Musik dan Jagat Politik Republik 2009

Posted by Emha Ainun Nadjib1 December 2009 in Kolom Emha | 15 Comments

Datang pertanyaan kepada saya “Apakah musik berperan dalam Pemilu 2009?”, saya menjawab, “Ia bukan hanya berperan. Ia memberi watak kepada perilaku politik, memberi nuansa kepada alun iramanya, menginspirasikan koreografi dan orkestrasi demokrasi, musik memimpin gegap gempita jagat perpolitikan Indonesia 2009. Mestinya begitu. Ia sangat potensial untuk itu”.

Saya bukan orang musik, maka posisi saya adalah menghormati dan menyayanginya: kita tidak boleh bersikap cueg kepada apapun di luar dunia kita. Bodoh kalau kita merendahkan suatu wilayah aktivitas yang kita tidak menguasainya. Secara ilmu pengetahuan engkau sebaiknya lebih memberi perhatian kepada yang engkau belum ketahui, dibanding yang engkau sudah ketahui. Itulah sebabnya maka saya memilih bekerja keras untuk “mengetahui” dan sejauh mungkin mengelak untuk “diketahui”.

Tidak satu alat musikpun saya mampu menggunakannya. Pernah coba sentuh-sentuh gitar tapi tiga tahun tidak cukup untuk memindahkan jari jemarin saya dari krip satu ke krip berikutnya. Akhirnya saya putuskan, saya mencintai gitar saja, serta mengagumi siapapun yang mampu bermain gitar. Pernah pegang-pegang seruling, hati mau ke notasi Jawa, jari jemari mempergilirkan nada-nada yang kesasar ke Arab. Beberapa lama bergaul dengan seruling besar Shakuaji, tapi yang saya dapatkan bukan ketrampilan musik, melainkan latihan pernafasan dan konsentrasi batin.

Sudahlah. Inilah posisi hidup saya: menjunjung tinggi para pekerja musik dengan hati takjub, memuja keindahan karya mereka di lubuk kalbu. Tahun 1981 keliling Amerika Serikat saya menghimpun rekaman-rekaman natural non-studio lagu-lagu country, seminggu lebih bergadang di kafe-kafe kecil blues blues Chicago Selatan. Saya mlipir-mlipir berkenalan dengan para petugas tiket dan preman-preman penjaga pertunjukan Ratu Jazz Ella Fitzgerald di Iowa supaya memperoleh sela-sela momentum diam-diam membawa tape-recordir di dalam jaket saya dan merekam pertunjukan beliau. Saya antre ratusan meter untuk mengagumi John Mayal di Berkeley California. Menyesal tidak bisa menjangkau Bob Dylan atau Woody Cooty gurunya, tapi sebagai pengagum para petinju alhamdulillah sempat juga menikmati Joe Frazier lawan terberat Muhammad Ali melompat-lompat rocky.

***

Agak sedih juga menyaksikan dari zaman ke zaman kaum pemusik “menjual murah” dunia musik. Anak-anak remaja belajar dan diajari mempersempit dimensi jagat musik. ‘Kosmologi’ musik hanya diambil bagian yang pragmatis: notasi, nada, irama, aransemen, aliran, album, pasar, dengan rumbai-rumbai intertainment sampai kadar yang menjijikkan, mengisi rubrik-rubrik tayang yang memanjakan mereka seolah-olah lebih penting dibanding para Nabi dan pemimpin-pemimpin revolusioner dunia.

Pekerjaan musik menjadi pekerjaan sangat eksklusif dan ruangan yang sebenarnya sempit, tetapi meminta derajat dan social-positioning terlalu tinggi secara kebudayaan, dengan ongkos sensasi, lonjak-lonjak tepuk-tepuk dan eksentrisisme. Para pemusik tidak terlalu memperhatikan dan mensyukuri bahwa musik hadir dalam peta sejarah yang lebih luas, sehingga sesungguhnya mereka bisa hadir lebih dari sekedar menjadi “abdi dalem oceh-ocehan” atau “klangenan” yang hanya menumpang fasilitas zaman – tanpa pernah mengambil posisi untuk menciptakan paradigma zaman.

Ilmu musik diambil oleh para pemimpin sejarah untuk menggiring ritme kekuasaan dan menyusun skema aransemen penguasaan, menentukan momentum-momentum yang tepat untuk intro, urutan verse, tanjakan chorus, juga middle of eight-nya. Para penyusun skenario sejarah mengasah kepekaan pada momentum, memilih cengkok-cengkok untuk suatu keperluan politik dan diplomasi, merancang sejak awal coda-nya.

Struktur huruf kata kalimat stanza-nya susastra kalah kaya kalah komprehensif dibanding yang dimiliki oleh, sehingga para pemimpin sejarah belajar secara mendalam kepada sastra namun belajar meluas kepada musik.

Para pengambil keputusan Negara dan Masyarakat menggunakan ilmu musik untuk memahami mapping zaman di hadapannya: mana gendangnya, mana anasir kenong kempul saron demungnya, mana underground karakter gender-nya, bagaimana menyimpan gong dalam rahasia intelegen untuk ditabuh dengan determinasi dan akurasi pada detik yang tepat.

Gong kepresidenan Obama berdengung November tahun lalu, tapi gendang awalnya lebih sepuluh tahun sebelumnya. Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 adalah produk instant-improvization setengah-bar sesudah kemerdekaan Korea Selatan. G.30.S 1965 sudah digendangi sejak 1958 oleh para ‘Siluman’, juga berkuasanya Suharto sesudah keributan itu.

Bung Karno mengkonduktori simphoni-simphoni besar yang mengguncang dunia. Soeharto dengan ilmu musik kamarnya, men-detail watak Do hingga Si, sampaipun Bes Dis Cis, mayor minor, dengan frame filosofi musik “Ngelmu Katuranggan” (hakekat dan wibawa setiap unsur dalam musik) dan “Ngelmu Pranoto Mongso” (watak-watak, musim-musim, nuansa-nuansa, pause-pause, dataran dan tanjakan).

Jangan lupakan juga simponi anti-musiknya Gus Dur, musik-bukan-musiknya Mega, orkestra datar Sby dan — mestinya akan tercipta suatu paradigma simphoni 2009, karena para pemusik melakukan transendensi, melompati jasad zaman, membangun kwalitas peran, menolak menjadi sekedar sub-tools of politic: nyanyi di medan kampanye, membikinkan album “Campur Sari” atau Pop calon Presiden, atau memanfaatkan kebodohan zaman yang kehilangan sense of competency dengan berebut menjadi Caleg, Cawagub, Cawabup.

***

Di dalam Kitab Suci, Tuhan selalu mendahulukan “mendengar” dari “melihat”. Mohon maaf, bahasa Arabnya: selalu disebut Sami’ (Allah Maha Mendengar) terlebih dulu sebelum Bashir (Allah Maha Melihat). Terdapat referensi ilmu Biologi, sosial kebudayaan, bahkan ilmu Jawa (”jiwa” dalam perspektif tidak sekedar sebagaimana dipahami Psikologi). Yang didengar sesungguhnya lebih kuat dibanding yang dilihat. Radio lebih potensial menguasai manusia dibanding televisi. Kalau ummat manusia lebih dikuasai oleh teve dibanding radio, mengindikasikan bahwa manusia sudah kurang pro-aktif sebagai manusia, secara batin, mental dan intelektual. Mereka sudah mengalami dekadensi ke tahap paling dangkal dari kemanusiaan.

Musik mampu mengubah kehidupan seseorang secara sangat mendasar dan menyangkut prinsip paling inti dalam hidupnya. Saya punya banyak teman, sebagaimana Niel Armstrong menikmati keyakinan Agama barunya ‘hanya’ karena mendengar suara adzan. Cat Steven (Yusuf Islam) tidak bermusik 20 tahun lebih sampai suatu malam menonton pertunjukan KiaiKanjeng di SOAS London. Dia pengikut suatu aliran tertentu dari (produk tafsir) Islam. Ia menunggu 20 tahun lebih untuk menemukan di dalam dirinya bahwa ternyata bisa menjadi Muslim yang baik sekaligus menjadi pelaku musik yang baik.

Ia menemui saya di belakang panggung ketika istirahat pentas SOAS itu dan bertanya: “Apa tidak ada masalah seorang Muslim bermusik?”

Saya balik tanya: “Tadi Mas Yusuf datang ke sini dari rumah pakai apa?”

“Maksudnya?”

“Pakai trem, bus atau kendaraan sendiri?”

“Saya bawa mobil sendiri bersama istri saya”

“Tidak ada masalah bagi setiap Muslim untuk mengendarai mobil dan pesawat, menaruk kulkas di rumah, memakai mobile-phone ke mana-mana, meskipun hampir tak satupun dari benda-benda itu yang merupakan hasil karya Kaum Muslimin. Kami dari Indonesia membawa Gamelan Kiai Kanjeng sebagaimana Anda membawa mobil. Tadi Anda membunyikan klakson, menyetir dengan irama, menginjak gas dengan takaran nada. Itu semua hanya alat. Yang salah bagi Muslim hanya dua. Pertama, membawa musik ke dalam masjid dan memainkan musik mengiringi orang shalat, serta mencampurkan ibadah mahdloh lainnya dengan musik. Masalah kedua bagi setiap Muslim adalah tidak menomersatukan Tuhan, menyakiti orang lain, mengambil yang bukan haknya, serta hal-hal semacam itu yang orang tak perlu sekolah untuk mengetahuinya”.

Sesudah itu Cat Steven bikin album lagi.

***

Dengan musik KiaiKanjeng saya berkeliling ke 7 kota Belanda Oktober 2008, masuk gereja-gereja Protestan dan Katholik, masuk Synagoge dan Masjid-Masjid (tentu saja di hall-nya, bukan di depan Mihrab). Kami berjumpa dengan para pemimpin semua Agama yang berlaku di sana. Salah satu hasilnya adalah lahir “Deklarasi Damai” antara Ummat Islam, Ummat Kristiani dan Ummat Yahudi seluruh Negeri Belanda, yang di-launching 8 Januari 2008 – meskipun dalam skala internasional dilukai oleh penyerbuan Gaza.

Saya menemukan bahwa musik berperan jauh lebih luas dari dirinya sendiri. Kelompok masyarakat Belanda, Turki, Marokko, Suriname, Suriah, Aljazair, Irak dan Iran, yang memeluk macam-macam Agama berkumpul 4 jam dengan musik KiaiKanjeng di Gereja Juliana. Kemesraan luar biasa itu belum pernah terjadi sebelumnya, dan sebenarnya mustahil di Negeri maju seperti itu orang ngumpul sampai 4 jam untuk sesuatu yang “tidak menguntungkan secara keuangan”.

Dua pembegal yang mengaku mantan bodyguardnya The Osmond Brothers menodong saya di pinggiran Indianapolis th 1981, bisa saya jadikan sahabat karena saya curi bicara dari Osmond ke musik ke show ke magic, sambil saya ambil dari dompet saya sehelai silet Tatra kemudian saya kremus di depan mereka.

Bersama KiaiKanjeng saya diangkut oleh hikmah musik ke Vatikan, pentas sehari sebelum Paus Johannes Paulus II dimakamkan. Kami orang Islam tak ada jalan bersapaan dengan mereka sesama manusia kalau tak ditolong oleh musik. Juga bersapaan dengan berbagai konteks: komunitas umum, kampus-kampus, kalangan diplomat, kaum pengusaha, bahkan sekolah-sekolah sampai play-group di Roma, Aberdeen, Manchester, Leeds, Birmingham, Canberra, Sydney, Adelaide, Melbourne, Ipoh, Abudhabi, Berlin, Teramo, Napoli, Elfayoum, Ismailia, Alexandra, Cairo dan banyak kota lagi.

Andaikan saya pemusik, ingin saya turut mengaransir 2009-nya Indonesia. Kalau tidak, ya sesudahnya. *****

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/y8eefdr

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

15 Comments

  1. Indriani S  on 4 December 2009

    Takjubku bukan karena habatmu terbang di ketinggian atau berjalan di atas air, sebab burung dan ikan pun bisa kau temukan di birunya langit dan dalamnya samudra. Cintamu meluas dan mendalam, pikirmu sederhana namun detail, hidupmu romantis tapi realistis, tuturmu lembut namun kuat. Kutemukan dirimu sebagai guru hidupku. Semoga Tuhan selalu menyayangimu Cak Nun….

    Reply

  2. Mundhori  on 5 December 2009

    Musik adalah bahasa universal. Tampilannya dapat diserap kedalam bahasa apapun. Dalam pengertian integritas, dapat menjangkau bidang apapun. Politik, keagamaan, sport, apalagi social. Unsur dominan adalah harmonisasi. Motif ini akan berlaku pada politik, yang tetap membutuhkan keselarasan, butuh etika dan budaya, agar public mencapai menikmati sejahtera. Jagad politik dan jagad musik sama sama focus pada keselarasan. Sebagai kehidupan yg selalu juga butuh keselarasan.

    Reply

  3. Muhammad Arief Purwo Prasetyo  on 12 December 2009

    Saya juga suka musik =)

    Reply

  4. Ibnu Murid  on 18 December 2009

    “Salah satu hasilnya adalah lahir “Deklarasi Damai” antara Ummat Islam, Ummat Kristiani dan Ummat Yahudi seluruh Negeri Belanda, yang di-launching 8 Januari 2008 – meskipun dalam skala internasional dilukai oleh penyerbuan Gaza”/

    Ada kesalahan ketik yg bs menimbulkan salah pengertian. Melihat uraian sblm kalimat itu rasannya lounching Deklarasi Damai itu bkn 8 Januari 2008 ttp 8 Januari 2009. Dan memang benar stlh saya tanya2 mbah google ternyata memang yg bnr tgl 8 Januari 2009.

    Calut buat Cak Nun, mBak Novia, Kiai Kanjeng dan Jamaah Maiyah seluruh dunia.

    Reply

  5. dylla lalat  on 23 December 2009

    hebat, bahasa sederhana dengan analisis yang detail, aku bangga masih memiliki Emha dan Kiai Kanjeng, terus berkarya saudaraku

    Reply

  6. swiss winnasis  on 23 December 2009

    dulu ketika saya masih di jogja, tiap kali maiyahan, sering banget denger cerita ini dari cak nun. dan setiap di-critani, saya tidak pernah bosan. bahkan setelah sekian lama gak maiyahan, trus baca tulisan cak nun di atas, saya masih nggumun dengan pengalaman dan keluasan ilmu beliau ini….

    Reply

  7. Achdiar Redy S  on 26 December 2009

    Ya benar, gurunda Ainun.. Musik adlh bahasa universal yg dapat mempersatukan dunia. Sbg santri virtualmu, saya bangga, kagum, bahagia atas semua kerja2 sunyimu menebarkan Rahmat di muka bumi. Semoga Tuhan senantiasa menyayangimu dan seluruh klrga. Amin Ya Robb.

    Reply

  8. Shugy Wahid  on 2 January 2010

    ….Andaikan saya pemusik, ingin saya turut mengaransir 2009-nya Indonesia. Kalau tidak, ya sesudahnya. …
    Maksudnya pripun?….

    Reply

  9. hidayat  on 7 January 2010

    maturnuwun cak….

    Reply

  10. yadi  on 21 January 2010

    amazing…singkat, padat & sampai ke sasaran…teruslah bermusik & ubahlah dunia dengan musik anda. Musik adalah manifestasi dari keindahan Illahi, satu bahasa keindahan yang bisa dimengerti secara universal. Anda benar2 menjalani hidup secara efektif, dengan musik anda sudah mendapatkan semuanya: memuji Allah, berdakwah, bersilaturahmi, serta menyalurkan hoby….

    Reply

  11. Abu Dekha  on 1 February 2010

    Walaupun Yang Pasti aku bukan muridnya Cak Nun.. Tapi Beliau adalah Guru kehidupanku.. Durhaka hamba Ya Robb jika tidak mendoakan Kebaikan untuk Cak Nun karo Sedulur-Sedulur Maiyah..

    Reply

  12. Muhamad Adam  on 2 February 2010

    MATAHARI KECILKU tak ada yang lebih berharga saat ini, selain do’amu untukku. Saat ini aku sedang merayakan cita-cita baru: Menjadi seorang penulis. Aku berharap ‘kramat’mu benjadi berkah bagiku.

    Reply

  13. qomara  on 21 February 2010

    assalamualaikum… warahmatullahi wabrakatuh…

    salam silaturahmi Cak Nun…, sungguh tulisan yang bikin seger…
    bicara tentang musik… sastra dan puisi… saya bener-bener kagum dengan sosok Cak Nun bersama Kyai Kanjeng… saya tidak mahir bermain musik tapi suka musik dan belakngan ini saya tidak terlalu suka “musik” band-band nya anak muda indonesia… karena saya merasa “musik” dan “lagu-lagu” mereka, seperti tidak ada “aura” nya dan yang bikin ngenes… industri musik kurang memperhatikan segmentasi pasar… karena tak jarang anak-anak kecil menyanyikan lagu-lagu dewasa… tapi sebagai penikmat musik… saya tetap respect menghargai apapun buah hasil dari karya seni itu sendiri…,
    dan ngomong-ngomong lagu… akhir-akhir ini saya sering “play” lagu ilir-ilir… dan yang bikin saya kaget ternyata katanya… syair nya diciptakan oleh kanjeng wali… subhanallah… saya merasa malu sebagai orang muda tidak tahu dan baru tahu warisan nenek moyang nya sendiri…yang mengandung nilai filosofi dan nasehat sangat mendalam. mungkin itu kiranya yang dapat saya petik hikmah dari tulisan Cak Nun… dari musik saya dapat pelajaran “hati”.
    “belajar dari apa-apa yang ada disekitarmu”

    seperti pesan pesan kanjeng wali
    ana dheleng didheleng
    ana rungu dirungu
    ana rejeki aja ditampik
    ana rusiya aja dibuka

    matur nuwun sanget…
    salam karaharjan dari pengagummu di cirebon.

    Reply

  14. aris  on 25 February 2010

    setiap kali membaca tulisanmu cak, aku selalu tak bisa membendung air mataku, selalu temani kami, jangan pernah tinggalkan kami…………emha ainun najib-ku!!!!!!!

    Reply

  15. ki ageng  on 3 March 2010

    cak nun..tulisanmu, musikmu…selalu merasuk dalam jiwaku, membuat sanubariku hidup,jiwaku tegar..meskipun terkadang air mata ini tak kuasa meneteskan air mata..haru..

    Reply

Leave a Reply