 11 September 2009.
Adapun ceramah yang dimaksud lebih kearah pencerahan individu secara umum
Untuk menjajaki kemungkinan ini (ketersediaan waktu serta topik), kami mohon saran dari Cak Nun mengenai arrangement serta term & condition-nya. Dan seandainya dimungkinkan, apakah kami bisa mendapatkan nomor telpon Cak Nun.
Alamat dan contact kami adalah :
Martono Lukmantara – Director
TELEQUEST CONSULTRAIN
Menara Duta Building Lt. 1 Wing B
Jl. HR Rasuna Said Kav. B9 – Kuningan
Jakarta 12910
Telp : 021 – 5274148 / 021 – 91262945
Fax : 021 – 5274148
Mobile : 08161309657 ( Martono )
E-mail : martono@tlquest.com
Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih
Hormat kami
Martono
Salam
Martono
Nanang Novita - 085931206823 on 14 August 2009
Assalamu’ alaikum wr. wb
maaf pak kyai, saya nanang dari Sampang Madura ingin mengundang pak kyai dalam acara Suramadu ethnic nanti pada tanggal 26 September 2009. saya sangat menggu balasannya ya pak kyai di no. Hp yang tertera.
wassalamu’ alaikum wr. wb
Nanang – 085931206823
Hikmat on 2 September 2009
Assalamualaikum,
cak Nun, ane’ salut banget ama pola pikir & perjuangan apapun yang cak lakukan selama ini, mohon ajari ane’ tentang semuanya bahkan ane’ ingin menjadi murid & kiranya cak nun bersedia menjadi guru ane’.
Mohon informasi jadwal perjalanan & kegiatan cak Nun supaya ane’ bisa selalu hadir,
Trimakasih.
Wassalamualaikum.
Redaksi on 9 September 2009
Untuk sementara, silakan buka Facebook Kiai Kanjeng
falla on 2 September 2009
assalamualaikum cak nun .
entah kenapa setiap kali saya baca artikel cak nun saya merasa merinding, bahasa yang dipakai sangat menarik dan walaupun kadang saya sulit untuk menerjemahkannya, tapi itu tak sedikitpun mengurangi ketertarikan saya pada tulisan2 cak nun.
saya sekarang di bogor asli dari jawa timur dan bisa di bilang daerah saya masih ada keterkaitan dengan pondok pesantren langitan, embah saya dari jombang, saya pengen banget ketemu anda cak, walaupun hanya mengintip dari jauh..
semoga Allah mengabulkannnya Amin.
kapan cak nun akan datang ke kota Bogor??
Redaksi on 4 September 2009
Tiap hari Jumat minggu kedua Cak Nun selalu hadir di Kenduri Cinta. Silakan Anda datang kesana jam 8 malam di TIM Jakarta.
Redaksi on 9 September 2009
Untuk jadwal Cak Nun Kiai Kanjeng, dapat dilihat di DISINI
Cak Run Hamdi on 13 September 2009
Cak Nun yang Aku sayangi,
Lucu memang, aku terkena efek samping ‘gelombang cinta’ sepulangku dari melihat pentas kiai kanjeng di bantul, yang pas acara itu lho Cak, dengan para bule putih dan hitam serta coklat. Kayaknya ada ustad bule dari afrika dan singapore apa ya?
Efek itu terbawa sampai waktu ini saya sudah pulang kembali ke negeri Formosa.
Cak atau yang mewakili, mbok tolong, aku dikirimi nomor telpon atau hp rahasia Cak Nun. Entar kalau aku melihat Cak Nun lagi luang, biar aku bisa telpon Cak Nun dari sini.
Oke ya Cak atau yang mewakili, tolong sekali lah. Aku rindu bener nih. Di sini (kayaknya) gak ada siapa-siapa dan gak ada apa-apa.
Terima kasih sebelumnya buat Cak atau yang mewakilinya. Jangan lupa nomor kontak ya Cak, yang bisa langsung menghubungkan aku ke mulut Cak Nun langsung. Jangan khawatir, aku jamin dech, Cak Nun tidak bakalan terganggu oleh panggilan teleponku dari sini. Mudah-mudahan kami bisa mengundang Cak ke sini (lagi).
anang on 16 September 2009
Cak Nun , saya Anang dari Jombang tepatnya daerah pondok pesantren Tambakberas yg sekarang saya bertempat tinggal di semarang, cak saya sangat merindukan caknun bahkan saya pernah mimpi dengan caknun karna sangat pengenya jadi muridnya caknun.saya suka caknun mulai dari lagu2nya dan juga buku2 hasil dari tulisan caknun yang begitu inspiratif walaupun saya kadang sangat susah untuk mengerti bahasa tulisan caknun, krna saya yg ga tamat sekolah.cak nun saya mw tanya,apkah yang memotivasi caknun menjadi caknun yg sekarng ini?matursuwon caknun
ciwang on 17 September 2009
cak nun.. saya adalah student di sydney, akhir2 ini saya banyak membaca tulisa2 anda walaupun sebelumya saya pernah baca buku anda yakni “bola bola kultural”dan menurut saya sangat luar biasa dan mencerahkan. juga melihat video forum kenduri cinta, bambangwetan dan lain2 melalui youtube. jujur aku sangat tertarik dengan pemikiran2 cak.. tolong gimana caranya kalo mau nanya langsung ke cak nun.. salam
gautama on 8 October 2009
semoga Allah yang maha penyayang selalu memberi cak nun kesehatan, keridhoan, dan kedamaian jiwa…
dan semoga Allah berkenan mengabulkan permohonan saya yakni agar saya dan anak saya nanti bisa bersama-sama menghadiri pengajian padhang mbulan… agar ia mengerti bahwa Indonesia sungguhlah amat dirahmati karena memiliki seorang Emha Ainun Nadjib
zaenal arifin on 22 October 2009
salaam alaykum gus..kapan ma’iyahan di krian sidoarjo lg gus..
hasim pci on 27 October 2009
Assalamualaikum Cak
aku penggemar beratmu cak Nun. tapi aku tidak bisa mengikuti kegiatan / acara kyaikanjeng, padangbulan, kenduri cinta dll. sekarang aku tinggal di cilegon. bagaimana ya caranya agar ……………
bagus on 1 November 2009
cak nun kapan ke surabaya ???
kangen neh dengan lawakan dan diucek2 kotoran hatiku dengan ceramah panjengan….
cak nun semoga panjang umur dan sehat selalu…
amin
obink on 20 December 2009
aku punya impian bahwa Cak Nun suatu saat bisa hadir dan menyapa kami tentunya dengan siraman rohaninya di Biak Papua sehingga bisa mengobati rasa rindu yang terus kupelihara…komunitas ummat Islam di daerah ini cukup banyak meski minoritas jumlah kami ada 20 ribuan…tapi kalo ada acara pengajian setingkat tabligh akbar paling cuman 1000an yang datang, aku punya impian bagaimana kalau yang diundang CN KK mungkin yang datang akan berdutun-duyun..salam maiyah.
Irfani on 1 January 2010
Semoga sehat ya ‘Guk Nun’…
Olish Faris on 5 January 2010
salam hormat Cak Nun…, semoga selalu sehat dan diberi umur panjang oleh Allah swt. Bangsa ini sangat membutuhkan kontribusi engkau Cak. Kami sudah kehilangan Gus Dur, WS Rendra, besok tentunya akan kembali kehilangan orang-orang besar. Engkau pun orang besar Cak… semoga tetap bisa memayungi para wong cilik, seperti Kanjeng Nabi Muhammad saw memayungi umatnya dengan lakum dinukum waliyadiin. Wassalaamu’alaikum.
yusuf on 11 January 2010
Mendengar, Melihat dan Menyaksikan Bicara Ca Nun, Sungguh suatu kebahagiaan dan anugrah yang Tak Ternilai, terlebih membaca Karya2 nya….semoga Cak Nun selalu diberikan Kekuatan, Kesehatan oleh Allah Swt… agar saya bisa terus Belajar dan Berprilaku kapada jalan yg Lurus….Amiiiin….
sugeng on 22 January 2010
assallammualaikum cak nun.kita masih butuh orang yang konsisten dgn perjungannya setelah RENDRA,GUS DUR tiada tinggal sampeyan harapannya.jaga kesehatan yo cak . rindu PADANG BULAN nang sumobito. wassalamm
roni on 29 January 2010
mugi panjenengan dipun mulya aken Pengeran panjenengan.
irfan on 3 February 2010
wak gus/guk nun….pembelajaran politik yang dewasa itu yang perlu di perhatikan,untuk warga hutan,,,,,,,hehehhee
mas iwan@76 on 10 February 2010
sepurone cak,tulisan yang ada di kolom emha, saya copy-paste.
kangen buanget. dah lama ga baca tulisan cak nun. syukron…
Aceng Abdirdul Ko on 13 February 2010
As, keluarga besar Kyai kanjeng dan Cak Nun kapan ke Bandung lagi? saya merindukan seluruhnya tentangmu. Waktu itu bulan Ramadhan KKCN ke UIN SGD Bandung! inspirasikan kami agar bisa menjadi pelita hati diri kami dan lainnya! Hatur nuhun. Salam
Azmat Maula on 3 March 2010
Alhamdulillah, cak sampean sudah menjadi inspirasi saya dalam melahirkan puisi2 saya matur nuwun….mabruk alaik