Emha, Dinasti, KiaiKanjeng Renungi Kembali Persaudaraan

Posted by Redaksi30 March 2009 in News | 3 Comments
Musik Puisi Dinasti, Emha dan KiaiKanjeng: Jangan Cintai Ibu Pertiwi

Jangan Cintai Ibu Pertiwi

Tahun ini merupakan tahun sangat penting bagi bangsa Indonesia, yang terlanjur bersepakat menjalani suatu sistem bernegara namun dikepung oleh berbagai kelemahan dan kekurangan. Misalnya di bidang politik yakni sistem pemilu yang belum jumbuh dengan prasyaratnya di masyarakat maupun institusi kepartaian. Akibatnya antara yang dipilih maupun yang memilih tidak memiliki relasi. Sehingga anggota dewan tidak memiliki kewajiban untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakat, demikian yang dikatakan budayawan Emha Ainun Nadjib dalm siaran persnya menyongsong pergelaran musik puisi “Jangan Cintai Ibu Pertiwi” di GKJ Jakarta 2-3 April 2009, pukul 20.00 WIB. Emha akan tampil bersama Kelompok Dinasti dan Kiai Kanjeng dari Yogyakarta.

Repertoar yang digarap penata musik Novi Budianto dan Bobiet Santoso ini juga akan menghadirkan para pembaca puisi yang lain: Joko Kamto, Novi Budianto, Fajar Suharno, Tertib Suratmo, Bambang Susiawan dan Cithut DH. Selain itu akan tampil teaterikali puisi karya-karya Emha oleh aktor-aktor muda Dinasti dengan ilustrasi visual yang digarap Pang Warman. Seluruh gagasan pementasan ini dikawal dan dielaborasi oleh Indra Tranggono dan Toto Rahardjo.

“Seluruh rangkaian pementasan ini merefleksikan keprihatinan kami tentang Indonesia yang tidak kunjung sembuh dari sakit yang teramat panjang,” ujar Emha sambil menyinggung tema-tema puisinya misalnya soal nasionalisme, pemilu yang disoriented, makin lenyapnya fungsi dan peran negara dan situasi rakyat sendiri.

“Repertoar ini merupakan cara kami untuk mengurai berbagai keruwetan dan kebuntuan cara berfikir masyarakat dan pemerintah. Bangsa ini memerlukan keberanian untuk mempertanyaan sejak dari cara berfikir sampai dengan cara bertindak. Karena ada kemelencengan antara tata pikir, tata kelola dan tata kuasa.” tandas Emha.

“Melalui pementasan ini kami sedang meneguhkan keyakinan bahwa persaudaraan itu merupakan nilai yang sangat utama dalam kehidupan,” ujar Emha.

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/nk36cb

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Comments

  1. tanto  on 20 July 2009

    assalamualaikum cak,bade tanglet cak. Aku ki sopo?

    Reply

  2. asty  on 12 October 2009

    Sudah waktunya kita menyadari bahwa pentingnya rasa cinta tanah air dan rasa saling memiliki sesama makhluk hidup tanpa memandang perbedaan apapun.
    Saya sangat salut terhadap sosok budayawan dan saya sangat berharap karya-karyanya dapat membawa masyarakat menuju persamaan dan menuju satu tujuan negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD Dasar 1945 sebagai hukum dasar negara yang harus diwujudkan dan diabadikan.

    Reply

  3. Matuhan  on 23 November 2009

    Persaudaraan tinggal kpentingan, ksh sayang tinggal slogan, silaturrahim tinggal ksunyian. Diatas ‘menghabiskn’, ditengah ‘memanfaatkn’, dibwh mohon ‘bagian’. Tataran prikehidupan kocar kacir sbb Tuhan skedar piagam & Rasulullah saw skedar mitos. Rakyat dihempas keadaan hingga tak paham dirinya. Apa nasib Ibu Pertiwi ???

    Reply

Leave a Reply