Cak Nun Urai Pendidikan di Kandank Jurank Doank

Posted by Redaksi PBCom4 January 2010 in News | 26 Comments
Dari kiri; Noe Letto, Cak Nun, Dik Doank

Dari kiri; Noe Letto, Cak Nun, Dik Doank

Usai dzikir bersama di Gorontalo, Cak Nun segera bertandang ke Jakarta untuk menyambangi komunitas Kandank Jurank Doank (KJD), 2 Januari 2010. Di sana Dick Doank menggelar acara pengkajian bulanan As Sajadah bertemakan “Kembali Membumi”. Selain Cak Nun, hadir dalam pertemuan itu Sabrang “Noe” Letto, Miing Bagito, Roni Dozer, Gina Jengkelin, dan lain-lain.

Kurang lebih pukul 21.00 WIB, ketika jamaah pengkajian komunitas kreativitas KJD mulai memenuhi lapangan, acara pun diawali dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Dalam pengantarnya, Dik doank menjelaskan konsep ikhlas. Menurutnya, ikhlas itu letaknya di awal bukan di akhir. Usai si empunya Kandank Jurank Doank memberikan uraian, giliran KJD Idol membawakan lagu medley Tik Tik Tik dan Pelangi-pelangi dengan aransemen berbeda dan disertai gerak tari. Kelompok perkusi KJD pun setelah itu mendapat jatah unjuk kebolehan.

Workshop Teater

Workshop Teater

Acara di KJD malam itu memang ber-atmosfer pendidikan, karena KJD adalah tempat sejumlah anak-anak mendapatkan pendidikan alternatif. Itulah sebabnya sejumlah pembicara lebih banyak mengulas soal-soal pendidikan. Miing Bagito menyatakan bahwa kalau dulu guru itu pilihan hidup, tetapi sekarang adalah pekerjaan. Sementara itu, ditinjau dari jenis ilmu, Sabrang menjelaskan bahwa pendidikan itu terbagi menjadi dua yaitu pendidikan gentong dan pendidikan ceret. Pendidikan gentong adalah murid mengambil ilmu dari sumber atau gurunya, sementara pendidikan ceret adalah guru menuangkan setiap ceret untuk mengucurkan ilmu pada murid tanpa tahu apa yang dibutuhkan murid. Selain itu, Sabrang juga berbicara tentang kedisiplinan. Menurutnya, disiplin itu hal yang baik, tetapi lebih baik disiplin itu tidak diajarkan, melainkan dirasakan.

Selain mengajak anak-anak untuk berworkshop teater, Cak Nun juga menyampaikan hal-hal mendasar menyangkut pendidikan. Cak Nun menegaskan pentingnya setiap diri atau kelompok untuk tahu cara menempatkan diri, bisa belajar bekerjasama, berdisiplin, dan mengatur ritme. Kebalikan dari semua itu adalah syahwat, yakni segala sesuatu yang bersifat melampiaskan. Cak Nun menggaris-bawahi pentingnya pendidikan empati sejak dini agar anak-anak memiliki respons yang tepat atas apa yang ada di sekitarnya dan apa yang terjadi pada orang lain. Lebih jauh Cak Nun mengatakan bahwa selama ini anak didik hanya dijadikan keranjang, padahal di dalam diri manusia, termasuk anak-anak, terdapat akal yang diibaratkannya sebagai sebuah mesin, di mana mekanisme mesin harus terus didayagunakan dan para pendidik tidak hanya memikirkan isi keranjang.

Penampilan KJD Idols

Penampilan KJD Idols

Selain itu, tandas Cak Nun, anak didik harus didukung untuk berpikir bebas agar mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat kelak di lingkungan sosial tetapi juga harus diarahkan untuk memiliki batas-batas atas cara berpikir dan out put-nya. Terakhir, Cak Nun juga menyodorkan tiga kata kunci yaitu akal, qalb, dan syahwat. “Dalam setiap langkah, kita harus bisa menentukan mana yang menjadi pimpinan di antara tiga unsur itu,” ujar Cak Nun. []

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/yzdk7q5

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

26 Comments

  1. falla  on 5 January 2010

    bagaimana caranya agar tau jadwal kegiatan atau touringnya cak nun.? soalnya saya berminat sekali ikut di pengajian2 yang cak nun adakan.
    matur suwon

    Reply

  2. Matuhan  on 7 January 2010

    Pendidikn kita skr mgajarkn nilai tinggi, kbanggaan, rangking, IP, dll. Sepi juga kering kpedulian, kreatifits, idealisme n rasa-2 kmanusiaan. Salam utk Dik Doang dg KJD, truskan perjalanan KC…

    Reply

  3. Ryan Perdana  on 8 January 2010

    Tiap tanggal berapa Cak Nun ke Semarang? Oh ya, kenapa kemarin Cak Nun sama sekali tidak memberikan “cerita” atau komentar tentang wafatnya Gus Dur? Sedangkan banyak sekali orang yang tidak bersentuhan langsung sampai orang yang “nempel” Gus Dur ramai-ramai bercerita tentang Gus Dur? Sedangkan, kalau saya tidak salah mengamati, Cak Nun termasuk dekat dengan Gus Dur, bahkan satu kampung? waktu meninggalnya Gus Dur, saya seharian ngadep tivi hanya untuk nunggu Cak Nun memberikan “sesuatu” dari wafatnya Gus Dur, tetapi nihil. Pas Pak Harto wafat aja Cak Nun di sctv kan? Kemarin tindak kemana Cak? Kok baru di metro tv tanggal 3? tetapi bukan ngendika tentang Gus Dur. Saya pengagum Cak Nun sekali juga Gus Dur

    Reply

  4. Arbi  on 11 January 2010

    Cak saya dengerin TV ketika cak Nun ziarah ke makam gus dur yang diekspos oleh SCTV terus cak Nun bilang bahwa gus dur itu lebih dari pahlawan. Tolong jelaskan dimanakah letak gus dur yang lebih dari pahlawan itu. Kalau sekarang memberi gelar pahlawan pada bekas pejabat tinggi negara dengan fasilitas mewah yang ditanggung oleh rakyatnya apa itu tidak keblinger (sesat) dan lucu? apa lagi lebih dari pahlawan? Gus dus sendiri dinobatkan sebagai bapak plurarisme dimana Islam mengharamkan plurarisme jadi menurut saya gus dur boleh disebut pahlawan tatapi pahlawan untuk orang kafir.

    Reply

    • Vandals  on 11 January 2010

      Apa yang membuat Anda merasa tidak perlu menyebut Gus Dur sebagai pahlawan? Lha pahlawan tu cuma sebutan. Kok jadi masalah…. Dan sampeyan juga pendek pikir, Islam yang Anda anut yang mengharamkan pluralisme kan tidak berlaku bagi Gus Dur. Jadi Anda pun tak berhak sama sekali untuk menerapkan hukum Islam Anda ke orang lain seperti Gus Dur….. Sama seperti poligami, ada yang bilang halal, dan haram….. Silakan pilih dan tak usah merasa paling benar karena yang Maha Benar cuma Gusti Allah….

      Reply

    • Ryan Perdana  on 10 February 2010

      tolong pelajari lagi, maksud anda pluralisme apa yang anda maksud? tolong kaji lagi

      Reply

  5. Arbi  on 13 January 2010

    @ Vandals
    Semuanya ini juga hanya sebutan. Misalnya anda disebut “penjahat” padahal tidak, apakah anda mau? toh “penjahat” juga hanya sebutan. Dan ini bukan perkara mencari siapa yang paling benar tapi sebuah nilai berdasarkan empan papan. Ternyata anda juga lebih pendek pikirannya.

    Reply

  6. Aljufri  on 15 January 2010

    Leh lakok podo padu nang kene (Arbi & Vandals), kenapa harus saling olok? kenapa harus mengkafirkan orang lain, padahal katanya “barang siapa mengkafirkan orang islam itu maka dialah yang kafir. Tingkat Intelektualitas kita sama Almarhum Gus Dur kan beda maka pemahaman tentang pluralisme juga beda. Kalo smpy ngaku Islam ya tunjukkan kalo keislaman anda, masak islam saling olok, masak islam mengkafirkan islam yang lain. Katanya dulu orang berdakwah itu mengislamkan orang islam dan mengislamkan orang kafir, lakok sekarang malah mengkafirkan orang islam… leh lakok aq melu padu…wes mari-mari… monggo beragama yang serius sesuai agama masing2…..

    Reply

  7. Gus Mur  on 15 January 2010

    ada apa dengan Gus Dur, suatu tinjauan pribadi
    ga tau ya jaman udah edan….orang nyeleneh pun dijadikan pahlawan!!! media, baik TV, koran maupun website, seolah tidak logis memblow-up sedemikian rupa kematian sang pahlawan sampai berhari-hari, bahkan tokoh besar dunia pun ga segencar dia pemberitaannya, ini pasti ada apa-apanya…….

    katanya,…konon,…sang Pahlawan adalah waliyullah,…wali? ga tahu dah…itu kata para pengikut taklidnya di jawa bagian timur,….karena wali maka tindak-tanduknya dan ucapannya dianggap wajar dan “ada hikmah” dikemudian hari katanya….(ini ngambil analogi dari wali mana dan ngambil dalil dari kitab mana aku juga ga tahu) yang jelas sikap super kontroversinya yang sangat merugikan islam dari dulu hingga menjelang ajalnya tak satupun yang mempunyai hikmah apalagi maslahat bagi ummat…

    wali ini dikenal nyeleneh ( ‘nggelo’), pandai memutar-mutar fakta dengan gaya guyon anak kecil yang mesti dituruti segala kemauannya, dan kadang2 memfitnah lawan2 politik dan lawan idiologinya secara serampangan tanpa fakta, tapi itu juga dianggap wajar karena dia “katanya” punya ilmu weruh sakdurunge winara, atau bahasa kebatinannya ilmu laduni gaya nabi Khidir atau Syekh Abdul Qadir Jaelani, hanya bedanya kedua orang mulia tersebut berdasarkan cerita ga pernah memfitnah orang, gak pernah haus kekuasaan apalagi sampai menjelek2an keyakinannya sendiri.

    dikenal juga sebagai guru bangsa, pembela minoritas tertindas, perintis demokrasi, bapak pluralisme, liberalisme dan sekularisme,…..isme-isme yang menurut ajaran tauhid islam disebut “taghut”. Dengan segudang gelar tersebut wajar jika Mr. Dur dapat beroleh penghargaan dari berbagai-bagai lembaga international, dari berbagai negara yang notabene adalah lembaga/negara yang dikenal sangat memusuhi Islam.

    pernyataannya dan idiologinya dianggap sangat kontraproduktif terhadap eksistensi Islam, segala isu yang menyangkut kaum muslimin dan Islam selalu ditanggapi secara bersebrangan, sungguh suatu anomali besar bagi sang Kyai Haji. Sangat disayangkan, orang yang sebenarnya merupakan aset berharga bagi umat ini justru menjadi parasit yang selalu membuat “susah” perjalanan Islam yang saat ini diterpa fitnah yang sangat menyudutkan, terlebih kondisi kaum muslimin di berbagai pelosok sedang menghadapi makar yang menyakitkan.

    Reply

    • Vandals  on 16 January 2010

      @semua

      Semua yang terjadi “cuma” setting nya Gusti Allah. Kun fayakun! Yang bisa kita lakukan adalah “ngenyang” atau menawar. Mau disebut pahlawan, penjahat, perampok….. Santai saja. Wong Rosulullah saja pada jamannya jauh lebih menderita dibanding kita. Juga nasib kaum Islam. Santai saja bung! Ada Gusti Allah…. Dan biar cuma Gusti Allah yang menilai mana yang benar dan salah. Yang menang dan kalah.

      Jika Anda menganggap benar tindakan, kata dan tulisan Anda, Anda yakin? Sudahkah itu keluar dari nurani?

      Atau jangan-jangan cuma karena perbedaan sudut pandang, jarak pandang dan cara pandang? (terima kasih buat Noe Letto, Cak Nun dan Jamaah Maiyah atas ilmu ini)…..

      Bahkan sekelas Nabi Musa saja masih gak mampu memahami pola pikir Nabi Khidir. Apalagi cuma kita, terutama saya yang sudah persis sampah!!

      Reply

      • Slamet Julianto (Cak Bagong)  on 9 February 2010

        Saya ini cuma orang biasa yang tidak punya harta dan tidak punya kedudukan, namun meskipun terlambat saya sepakat apa yang disampaikan oleh Cak Nun dan kawan-kawan termasuk anda, justru Gus Dur adalah bintang Kejora ISLAM di jaman modern ini, justru Gus Dur lah yang bisa menjadi simbol releksi dari apa yang disebut bahwa “ISLAM adalah RAHMATTANIL ALLAMIEN”, artinya ISLAM tidak saja merupakan RAHMAT bagi pemeluk Agama ISLAM saja, tetapi juga merupakan RAHMAT bagi seluruh Alam Semesta dan seluruh Isinya, termasuk RAHMAT untuk milyaran Galaksi di jagad Raya yang tidak dapat diukur luasnya karena maha luasnya, artinya betul Gus Dur bahwasanya ISLAM tidak hanya sebesar Gardu, tapi sangat Maha Luas apabila kita juga menyelami isinya tidak sekedar kulitnya.

    • muhammad  on 23 January 2010

      ustadz arbi dan gus mur (mudah mudahan bukan gus-gusan) yang mudah mudahan di mulyakan Allah Swt. anda berdua dulu itu waktu ngaji itu tidur, ngantuk atau bahkan bercanda…. ( maaf, jangan jangan gak ngaji), tapi hanya baca buku, lihat media, denger kata orang sehingga jadi apriori spt ini….. ya akhi berdua, kun ‘aliman wala takun jahilan…, sampean lihat gelar orang dan kemulyaan orang saja sakit hati seperti anak kecil kecepit resleting celana, terus ngomong ngawur sekenanya gimana bisa disebut muslim yang baik, kenapa gak sedikit arif dan bijak spt saat Rasulullah berda’wah yang lebih mengedepankan akhlaq, keteladanan sampai Al qur’an ilustrasikan…. فبما رحمة من الله لنت لهم …. terusannya buka di Qur’an sendiri, kalau bingung tafsirnya ya nanti mampir ke rumahku, Muru’ah sampean berdua dlm menghormati orang yang sdh wafat itu lho bagaimana ? inget sejarah khan, peristiwa tahkim dlm sejarah perang Ali ibn abi thalib r.a vs Muawiyah ibn Abu shofyan yang menyebabkan munculnya kelompok murji’ah, mu’tazilah, syiah ekstrem dsb sampai Khalifah yang ke IV wafat terbunuh oleh abdurrahman ibn muljan ( padahal abdurrahman ini, sholat dan al qur’annya lebih pandai dari kalian ) itu ya karena salah menafsirkan ketentuan Al Qur’an dengan hukum siyasah. hari gineeee…. sampean berdua masih ribut tentang kafir-mengkafirkan orang lain dan lupa tharahah lisan, thaharah qalb dan su’udon melulu , lebih baik ngaji lagi ke rumahku, biar sopirku yang menjelaskan ke kalian berdua….

      Reply

      • munajat  on 17 February 2010

        betut…..setuju sama gus muhammad. orang sudah almarkhum kok masih dihujat!!!!! mikir besok kalo mati si arbi sama si Mur (Gus apaan…??? Gusuran kaliiii)….ada yang ngubur nda????

  8. indra  on 22 January 2010

    @ vandals : meskipun sampah tp didlm sampah juga ada…

    Reply

  9. eva  on 23 January 2010

    ayoo… kon debato kono-kono… ngono ae kok repot.. hahaha

    Reply

  10. susi anto  on 29 January 2010

    Kembali ke tema saja, sedulurku kabeh…. Tentang PENDIDIKAN.
    Dalam satu kesempatan bertemu dengan anak-anak SMA di suatu kelas, saya ajukan dua pertanyaan kepada mereka:

    1. Adakah yang bisa menerangkan fiqih hukum waris dalam Islam?
    2. Bagian manakah dari sholat kalian yang paling kalian sukai? Apa alasannya?

    Terhadap pertanyaan pertama, respon adik-adik SMA kita sangat bagus, hampir semua menunjukkan jari tanda kesiapan mereka untuk menjawabnya. Dan dari jawaban beberapa dari mereka. terlihat bahwa mereka cukup menguasai permasalahan itu.
    Sementara terhadap pertanyaan yang kedua, terbaca kebingungn di raut muka mereka. Mereka berpandangan satu sama lain dalam tanda tanya yang besar. Ya terbaca jelas, mereka tidak mampu “tune in” dengan pertanyaan kedua saya. Kalau dengan pertanyaannya saja mereka gagal “tune in” tak perlulah berharap banyak mereka mampu memberikan jawabannya.

    Apa makna dari ini semua Sedulurku kabeh? Pertanyaan pertama adalah alat untuk mengetahui tingkat pengetahuan agama seseorang. Sementara pertanyaan kedua adalah alat untuk mengetahui rasa keberagamaan seseorang.
    Saya jadi berpikir, inikah buah pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah kita? Saya tidak bermaksud melakukan generalisasi terhadap fenomena ini, tapi setiap kali melihat kondisi kehidupan sosial kita sampai hari ini, selalu saja saya sampai pada kesimpulan bahwa pendidikan agama kita (bahkan mungkin pendidikan agama Islam di luar jalur sekolah) baru mampu menciptakan pribadi-pribadi yang unggul dalam hal pengetahuan agama namun kering dalam hal rasa keberagamaan. Ini thesis yang coba selalu saya konfirmasi, dan selalu pula membuat saya miris. Saya jadi tahu mengapa dulu Romo Mangun selalu lebih menekankan religiositas dibanding religi dalam artikel-artikelnya. Di titik ini saya jatuh rindu pada Romo Mangun, Cak Nur, Gus Mus, Romo Magnis, buya Syafi’i dan Cak Nun kita.
    Gusti….paringana kawelasan…

    Reply

  11. Arbi  on 29 January 2010

    @muhammad

    Anda sendiri sama sekali tdk berfikir arif tapi menuntut orang suruh berfikir arif kalau anda lebih paham Islam anda pasti tahu anda itu golongan mana kalau sikap anda seperti itu. Maaf ini diskusi semua belum tentu benar. Pandangan Islam terhadap apapun pasti jelas tidak abu-abu/bias. Setan tetap setan, malaikat tetap malikat, manusia tetap manusia, batil tetap batil. Kalau umpamanya setan kok disebut malaikat itu menyesatkan sejarah, menyesatkan peradaban. Apa lagi hanya sosok manusia dibilang “ngerti sak durunge winarah” berarti orang itu diposisikan sebagai Allah. Tapi kalau itu anda menganggap benar ya silahkan itu hak anda. Tapi anda juga harus menghargai hak orang lain. Saya lebih setuju belajar sama sopir sampeyan ketimbang sama majikannya yang gak karuan ini sebab kebanyakan sopir lebih tahu agama dari pada majikannya.

    Reply

    • muhammad  on 5 February 2010

      Ya Makhluk Allah yang bernama ‘ARBI’, Istighfar ya akhi….. anda ini bener bener gak ngaji rupanya, karena sukanya golong menggolongkan islam, shg lupa bahwa prinsip islam yang kaffah. Firqah-firqah inilah yang menyesatkan fikiran sampean rek. Ingat firman Allah : ….. ياأيها الذين امنواادخلوا فى السلم كافة, lafdz ‘udhuluuu’ itu fiil amar yang berarti perintah keharusan bagi setiap mu’min utk mengikhlashkan dirinya secara total dalam berislam ( iqrarnya, hatinya, fikirannya juga prilaku akhlaqnya ) sehingga tidak terjerumus dalam langkah golongan-golongan syetan, ini lanjutan ayat tsb, Islam itu ya grand design Allah yang paripurna yang didalamnya terkandung prinsip-prinsip egaliter, penghormatan hak azazi, penghargaan kebebasan berfikir selama tidak menyentuh ‘ranah’ ketuhanan,peradaban dsb. Intinya, saya gak mau panjang, takutnya jadi sampean bingung,gak faham terus jadi ngawur dalam langkah.

      Tolonglah, mungkin perlu anda renungkan prinsip dasar NU yang mengedepankan ‘tawasuth, tasammuh, i’tidal, ihtiram. Sehingga anda tidak terjebak pada gampang mendjugment orang dengan pandangan logika anda yang dangkal karena dulu dan sampai sekarang gak mau ngaji itu.
      Untuk masalah ‘Weruh sak durunge winarah’ ini sampean perlu juga buka buku sejarah munculnya prilaku Al-halaj di Iraq, Syeh Siti Jenar di jawa, ini juga berlatar belakang apa dsb. Instropeksilah saudaraku, sampean juga seperti saya yang hanya tahu kulit dalam memamahami rahasia ilmu Allah, sehingga tidak faham maksud didalam hikmah ilmu laduni, tariqah, syariat, ma’rifat, ilham, ma’unah dsb.

      Kalau anda lebih suka ngaji ke sopir saya, Alhamdulillah sekali biar saya nggak capek-capek ngasih pemahaman kepada orang yang sdh akil baligh seperti anda tapi fikirannya mumaziz. Mudah mudahan ini ada tarbiyah dan hikmah utk terus sama sama belajar, biar tidak gampang sesat -menyesatkan terutama pada orang-orang yang Insya Allah lebih mulia dalam pandangan Allah dibanding kita. wal afwu minkum !!! wallahu a’lam bi shawab.

      Reply

    • Vandals  on 10 February 2010

      Hanya Anda yang menganggap bahwa “ngerti sak durunge winarah” itu diposisikan sebagai Allah. Allah tak perlu diposisikan seperti itu karena Allah Maha Otomatis.

      Mungkin Anda lupa bagaimana Nabi Khidhir mengajarkan berbagai ilmu kepada Nabi Musa, yang notabene merupakan Nabi yang paling cerdas. Mungkin Anda lupa bagaimana Walisanga menentukan kiblat pada pembangunan Masjid Demak. Mungkin Anda lupa bagaimana pak Dullah yang dukun santet itu bisa menyantet orang…..

      Semua ke ghoiban itu ada mas…. Khidhir tetap Khidhir, Musa tetap Musa, Walisanga tetap Walisanga, pak Dullah tetap pak Dullah. Dan mereka semua bukan Allah….

      Reply

  12. Redaksi  on 29 January 2010

    Salam

    Silakan kawan2 semua berkunjung ke acara-acara rutin Jamaah Maiyah dan mari kita diskusikan bersama-sama agar mendapat pencerahan di:
    Kenduri Cinta, tiap hari jumat minggu ke2 di TIM Jakarta
    Gambang Syafaat tiap tanggal 25 di Masjid Baiturrahman Simpanglima Semarang
    Mocopat Syafaat tiap tanggal 17 di Hal. TKIT Alhamdulillah Tamantirto Kasihan Bantul
    Padhangmbulan tiap tanggal 15 (penanggalan Jawa) di Menturo Sumobito Jombang
    Bangbang Wetan tiap tanggal 16 (penanggalan Jawa) di Gor Pemuda Surabaya

    Reply

  13. Rikza  on 30 January 2010

    masyarakat demak sangat membutuhkan kehadiran CNKK
    disini sudah ada jamiyyah Padhang Ati tapi rasanya masih butuh sentuhan dari CN.saya sendiri jamiyyah Maiyah dari semarang.mohon untuk CNKK dapat hadir di Kota wali ini.

    Reply

  14. cielung  on 19 February 2010

    puji tuhan … semoga ini awal inspirasi yang menyegarkan …..

    Reply

  15. tole95  on 1 March 2010

    Ijin nyedot cak kali bagus buat pencerahan…

    Reply

  16. akhmads  on 1 March 2010

    Cak kapan ke purbalinga. Kami kangen. Atas nama jamaàh maiyah lingkar cinta.

    Reply

  17. Lekhan  on 1 March 2010

    Cak kami anak2 purbalingga selalu melanjutkan pr dari cak nun di pandu sama mas Agus sukoco.Alamat sokawera padamara.Datang ya cak!

    Reply

  18. ilmu laduni  on 7 March 2010

    [...] nombor, mahupun 4 nombor. … Hanya Tinggal 10 Tempat Sahaja Ilmu Laduni dari Ensiklopedia Islam …Cak Nun Urai Pendidikan di Kandank Jurank Doank | PadhangmBulanSelama ini anak didik hanya dijadikan keranjang, padahal di dalam diri manusia, termasuk anak-anak, [...]

    Reply

Leave a Reply