Sirnanya NKRI

Posted by Emha Ainun Nadjib11 September 2009 in Kolom Emha | 25 Comments

Omong-omong kosong, andaikanpun karena kasus Zainal Maarif ini entah bagaimana akhirnya terjadi impeachment atas Presiden dan mengakibatkan beliau turun: tak ada seserpih kekawatiran di hati saya terhadap nasib bangsa Indonesia.

Gugur satu tumbuh seribu. Bahkan jatuh satu, sudah tersedia beribu-ribu. Bangsa Indonesia melahirkan sangat banyak tokoh-tokoh yang sewaktu-waktu siap bertahta di singgasana kemuliaan tertinggi menjalankan tugas Negara. Seandainyapun konstitusi mengizinkan ada 10 Presiden, bismillah kita siap. Setiap menteri pantas jadi presiden, setiap jendral mampu jadi presiden, setiap gubernur sanggup jadi presiden, setiap anggota MPR DPR DPD pantas jadi presiden. Tokoh-tokoh partikelir lebih siap lagi. Setiap institusi, LSM, ormas, kelompok, suku, warga, dan lingkar apapun tidak pernah tidak siaga menyediakan calon presiden.

Tidak ada bangsa di muka bumi sedahsyat bangsa Indonesia dalam hal SDM, karakter dan managemen kepemimpinan. Siapa saja bisa menjadi apa saja. Ada manusia tahu sedikit tentang sedikit hal, ada manusia tahu banyak tentang sedikit hal, ada manusia tahu sedikit tentang banyak hal. Tokoh-tokoh bangsa kita tahu banyak tentang banyak hal! Kalau ada negara di dunia butuh presiden, menteri, aktivis, politisi, ulama, ustadz, pakar, jurnalis, intelektual, budayawan, bankir, manager, apapun saja sebut satu persatu: bangsa kita memilikinya secara berlimpah-limpah.

***

Bagi jaringan Masyarakat Maiyah, lingkar KiaiKanjeng dengan ratusan kelompok-kelompoknya, audiens Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Papparandang Ate, Tali Ka Asih, Kenduri Cinta dst, apa yang diributkan dalam perseteruan antara ZM dan SBY sudah dimafhumi sejak mulai ada gejala kepastian bahwa orang Pacitan itu akan naik jadi RI-1.

Tetapi tidak digagas sebagai agenda primer dan tak masuk hati. Biasa sejak zaman Nabi Adam manusia yaghtab ba’dluhum ba’dla, saling ngrumpi satu sama lain. Tetapi empat bulan yang lalu seorang aktivis kebatinan mengemukakan kepada forum bahwa menjelang Agustus 2007 Presiden akan ‘ditembak’ dengan peluru kehidupan privat beliau.

Teman-teman kebatinan tahun-tahun terakhir ini kasih kontribusi cukup banyak untuk membangun atmosfir sakit jantung masyarakat. Bencana puncak dan sangat dahsyat terjadi Rajab nanti, pulau Jawa terbelah dua, peradaban dunia sedang berakhir dan digantikan peradaban baru, negara adikuasa yang selama ini merajalela sebenarnya sudah bangkrut, Sabdopalon Noyogenggong menagih janji sejak arah lelehan lahar merapi berubah arah, negara Nusantara akan berdiri… Yang paling mengerikan adalah idiom klasik wong Jowo kari separo, Cino Londo kari sakjodho, serta kasus ZM-SBY sebenarnya didisain untuk mengawali krusialitas zaman yang ujungnya adalah sirnanya NKRI…

***

Saya jadi repot karena khalayak di forum-forum itu pasti minta konfirmasi kepada saya. Kemampuan meramal saya tak punya, mau nyoba ‘ilmul kasyaf: hidup saya terlalu kotor untuk itu. Sering orang menuduh saya bisa meramal, jatuhnya Suharto, naik turunnya Gus Dur, tsunami Aceh dll dikait-kaitkan dengan satu dua pernyataan saya sebelumnya, bahkan dengan warna pakaian saya pada suatu momentum. Padahal nanti siang jam berapa menit ke berapa saya akan merasa lapar, saya benar-benar tak tahu.

Dari Lembah Badar 230 km dari Madinah saya SMS-kan kalimat Rasulullah SAW “Asalkan Engkau tak marah kepadaku ya Allah, aku tak perduli..(nasibku dan apapun yang terjadi di bumi, tsunami, gempa, bumi bocor…)” pada 26 Mei 2006, teman-teman KiaiKanjeng langsung mewiridkan itu semalaman sampai tiba gempa pagi harinya. Padahal wirid itu adalah pengabdian ulang tahun saya kepada sahabat-sahabat dekat.

Kalau ada rakyat mau bikin warung atau usaha lain, mau pindah atau menempati rumah, mau nikah atau apapun yang mendasar, mereka minta “hari baik” kepada saya. Untuk menyembunyikan ketidak-tahuan saya terhadap hal-hal begini, saya menjawab: Saya tidak berani menuduh bahwa ada hari ciptaan Allah yang buruk… Maka terhadap berita duka tentang bencana lebih besar dan sirnanya Negara Kesatuan Republik Indonesia, saya memberi konfirmasi kepada komunitas: Kita syukuri ramalan-ramalan itu, semakin banyak dan mengerikan semakin baik. Karena Tuhan tidak mau dipergoki, Tuhan tidak mau dikonangi dan didului, sehingga semoga karena Ia tersinggung maka Ia batalkan segala keburukan dan kesengsaraan itu bagi bangsa Indonesia. Sebagaimana tanggal akhir belasan Mei 2006 Sri Sultan HBX menyatakan dengan iktikad baik bahwa sepuluh hari lagi Gunung Merapi akan meletus. Allah kasih ’serangan balik’ dengan bikin gempa dahsyat yang pusatnya terletak di arah belakang Kraton Yogya.

***

Gus Dur yang waskita punya persepsi komedis sendiri: gempa Yogya itu terjadi karena ada kelompok-kelompok Islam radikal yang menyuruh Nyai Roro Kidul pakai jilbab….

Masyarakat sebaiknya mempelajari rileksitas Gus Dur dalam menanggapi kengerian-kengerian. Di istana negara pasca impeachment sebelum Gus Dur saya rayu agar pulang ke istana Ciganjur, saya tanya “Kenapa sih Gus kok pake bikin Dekrit segala?”

Beliau menjawab: “Lha sudah lama ndak ada dekrit”.

“Sampeyan bikin Dekrit kok salah staf untuk mengidentifikasi sikap TNI?”.

Wong namanya teplek (satu jenis judi kampung di Jombang) kadang ya menang kadang ya kalah”.

Jadi, kalau ada yang bilang NKRI akan sirna, make it simple: mungkin ganti nama, ganti konstitusi, ganti wajah, ada kelahiran baru, terbit matahari baru, muncul pemimpin multi-ability yang terduga, seperti ungkapan teman-teman kebatinan sendiri: Satriyo Pinandito Sinisihan Wahyu, hadir pertolongan Tuhan yang tak disangka-sangka, berdasarkan melimpahnya ’setoran’ rakyat Indonesia kepada Tuhan: kesengsaraan, keputusasaan, derita yang tak sudah-sudah…..

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/ltouey

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

25 Comments

  1. gusblero free  on 11 September 2009

    sami’na wa atho’na…..saya sdh membaca tulisan ini….dan saya merasa ayem….begitu jg teman-teman maiyyah yg lain : cak kosim, cak oni, dan juga sederet boheiman patria di antah berantah republik ini minimal jadi merasa tambah adem….bahwa ternyata posisi terpinggirkan mereka, posisi ketidak-diurusinya mereka oleh negara…juga merupakan entry point lahirnya atau munculnya iradah Allah yg tidak bisa begitu saja dihilangkan sebagai elemen asbabun qalil….untuk indonesia yg lebih bersih lagi ngayaki persoalan demi persoalan…untuk kehidupan antar manusia itu sendiri yg lebih fitrah dalam menyikapi pemurnian kemuliaanya….
    indonesiamu yo indonesiaku yo indonesia kita semua….moga nggak ada pemimpin yg kehilangan nalar sok ngeyel lalu mengatakan mereka lebih pantas hidup dibanding semua karena ‘pokok-men’……salam

    Reply

  2. budhi hariyanto  on 11 September 2009

    Allahu Akbar……. membaca apa yang telah terjadi begitu banyak dentuman dan hantaman di negeri ini yang bernama Indonesia dengan telah terlepasnya rasa Handarbeni negeri yang gemah ripah loh jinawi begitu dihantam cobaan setidaknya musti pemimpin di negeri ini harusnya berfikir tidaklah gampang memutar balikan sebuah amanah yang seharusnya dipegang erat dan difahami.namun semua hanyalah bentuk yang kamuflase sehingga derita dan bencana justru menimpa rakyat kecil yang menjadi korban.yang tidak tahu apa-apa.hal ini dijadikan obyek pengalihan yang untuk meraih kekuasaan……Tuhan akan murka dengan pemimpin yang hanya mempertahankan diri dan golongannya saja.perseteruan antara kelompok,perseteruan antara elit pemimpin…..yang harus difikirkan saat ini saya hanya berdo’a agar negeri ini tetap selalu aman dan damai,untuk mencari berjuta-juta amal dan berkah pada malam laillatul qodhaar ini…..agar negeri ini tidaklah terpecah belah.Amin

    Reply

  3. mohamad ivan  on 12 September 2009

    Indonesa raya merupakan serpihan taman surga yang elok. Entah mau diapakan aja yang pasti kasih sayang Allah terhadap penduduknya senantiasa terlimpahkan. Tuhan kadang emang suka bercanda

    Reply

  4. denny  on 16 September 2009

    terus maju cak nun……kalo boleh saya belajar sama sampeyan soal ke-tadarru-an sampeyan…..

    Reply

  5. tejo arum  on 18 September 2009

    saya sangat bersyukur di lahirkan sebagai orang Indonesia,dan saya sangat cinta Indonesia.dan saya mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mengasihi dan menyayangi bangsa Indonesia tercinta.dan kalau di perkenankan saya ingin bergabung dengan mas Emha

    Reply

  6. any  on 19 September 2009

    Kemampuan bangsa Indonesia dalam menghadapi segala cobaan hidup tak perlu diragukan lagi…maka ketika akan terjadi cobaan apapun yang akan melanda bangsa Indonesia…insyaAllah bangsa Indonesia sudah 99% siap. NKRI hanyalah sebuah simbol atau pengakuan diri terhadap dunia, dan simbol bisa berubah-ubah wujudnya yang terpenting adalah hati dan jiwa manusia Indonesia tidak akan berubah rasa ke-Indonesiannya…..AMIN

    Reply

  7. pramu  on 24 September 2009

    Pada akhirnya kita tidak dapat berbuat apa apa, selain mohon Gusti Alloh paring sih pangaksami.

    Reply

  8. Shugy Wahid  on 27 September 2009

    Evolusi Indonesia…?

    Reply

  9. agung  on 29 September 2009

    Subhanallah…
    I Love Indonesia..

    Reply

  10. Fa, Fa!  on 4 October 2009

    Indonesia…
    bagian dari desa saya
    yo tho cak?

    hehe…
    tapi kalau hilang
    lha desa saya jadi gak lengkap lagi dong.
    dan saya jadi butuh paspor kalau mau sowan neng sampeyan!
    repoooot…

    Reply

  11. Adhimas Syah Priyo Adji  on 4 October 2009

    Begitu Cintanya Allah Kepada Kita …

    Reply

  12. Adhimas Syah Priyo Adji  on 4 October 2009

    Ampuni diri kami ya Allah, sebusuk apapun diri kami …

    Reply

  13. sin  on 7 October 2009

    Matur nuwun mas artikelnya.

    Reply

  14. Jito  on 7 October 2009

    mugi Gusti paring kekiyatan kepada kita semua dalam menghadapi zaman yang diibaratkan sedang ‘Baratayudha Jayabinangun’ Dan Semoga Cak Nun selalu Tut Wuri Handayani dumateng kiprahe para putra kang magut yudha ing Tegal Kurusetra

    Reply

  15. awannada  on 9 October 2009

    Spakat cak, yg kita anggap buruk bisa jadi baik di sisi Allah…, make it simple

    Reply

  16. Mundhori  on 12 October 2009

    Pondasi NKRI dibangun dengan darah semangat dan kesefakatan rakyat Benturan pengalaman politik,ekonomi, social, agama, budaya secara internal, eksternal menjadikan manusia Indonesia menjadi liat, tabah, elastis, dan kuat stamina. Wacana hokum ZM yg diproyeksikankan mampu menumbangkan seorang presiden bukan masalah meresahkan. Sebab di negeri ini tersedia SDM berlimpah yg akan mampu menjaga dan mengatur Negara (termasuk cak Nun). NKRI tidak akan runtuh. Pengalaman membuktikan, ontran ontran besar nasional macam G 30 S/PKI, DI-TII mampu dislesaikan, bahkan menjadikan sejarah bangsa yg perkasa.

    Reply

  17. zainur zen  on 12 October 2009

    seperti yang sering diungkap cak nun, pokoke apapun yg terjadi terjadilan dengan slalu berprasagka baik pada tuhan.
    mhoh indonesia iki ajor opo buyar opo remok yo babah se…
    kabeh kan duweke gusti alloh

    aku berlindung kepadaMU krn hanya engkau yg bisa melindungi

    Reply

  18. rojes fauzy majnun  on 29 October 2009

    untung ada gus dur ,untung ada cak nun dan masih untung ada yang akan tampil lagi setelah ………………..semuanya hancur.Tunggu Tanggal Mainnya.

    Reply

  19. dwi  on 30 October 2009

    Ben lah cak….jik penting tresnaku ro mring GUSTI lan Kanjeng Nabi ojo koyo kahanan saiki….lha mung do lamis

    Reply

  20. nurQudus  on 5 November 2009

    apa itu sirna! dimanakah sirna bersemayam! jika daku lihat dari hati sanubari yang paling dalam, terdapat lubang yang tak dimengerti. perbedaan sirna dan maujud terletak di tengkuk manusia. oh Tuhan daku cinta kepadaMu, sungguh jika memang jalan ini seperti ini, daku akan masang badan agar hancur dan sirna, inilah wujud cinta kasihku agar daku bisa melihatMu dari barisan saff yang paling belakang sekali di padang mahsyar untuk melihat wajahMu. duh Gusti daku merasa malu dengan para leluhurku di tanah JAWA yang pintar dan alim dalam menyikapi masalah ini. carilah di dalam surat Qaaf, pasti kalian akan menemukan jalan keluar menuju perbaikan dari NKRI yang kita cintai. kawan, amalkanlah surat itu, peganglah dan rengkuhlah surat itu. dengan BISMILLAH, takdir Allah akan menghampiri kita. Salam SEjahtera dan Revolusi Cinta.

    Reply

  21. obink  on 11 November 2009

    Aku sangat cinta negeri ini, tapi kok koyo ngene dikelola sak karepe dewe karo segelintir wong sing ra bener, kadang aku ra trimo, nanging mung iso nyenyuwun karo sing Kuwoso….paringana petunjuk karo pemimpin-pemimpinku,,,

    Reply

  22. Matuhan  on 18 November 2009

    Usul cak! Selain Sirnanya NKRI, Jangan Cintai Ibu Pertiwi, Presiden Balkadaba, Kerajaan Indo, Indo Jgn Smp Besar, dll. Tolong ditulis: ‘Negara Saya Penuh Belatung’ atau ‘ Para Anak Bangsa(t)’. Tks

    Reply

  23. edy purnomo  on 23 January 2010

    cak nun… negara kita ini, orangnya pintar-pintar, sekolahnya dari S1,S2,S3 dan S..SSS….teler..tapi kok nggak pernah tentrem negara kita ini. ini penyebabnya apa ya cak ? apa penyebabnya namanya metode ilmiah… ya…? sehingga manusia indonesia jiwa pikirannya sebagian besar materialistik dan kapitalis.
    dan yang namanya tuhan Allah swt itu di anggap nonsen.

    Reply

  24. jio made  on 9 February 2010

    Terimakasih Cak Nun, saya yg sudah lama tidak membaca tulisan2 Cak Nun berkat blog ini saya jadi baca lagi……… Salut buat Cak Nun……

    Reply

  25. magut  on 7 March 2010

    [...] in … By Magut Alin on Jul 30, 2009. 1. Corect pentru dvs si medicul dvs, este sa il intrebati …Sirnanya NKRI | PadhangmBulanOmong-omong kosong, andaikanpun karena kasus Zainal Maarif ini entah bagaimana akhirnya terjadi [...]

    Reply

Leave a Reply