Masterpiece karya Allah: Menemukan Kembali Al Qur’an

Posted by Redaksi30 September 2009 in Kolom Emha | 24 Comments

Rata-rata 4 kali perminggu saya mengalami forum dengan ratusan atau ribuan orang. Kalau di luar negeri, tentulah audiensnya puluhan atau ratusan, kecuali di Malaysia. Sekitar 85% audiensnya adalah orang beragama Islam. Forum itu sendiri 60% acara Kaum Muslimin, 30% umum, 10% forum khusus saudara non-Muslim. Perjalanan keliling itu berlangsung puluhan tahun, dan sepuluh tahun terakhir ini frekwensinya meningkat sekitar 30%.

Tentu sangat banyak saya berguru pada mereka, sangat tidak seimbang dengan amat sedikitnya manfaat yang saya bisa kontribusikan. Saya, sendiri atau bersama KiaiKanjeng, berposisi amat berterima kasih kepada publik, sementara hak kami untuk diterimakasihi sangat sedikit.

Saya kisahkan di sini satu hal: bahwa saya tidak pernah menyia-nyiakan perjumpaan dengan banyak orang untuk melakukan semacam direct research kecil-kecilan. Mungkin lebih bersahaja: jajag pendapat, tentang sejumlah hal prinsipil nilai orang hidup berbangsa, beragama dan bernegara. Serta sejumlah konteks aktual yang durasi dan akurasinya tidak berlaku terlalu lama. Itupun lebih saya persempit lagi: yakni sejumlah jajag pendapat dengan berbagai-bagai kalangan Ummat Islam.

Yang hasilnya terlalu lucu, naif atau sangat kurang berpengetahuan, sebaiknya tidak saya paparkan, agar saya tidak menjadi komoditas bagi penjaja tema pelecehan Islam. Umpamanya saya bertanya: “Rasulullah menyatakan bahwa Ummat Islam akan terbagi menjadi 73 bagian, yang diterima Allah hanya satu. Anda semua ini termasuk yang 72 atau yang 1?”. 100% ummat yang saya jumpai di berbagai wilayah, strata dan segmen, menjawab sama: “Yang 1″.

Yang paling terasa pada publik Islam adalah ketidaksanggupan massal untuk membedakan antara kemungkinan, kenyataan dan keinginan. Jawaban “Yang 1″ itu rata-rata tidak mereka kejar ke dalam diri mereka sendiri apakah itu keinginan, kemungkinan ataukah kenyataan. Terlalu jauh kalau saya menuntut mereka cukup memiliki parameter untuk mengukur tingkat kemungkinan dan kadar kenyataan mereka akan diterima Allah atau tidak, sebab kelihatannya ruang batin mereka sudah sangat dipenuhi oleh keinginan, yang tak terurai secara rasional dan intelektual.

Terkadang saya menggoda: “Ibu-ibu Bapak-bapak, mohon maaf saya sendiri menemukan diri saya di antara yang 72 golongan. Saya penuh dosa dan ketersesatan, sehingga sama sekali tidak berani menyatakan bahwa saya akan pernah diterima oleh Allah. Kelihatannya kans saya untuk masuk neraka lebih besar dibanding masuk sorga.”

Sering saya menyesal atas pernyataan seperti itu, karena jelas saya memberi beban pikiran dan kegelisahan hati yang menambah keruwetan hidup mereka yang sudah sangat ruwet oleh Indonesia. Apalagi mereka rata-rata tidak punya kapasitas untuk mengidentifikasi apakah pernyataan saya itu bersifat intelektual ataukah bernuansa kultural — sebagaimana sahabat kita yang kaya menawari kita “Ayo mampir dong ke gubug saya…”. Padahal harga rumahnya 5M.

Di saat lain saya bertanya: “Kalau pergi umroh atau haji, ketika berthawaf: Sampeyan cenderung mendekat-dekat ke Ka’bah termasuk supaya bisa mencium Hajar Aswad, ataukah cenderung meletakkan diri jauh-jauh dari rumah Allah?”. 100% menjawab “mendekat-dekat ke Ka’bah”. Terhadap dialog tema ini kadang saya menggoda: “Mohon maaf saya sendiri termasuk orang yang takut-takut mendekat ke rumah Allah. Datang ke Mekkah saja pekewuh. Bahkan ketika berthawaf saya hanya berani melirik sedikit-sedikit atau mencuri pandang ke Ka’bah. Sebab saya tidak merasa pantas bertamu ke rumah Allah. Bau saya busuk, kelakuan saya buruk, tidak ada cukup kepantasan untuk berada di dekat rumah Allah”.

Terkadang saya terpeleset untuk mengungkapkan : “Coba Sampeyan sebut satu saja Nabi dan Rasul yang pernah menyatakan bahwa dirinya baik. Setahu saya hampir semua menyatakan dirinya dhalim”.

Di saat lain rajin saya bertanya kepada Ummat Islam: “Apa bekal utama manusia untuk menjadi Muslim yang baik?”

100% menjawab: “Qur’an dan Hadits”. Sungguh-sungguh sangat lama saya merindukan ada jawaban yang berbeda, dan sampai hari ini belum Allah perkenankan. Memang begitu sucinya, begitu sakral dan utamanya Kitab Suci Allah dan penuturan Rasul-Nya, sehingga Ummat Islam kebanyakan lupa pada kalimat kecil di Kitab Suci itu sendiri: “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia sebagai masterpiece…” Inna khalaqnal insana fi ahsani taqwim.

Karya Allah yang tertunggul dan tertinggi derajatnya bukan Malaikat, bukan Al Qur’an, melainkan manusia.

Dengan sedih terpaksa saya katakan bahwa modal utama manusia untuk menjadi Muslim bukan Al Qur’an, melainkan akal.

Tidak fair kalau bekal utama manusia untuk menjadi Muslim adalah Al Qur’an. Pertama, jaman pasca-Muhammad hingga sekarang jauh lebih singkat dibanding pra-Muhammad sejak Adam AS. Kedua, kalau Qur’an adalah modal utama, harus kita pastikan bahwa semua Nabi Rasul dan ummat manusia sebelum Muhammad bukanlah Muslim. Dengan kata lain harus kita batasi kepercayaan dan wacana Islam hanya dimulai sejak kerasulan Muhammad. Ketiga, AlQur’an bukan makhluk hidup. Ia tidak bisa menjadi subyek aktif atas proses berlangsungnya kehidupan manusia. Al Qur’an bukan pelaku perubahan, pembangunan, sejarah dan peradaban ummat manusia. Al Qur’an itu alat perubahan.

Keempat, untuk menyebut secara sederhana: Al Qur’an 100% sia-sia bagi manusia yang tidak menggunakan modal utamanya sebagai manusia, yakni aktivitas akal. Al Qur’an jangan disodorkan kepada kambing, meskipun ia punya otak. Sedikit ke cabang: otak itu hardware. Untuk membuat otak melakukan pekerjaan berpikir, diperlukan software yang bernama akal. Al’aql. Akal tidak terletak, atau sekurang-kurangnya tidak berasal usul dari dan di dalam kepala manusia, melainkan berasal dari semacam mekanisme dialektika yang dinamis dari luar diri manusia, mungkin semacam gelombang elektromagnetik yang berpendar-pendar di seluruh lingkup alam semesta, namun dikhususkan menggumpal dan mengakurasi ke seputar ubun-ubun kepala setiap manusia.

Oleh karena itu prinsip utama menjalani Islam adalah ijtihad. Kalau jihad itu segala upaya perjuangan manusia menghidupi kehidupan. Ijtihad itu perjuangan intelektual. Mujahadah itu perjuangan spiritual. Ratusan kali Allah memfirmankan “Apakah engkau tidak berpikir?” “Apakah engkau tidak menggunakan akal?”. Masyarakat Barat dan Jepang Korea Cina sangat aktif melakukan ijtihad dan menguasai peradaban. Kaum Muslimin terlalu aktif bermujahadah tanpa imbangan ijtihad sehingga produknya adalah dekadensi dan inferioritas. Tetapi memang tidak mengherankan jika Ummat islam stuck dalam hal ijtihad. Alfikr itu pikiran, kata kerjanya yatafakkar, berpikir. Al-aql itu akal: bahasa Indonesia hanya kenal kata kerja “mengakali” dari kata dasar akal. Mengakali itu pekerjaan sangat mulia: ialah memandang dan memperlakukan segala sesuatu dengan daya akal. Tetapi “mengakali” dalam bahasa Indonesia adalah menipu, mencurangi, menyiasati dalam konotasi negatif.

Agak aneh Allah memerintahkan “Taatilah Allah, Rasul-Nya dan ulil amr di antara kalian”, tetapi yang terjadi adalah ketaatan kepada para penerus Rasul atau yang dianggap oleh umum atau yang menganggap dirinya penerus Rasul — namun tanpa tradisi ijtihad, sementara ulul amr, “petugas urusan-urusan” tak pernah ditegasi konteks dan subyeknya. Apakah Ulama mengurusi petani dan pertanian sehingga ditaati? Apakah Ustadz mengurusi pasar dan penggusuran sehingga dipatuhi? Apakah Kiai mengurusi, menguasai, memahami, mengerti dan mendalami teknologi, industri, ketatanegaraan, konstitusi dan hokum, pemetaan sosial masyarakat, hutan, sungai, laut, sehingga dipatuhi?

Hampir tak pernah terdengar fatwa tentang kehidupan nyata manusia dan masyarakat. Barusan ada fatwa satu tentang nuklir: cabang bilang haram, pusat bilang halal. Bagaimana kok ada organisasi cabangnya haram pusatnya halal. Bagaimana ada makhluk tak jelas Malaikat atau Setan. Ada satu lagi saya simpan fatwa tentang jual beli dang ganti rugi: mudah-mudahan jangan ada versi counter fatwa, karena fatwa itu tidak didasari konsiderasi ilmiah dan penelitian rasional apapun.

Islam tumbuh di Musholla dan Masjid, bertahan kerdil dalam kesempitan dan kejumudan. Pengadilan Agama hidup dari konflik-konflik rumahtangga, tidak berususan dengan keadilan keuangan rakyat, dengan keadilan atas sungai dan hutan, dengan keadilan politik, perekonomian, ekosistem, internet — sesekali muncul dari pintu belakang fatwa dan pernyataan keadilan halal dan haram tentang Presiden wanita haram, beberapa tahun kemudian berbalik menjadi halal berdasar sisi kepentingan yang sedang disangga.

Pemain-pemain sepakbola diidentifikasi, diuji, dianalisis dan dipilih oleh expert sepakbola, pelatih dan official. Kiai, Ulama, Ustadz diidentifikasi, diuji, dianalisis dan dipilih berdasarkan mata pandang industri dan kepentingan komersial. Orang Islam terlalu jauh meninggalkan akal sebagai modal utama kemuslimannya. Mereka salah sangka terhadap Al Qur’an, dan kurang peka memikirkan kemungkinan bahwa Iblis dan Setan sejak jaman dahulu kala sudah fasih membaca Quran dan mungkin menghapalnya, sebagai satu bagian strateginya untuk mengalahkan manusia.

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/yf4byvy

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

24 Comments

  1. Astho  on 1 October 2009

    nuwun cak, sudah diingatkan..
    semoga dgn ini bs lebih bersyukur(mengunakan sebaik2nya) atas diberinya akal pkiran..

    Reply

  2. Taufik  on 1 October 2009

    cak, bagaimana dengan kalimat hati bisa salah tapi akal selalu benar. Akal tak dibawa mati karena di akhirat tidak perlu ijtihad.

    Reply

  3. Bambang S  on 2 October 2009

    Betul Cak Nun, kita umat Islam sering merasa inferior terhadap sesama yang non-muslim dalam hal kesejahteraan, kemajuan, iptek, gaya hidup. Tapi kita merasa superior dalam hal ‘berani mati’ karena merasa surga menanti kita yang miskin-miskin dan terdzalimi, sedangkan neraka menunggu mereka yang dapat bagian banyak kue kehidupan sekarang.
    Kita kurang perhatian pada ayat: fabtaghi bimaa aataka allaaha addaarul aakhirata wa laa tansa nasiibaka min addunya….
    di kampung saya sekarang orang lebih suka melakukan ’sunah nabi’ berpoligami, tapi mereka tak pernah tertarik ’sunah Nabi’ seperti kerja keras, menuntut ilmu, berbaik-baik pada istri atau kaum wanita. Bahkan shalat saja para pelaku ’sunah nabi’ poligami itu tidk mau.

    Reply

  4. Adhimas Syah Priyo Adji  on 4 October 2009

    Masya Allah, Luar Biasa … Ini adalah Ilmu. Terima Kasih.

    Reply

  5. pramu  on 5 October 2009

    iblis, syetan dan jenis lelembut lainnya memang benar-benar lembut, saking lembutnya pengaruh mereka kepada manusia sehingga manusia sangat tidak merasa bahwa kondisi dia tidak jauh berbeda dengan iblis dan syetan.

    Reply

  6. awannada  on 10 October 2009

    Spakat a, generasi muda Islam harus paham ini…

    Reply

  7. agung prawirodirjo  on 15 October 2009

    keren keren….aku menunggu orang yang menulis tentang sentilan terhadap kemahklukan Al Quran di jaman Modern, tentang pentingnya Ijtihad serta akal budi manusia…eh ternyata ada cak Nun..Cak Nun kurang satu cak biar anda bisa menyamai prestasi Umar Bin Khatab Al Faruq….jadilah pemimpin negeri ini

    Reply

  8. Suharyono  on 20 October 2009

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Mbah Nun yang saya banggakan,
    Mudah-mudahan sampeyan se-Indonesia senantiasa di Rahmati Allah SWT.

    Ini ada sedikit pertanyaan dari saya perihal kutipan tulisan sampeyan yang berbunyi : “Inna kholaqnal Insaana fi ahsani taqwim” (dalam artikel berjudul “Masterpiece Karya Allah: Menemukan kembali Al-Qur’an”)

    Pertanyaannya :
    1. “Inna kholaqnal Insaana fi ahsani taqwim” ini, Surat apa dan ayat no berapa?

    2. Bila pertanyaan yang pertama tidak dijawab, maka sampeyan punya utang pada saya ( Hamba Allah yang hina ini ). Jadi bagaimana penjelasannya?

    Maturnuwun,
    Suharyono

    Reply

    • Redaksi  on 21 October 2009

      Mungkin maksudnya Surah 95: At-Tiin

      لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

      Reply

  9. Muhammad R  on 21 October 2009

    Mari kawan-kawan seluruh indonesia seluruh jamaah pengajian kita galang massa untuk mengusung Cak Nun menjadi pemimpin kita.Kenapa kita masih belum juga “melek” bahwa Allah telah mengirim salah satu hamba-Nya yang cerdas dan peduli di tengah-tengah kita.Bila perlu ada revolusi,itu lebih baik

    Reply

  10. swiss winnasis  on 21 October 2009

    semoga cak nun selalu diberi kesehatan dan dilingkupi penjaan oleh Allah.

    kabinet indonesia bersatu II baru saja diumumkan, tapi saya tidak tertarik sama sekali, karena diantara mereka semua saya kurang yakin ada yang akan bener berfikir dan bertindak dengan kecemerlangan akal dan hati yang ikhlas untuk indonesia…

    Reply

  11. endra  on 23 October 2009

    mantap nehhh…. pengen lebih rinci tentang ijtihad dan mujahadah… sekalian makrocosmos dan mikrocosmos termasuk alqur’an..

    Reply

  12. Ratri Dian  on 24 October 2009

    Wah wah wah maturnuwun sanget Cak…
    Semoga dengan ini bisa termasuk ke dalam golongan para Muslim dan Mukmin… Aamiin..

    Reply

  13. Adji Subchan  on 25 October 2009

    Mgkn kt hrs trus berfikir dl sblm berdzikir, membaca dulu sblm berucap, dan berijtihad sblm berjihad

    Reply

  14. Kartono  on 6 November 2009

    Matur sembah nuwun bwt cak nun atas penjelasannya.Smg menjadi bhn renungan kita semua agar pemahaman kita ttng al qur’an semakin luas…Setuju bgt utk mengusung cak nun jadi R1..Poeple powér kl pèrlu

    Reply

  15. Novan Hermawanto  on 10 November 2009

    matursembahnuwun cak…. mari dengan niat ikhlas wahai saudaraku, qt jadikan cak nun pemimpin negri tercinta ini…. monggo cak……

    Reply

  16. Matuhan  on 17 November 2009

    Tapi ojo salah pilih rek…dek indonesia ono akal, ono okol. Ono qolbun ono kalbun. Cak nun R1 setujuuu…Tp ditanya dvlu beliaunya setuju apa tidak. Yaopo cak, gus, nun, em, dst?

    Reply

  17. Lisa Rahadi  on 24 November 2009

    Assalamu’alaykum Cak Nun….

    Mbok ya ooo……jangan pake kalimat mutashabihat lagi….
    Kalau mau pembacanya ngerti, ya diterangin dong…. Cukup di Al Qur’an aja kalimat-kalimat yang tersirat ini. Biar nanti kalau sudah di alam kubur, nggak bingung dengan petanyaan : Apa kitab Sucimu? Mosok ya harus ngomong : “ee….lupa…nggak kebawa ?”

    Monggo di terangaken nggih Cak…..

    Wassalamu’alaykum,

    Reply

  18. luhtaf  on 30 November 2009

    sudah lama saya lupa dengan rohani saya, karena hidup di kalangan orang yang selalu berfikir dunia dan mengabaikan akhirat..,akhirna saya menemukan website anda dan hilang rasa dahaga rohani saya.,,salut mbah..,anda memang gila..,,

    Reply

  19. Halimi  on 10 December 2009

    satu kritik buat tulisan ini. Mengapa alQuran disamabandingkan dengan manusia? alQuran bukan karya AllaH sbb bila karya maka alQuran adalah mahluk. (kecuali bila C.Nun memang termasuk orang yang berpendapat bhw alQuran adalah mahluk). Maaf.

    Reply

  20. Preman_Cakung  on 26 December 2009

    Ya Salaam…..
    terdiam, jungkir balik ane dibuat sama tulisan ente cak….

    Alhamdulillah…..atas tulisan ente ini, ane kembalikan semua kepada Allah cak, ente pasti tahu kenapa? hehehe

    Syukran katsir…..klo yang ini dari ane cak, karena biar bagaimanapun ane tetap hrs berterima kasih…..hahaha

    Reply

  21. Adi S. Aji  on 8 January 2010

    Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

    YTH Cak Nun,

    Manabi eker-pekker, sampeyan panika sla’dar, sarap, gendeng,
    tape abdina tetep bai senneng maca tolesanna sampeyan paneka.

    Manabi sampeyan aromasa tak pantes masok sowarga, napa pole abdina ?

    mator sakalangkong, moga-moga Guste Pangeran marenge sampeyan sakaluarga kabunga’an sareng kasehatan, Amiin

    Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

    Reply

  22. aris  on 10 February 2010

    dalam al-quran tidak ada kata aql dalam bentuk masdar/kata dasar, yang ada dalam bentuk kata kerja yaitu ya’qilu berarti berpikir, oleh sebab itu ia bukanlah benda/organ, namun lebih tepat untuk disebut sebagi ‘’sejenis aktivitas”, dan organ yang digunakan untuk ya’qilu tersebut dinamai oleh al-quran dengan qalb.tampaknya dalam tulisan cak nun di atas kurang menyentuh aspek qalb.

    Reply

  23. procol  on 23 February 2010

    wah paling mburi iki macane….
    tapi gak ngopo wong jenenge ilmu
    takane sekang ndi wae….
    manungso is the best teacher bagi mereka yang berakal.
    wah yo nek ngonoh setan..hafids juga..wah aku kalah karo setan…awas kowe setan!!!!!
    aku ora bakal manut ko

    Reply

Leave a Reply