Orang Maiyah dan Gerbang Ghaib

Kepada Mujahidin Mujtahidin Maiyah Dari Muhammad Ainun Nadjib

Posted by Emha Ainun Nadjib30 December 2009 in Kolom Emha | 19 Comments

Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim

Subhanallah

  1. Maiyah bukan karya saya, bukan ajaran saya dan bukan milik saya.
  2. Orang-orang Maiyah bukan santri saya, bukan murid saya, bukan anak buah, makmum, jamaah atau ummat saya.
  3. Setiap hamba Allah memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya, tanpa dicampuri, digurui atau diganggu oleh makhluk apapun, terlebih lebih lagi saya.
  4. Saya tidak berani, tidak bersedia dan tidak mampu berada di antara hamba dengan Tuhannya.
  5. Saya tidak boleh meninggikan suara melebihi suara Nabi, apalagi meninggikan suara melebihi Tuhan.
  6. Saya tidak boleh lebih dikenal oleh siapapun melebihi pengenalannya kepada Nabi, apalagi Tuhan.
  7. Saya wajib menghindari kemasyhuran yang membuat orang lebih memperhatikan saya, lebih dari kadar perhatiannya kepada Allah dan Nabi.
  8. Saya wajib menolak kedekatan siapapun kepada saya melebihi kedekatannya kepada Nabi dan terutama kedekatannya kepada Tuhan.
  9. Saya tidak boleh mendengarkan siapapun dan apapun melebihi pendengaran saya kepada Allah dan Nabi, kecuali suara siapapun dan apapun itu saya gali kandungan suara Allah dan Nabi.
  10. Saya tidak boleh mengucapkan dan melakukan apapun kepada siapapun kecuali mengantarkan atau mengakselerasikan ucapan dan tindakan Allah dan Nabi.
  11. 12 13 14 15 sampai tak terhingga.

Wa-lhamdulillah

  1. Maiyah itu sama sekali bukan Agama, apalagi Agama baru, serta tidak pernah saya maksudkan sebagai suatu aliran teologi atau madzhab.
  2. Maiyah tidak pernah saya niati untuk menjadi kelompok thariqat, sekte peribadatan, apalagi organisasi massa, terlebih lagi lembaga politik atau jenis institusi sosial apapun.
  3. Namun demikian saya tidak berposisi untuk memiliki hak apapun untuk mengharuskan atau melarang Maiyah menjadi apapun, karena Maiyah mempersyarati dan dipersyarati oleh nilai-nilainya sendiri.
  4. Di dalam diri saya Maiyah saya niati menjauh dari mempersaingkan diri dengan gerakan sosial, kemanusiaan, intelektual atau spiritual apapun, tidak merebut apapun dan tidak berkehendak menguasai apapun di dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.
  5. Maiyah itu upaya setiap pelakunya, sendiri-sendiri atau bersama-sama, untuk mencari dan menemukan ketepatan posisi dan keadilan hubungannya dengan Tuhan, sesama makhluk, alam semesta dan dirinya sendiri.
  6. Pencarian itu bisa dilakukan setiap Orang Maiyah di dalam kesendiriannya, bisa dengan berkumpul secara berkala, dengan berbagai jalan ijtihad ilmu, berbagai cara budaya, berbagai alat teknologi sosial, berbagai perangkat jasad dan batin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
  7. Pencarian dan penemuan itu berlangsung dinamis, mandiri, dialogis, tidak ada ujung jalannya, tidak ada batas ruangnya, tidak ada disain dan target waktunya, sebab seluruhnya itu adalah perjalanan kerinduan kepada yang sejati dan abadi.
  8. Setiap Orang Maiyah mencari, menemukan atau menyadari adanya garis nilai antara dirinya dengan Tuhan dengan semua struktur sunnah-Nya, dengan sesama manusia dan makhluk dengan semua tatanan dan regulasinya, serta dengan jagat raya dengan semua habitat, dzat dan habitatnya.
  9. Setiap Orang Maiyah memiliki hak sementara dan bersifat pinjaman dari Sang Pemilik Sejati untuk berhenti di suatu koordinat sejarah dan membangun Maiyah sebagai ‘kata benda’, tetapi kata benda itu tetap merupakan titik beku dari ‘kata kerja’ kehidupan yang sesungguhnya tak pernah ada ‘waqaf’nya.
  10. Setiap Orang Maiyah menghimpun warisan nilai dan perilaku Maiyah kepada para akselerator hidupnya hingga anak cucu keseribu, namun sesungguhnya para akselerator bukanlah pihak yang secara pasif mewarisi, karena sampai kapanpun setiap Orang Maiyah adalah pewaris yang mewarisi, sebagaimana setiap mereka adalah yang mewarisi dan kemudian mewariskan.
  11. 12 13 14 15 sampai tak terhingga.

Wa La Ilaha Ill-Allah

  1. Maiyah itu dinamika tafsir tanpa ujung, sehingga tidak ada pertanyaan ‘Apa itu Maiyah’ yang bersifat baku dan beku. Meskipun bisa ada ‘regulasi’ tertentu yang berlaku pada ruang dan waktu tertentu dengan disain nilai tertentu, namun ia hanya sebuah titik, yang disusul oleh titik demi titik berikutnya menuju keabadian.
  2. Mengislamkan diri menurut cara berpikir Maiyah adalah perjuangan mengidentifikasi diri, menemukan dan mengukuhkan posisinya untuk mengerahkan seluruh urusan hidupnya agar bergabung ke dalam keabadian dan kesejatian Allah.
  3. Mengabadikan dan mensejatikan hidup adalah di mana jasad, rumah, keluarga, uang, harta benda, kota dan gedung-gedung, desa dan sawah ladang, semua perangkat pekerjaan, segala faktor sosial, Negara atau Kerajaan, kebudayaan dan peradaban, dilaksanakan dengan upaya penyesuaian yang terus menerus dengan kehendak Allah.
  4. Manusia bukan hanya tidak mungkin menolak keabadian, tapi afdhal mencari dan menempuhnya, sebagai satu-satunya jalan di dalam kehidupan, sebab keberadaannya berasal dari Yang Maha Abadi dan sedang pasti menuju kembali kepada Yang Maha Abadi. Semua makhluk tidak mungkin menolaknya karena tidak ada wilayah lain kecuali keabadian Allah.
  5. Metoda Maiyah yang paling prinsipil untuk menempuh jalan keabadian adalah selalu memastikan setiap urusan agar berpihak, memasuki dan bergabung di dalam kesejatian. Cara yang dialektis untuk memahami kesejatian adalah mencari perbedaannya, jaraknya, intervalnya, dengan kepalsuan.
  6. Kesejatian dan kepalsuan mengartikulasikan dirinya dalam wujud-wujud yang bermacam-macam, mengacu kepada ranah dan konteksnya. Ada kesejatian dan kepalsuan moral, mental, intelektual, spiritual, juga dalam konteks-konteks aplikasi budaya, ekonomi, politik, hukum dan apapun saja yang diperjanjikan oleh komunitas manusia untuk menjadi idiomatik managemen dan komunikasi di antara mereka.
  7. Bahkan bagi para pembelajar jagat jasad, ilmu fisika, matematika, biologi, kimia, sampai ke ilmu-ilmu murni, termasuk para pembelajar ruh, sifat, dzat, hingga DNA, proton electron neutron, fermion, bozon, quark dst insyaallah terkuak semakin benderang di pandangannya interval antara kesejatian dengan kepalsuan.
  8. Tidak ada apapun, makhluk hidup atau makhluk tidak hidup, jasad dan jiwa, benda dan peristiwa, kwantitas dan kwalitas, hutan atau taman, nomaden atau kapitalisme, koteka atau demokrasi, apapun saja siapapun saja, yang berada di luar wilayah akselerasi replikasi dari Allah, yang pada akhirnya juga tak menemukan ruang dan waktu, atau yang non-ruang dan non-waktu, yang tak tiba kembali di pangkuan Tuhan.
  9. Peradaban ummat manusia ini sampai ke apapun, siapapun, di manapun, kenapapun, kapanpun, dan bagaimanapun, tidak merdeka dari gagasan Allah, ide-Nya, aspirasi-Nya, model-Nya, replikasi-Nya, prototype-Nya, nuansa-Nya, sebab memang hanya Ia satu-satunya Yang Maha Sejati dan Maha Abadi.
  10. Orang Maiyah menemukan bahwa kehidupan ummat manusia itu sangat mengalami kegagalan replikasi dari Tuhan ke peradabannya, sehingga yang sanggup dibangun adalah manusia cacat, masyarakat cacat, Negara cacat, pemerintahan cacat, hati cacat, akal cacat, mental cacat, moral cacat. Orang Maiyah berkumpul dan bekerjasama untuk menggali ilmu, mentradisikan pelatihan dan lelaku hidup untuk mengurangi kecacatan diri mereka, serta menghindarkan diri dari melahirkan dan mendidik anak-anak cucu-cucu cacat.
  11. 12 13 14 15 sampai tak terhingga.

Allahu Akbar

  1. Kalau Bangsa dan Negaranya tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang maiyah tidak terbebas oleh nilai Maiyah dari kewajiban Maiyah untuk memperhatikan Bangsa dan Negaranya.
  2. Kalau Bangsa dan Negaranya tidak mengandalkan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, untuk membangun kehidupannya dan menyembuhkan penyakitnya, maka Orang Maiyah tetap menggali segala sesuatu dari Bangsa dan Negaranya yang masih bisa diandalkan, serta tidak berputus asa untuk terus membangun kehidupan serta menyembuhkan penyakit Bangsa dan Negaranya, dalam skala, kapasitas dan kwalitas yang bisa dijangkaunya.
  3. Kalau Bangsa dan Negaranya melecehkan, merendahkan dan memperhinakan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang Maiyah mengerti tidak ada perlunya memberikan hal yang sama, karena makhluk receh remeh dan hina sudah receh remeh hina tanpa diper-receh-kan diper-remeh-kan dan diperhinakan.
  4. Kalau nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, tidak dihitung oleh siapapun sebagai sesuatu yang potensial dan aplikatif untuk berbagai keperluan urgen Bangsa dan Negaranya, maka Orang Maiyah tidak kehilangan tempatnya dalam sejarah, karena Maiyah tetap mereka andalkan untuk pembangunan kesejahteraan masa depan dirinya sendiri, keluarga-keluarganya dan selingkup persaudaraan di antara mereka.
  5. Di dalam kehidupan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, Bangsa dan Negaranya, Orang Maiyah tekun mencari, menemukan dan mempelajari “La ilaha” yang sangat penuh tipuan dan fatamorga, sehingga atau karena atau maka mereka sangat merindukan perkenan Allah untuk memasuki “Illallah” yang sangat indah, sejati dan abadi.
  6. Di dalam diri Orang Maiyah selalu berlangsung konsentrasi untuk menemukan segala sesuatu yang ‘tidak’ dan yang ‘ya’ berdasarkan pandangan Tuhan. Konsentrasi berikutnya adalah secara radikal atau sedikit demi sedikit menghilangkan segala yang ‘tidak’ itu dan memasukkan segala yang ‘ya’ menurut peta ilmu dan kehendak Tuhan.
  7. Diri Orang Maiyah tidak terbatas pada diri pribadinya sendiri melainkan diri yang lebih besar: keluarganya, anak istrinya, sanak familinya, rekan-rekan sepersaudaraannya, serta lingkup yang lebih luas yang berada dalam skala tanggung jawab kehidupannya berdasarkan pandangan Tuhan mengenai kehidupan bersama dalam rahmat untuk seluruh alam semesta dengan segala isinya.
  8. Sampai batas tertentu yang dinamis dan relatif, perikehidupan masyarakat dan Bangsanya bisa juga termasuk lingkup tanggungjawab eksistensi kemakhlukannya. Akan tetapi Orang Maiyah tidak bertinggi hati untuk meletakkan diri sebagai penyelamat Bangsa dan Negaranya, melainkan berendah hati dan sangat menahan diri untuk berbuat di skala luas itu sejauh ada kepatutan bersama dan keridlaan satu sama lain.
  9. Orang Maiyah selalu mengupayakan dan mendoakan Bangsa dan Negaranya agar dituntun Allah dalam menapakkan kaki menyongsong Gerbang Ghaib yang sangat dekat di depan mata kehidupan mereka. Semoga doa Orang Maiyah bagi sangat banyak orang yang belum tentu mencintai mereka dan belum tentu memerlukan upaya dan doa mereka, diperkenankan oleh Allah menjadi perahu ‘izzatullah penampung dan pengayom keluarga-keluarga Maiyah setelah tiba di Gerbang Ghaib iradah Allah itu.
  10. Innallaha Balighu amri-Hi, qad ja’alallahu likulli syai-in Qadra.
  11. 12 13 14 15 sampai tak terhingga.

Wa la haula wa la quwwata illa billahil’aliyyil ‘adhim.

Kadipiro 25 Desember 2009.

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/yk5tnsw

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

19 Comments

  1. faishal himawan  on 30 December 2009

    Alhamdulillah, terima kasih atas jawabannya, Cak. Satu lembar SMS dijawab dengan “penjelasan yang amat sangat lebih dari cukup”.

    Reply

  2. deny  on 30 December 2009

    emangnya smsnya tanya tentang apa?

    Reply

  3. Matuhan  on 31 December 2009

    Subhanallah….Sungguh penjelasan yg mbikin saya lbh mandiri, percya diantra gugusan khidupan yg serba timpang. Maiyah tanpa batas. Tk CN saya tak ‘butuh’ dirimu namun ‘umpan’-2mu teramat akurat bg hatiku yg telah berkarat berat…..

    Reply

  4. wisnu prabawa hadi  on 31 December 2009

    waah….sebenernya saya c pengen ngobrol langsung sama njenengan Cak….
    aku pengen belajar lebih dalem untuk menjadi orang yang “merdeka”
    aku semakin menikmati perasaan ini, tp kadang jarang menemukan orang yang bs diajak ngobrol ttg persaaan “merdeka” ini, jadi bingung mo nyari penjelasan ke siapa.
    Selama ini aku cuma baca esai esai njenengan Cak, nyari Slilit Sang Kiai udah gag ada e….
    maturnuwun sudah menyempatkan diri menulis esai Cak…

    Reply

  5. Vandals  on 1 January 2010

    Allaahuakbar!!

    Terima kasih sedalam-dalamnya Cak. Anda lebih berarti daripada yang Anda katakan. Anda lebih hidup yang hidup. Anda lebih mulia daripada yang ada saat ini. Insya Allah, berkah Allah dan syafaat Kanjeng Nabi selalu menyertai Anda, Keluarga, Kiai Kanjeng, Progress, Letto, Jamaah Maiyah, pLettonic, saya dan semua…..

    Tanpa Anda, saya tak tahu harus bagaimana!

    Reply

  6. ciwang  on 3 January 2010

    subhanallah,,,.bangsa ini punya pemimpin sejati,, keep going cak nun..

    Reply

  7. shugy wahid  on 7 January 2010

    Maturnuwun

    Reply

  8. dwi hartantoro  on 8 January 2010

    subhannallah…hidup untuk yang Maha Hidup…

    Reply

  9. wiwit mingratwaty  on 15 January 2010

    Alhamdulillah…

    Reply

  10. suchi  on 16 January 2010

    saya malah bru dengar kata maiyah..
    salam knal, cak
    sya suka tulisan2mu

    Reply

  11. Agung namaku  on 18 January 2010

    Maturnuwun catetanipun dan ini merupakan informasi pengetahuan bagi saya

    Reply

  12. rosyid  on 23 January 2010

    komitmen yang bagus, banyak orang bisa belajar dari anda

    Reply

  13. Mundhori  on 27 January 2010

    Hubungan Maiyah dg cak Nun tidak mau disebut apa apa. Tetapi sebenarnya pasti ada apa apanya. Yaitu saling ketertarikan. Komunikasi insani. Karisma, senyum, cinta, dan saling memberi menerima, yg selalu dibutuhkan manusia. Nilainya juga begitu, agama, social, politik, budaya, atau tidak mengandung apa apa dan setidaknya ulah manusia, yg mengandung dua kutub antara baik dan buruk, antara benci dan suka, dan antara apapun yg disebut kemanusiaan. Tapi forum Maiyah tetap tampil glamour, antusias, spesifik dan terang benderang. Dan berguna untuk siapapun yg bernama manusia.

    Reply

  14. a6  on 29 January 2010

    saat aku merindu cahaya. Terpancar nur di sebrang sana. Jangan pernah redup kau bercahaya. Tuntun aku dan saudaraku kejalanya.

    Reply

  15. Hanif Alimi  on 31 January 2010

    Cak, semakin sampeyan “menunduk” bak padi. Semakin berjuta manusia yang mempunyai hati menaruh ta’dzim lihtiroman kepada sampeyan

    Reply

  16. Muhamad Adam  on 2 February 2010

    Assalamu’alaikum wahai Kekasih Allah..
    Semua karya Kang Jeng yang telah masuk kedalam jiwa ini, ibarat ruh yang ditiupkan kepada Adam saat manusia pertama itu diciptakan. Hati ini selalu bergetar, menangis, merenung, tertawa, berjingkrak, bahkan merinding setiap kali membaca tulisan-tulisanmu. Kau adalah Matahari kecil bagi siapapun, apapun, agama dan suku manapun.
    Sejak saat ini aku ingin menjadi penulis sepertimu. Do’amu adalah jembatan bagi cita-citaku ini.

    Reply

  17. Muhammad Nur  on 11 February 2010

    Assalamu’alaikum

    Terimakasih Cak.
    Dari serpihan-serpihan picik pengetahuan dan gelimang kekotoran, dengan membaca tulisan-tulisan njenengan, jadi lebih mudah untuk memahami…………
    Insya Allah.
    Semoga pergeseran dari satu titik ke titik selanjutnya, njenengan semakin menjadi “penyambung lidah” Muhammad Rasulullah.

    Reply

  18. bapake hanif  on 20 February 2010

    Alhamdulillaah
    Matur nuwun Cak, semoga Allah selalu melindungi panjenengan dalam keistiqomahan
    memberi cahaya pencerahan di negeri yang malang ini
    Wassalaamu’alaikum Wr,Wb

    Reply

  19. Azmat Maula  on 3 March 2010

    La takhof walaa tahzan innalloha ma’ana, dari situkah muncul nya maiyah ????

    Reply

Leave a Reply