
Berguru Kepada Nabi Soal Pangan
Kalau kita bicara kedaulatan pangan itu bukan karena kita miskin, tidak karena pemerintah tidak mampu, dan lain-lain. Kalau saya bercita-cita tentang kedaulatan pangan, maka saya cari motivasi yang tidak cuma intelektual, …dan saya menemukan motivasi itu pada Rasulullah. Jadi ini karena cinta saya kepada Nabi Muhammad.
Pengantar itu disampaikan Cak Nun ketika mengawali presentasinya dalam acara Dialog Kedaulatan Pangan dalam rangkaian acara Rakernas Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyyah bertempat di P4TK Yogyakarta, 21 Februari 2009. Selain Cak Nun, tampil sebagai pembicara adalah Prof. Mochammad Maksum dari UGM dan HS Dillon, dan bertindak sebagai moderator adalah “kiai maiyah” Harwanto Dahlan.
Prof. Maksum, yang saat ini merupakan Pj. Ketua PWNU DIY, menyampaikan makalah berjudul Sistem Ketahanan Pangan Nasional: Tidak Berkedaulatan. Sementara itu Dr. HS Dillon, Senior Governance Advisor Centre for Agricultural and Policy Studies, memaparkan makalah berjudul Problema Kedaulatan Pangan Indonesia. Keduanya berbicara tentang ketidakberdaulatan negara atas masalah pangan nasional. Keduanya menyoroti berbagai kebijakan pangan yang tidak menyejahterkan dan tidak memihak petani.
Menurut HS Dillon, kedaulatan pangan adalah, “hak rakyat untuk menentukan sendiri sistem pertanian mereka serta sistem produksi, distribusi, dan konsumsi pangan.” Lebih jauh dikatakan bahwa “kedaulatan pangan akan memenuhi hak atas pangan dan juga hak petani.” Sejalan dengan itu, Prof. Maksum menggambarkan enam dimensi krisis ketahanan pangan nasional. Dari segi filsafat, yang terjadi adalah kemelencengan dari ajaran leluhur “gemah ripah loh jinawi”. Juga lingkungan tidak masuk hitungan. Dari sudut keadilan, kurang adanya perhatian terhadap rakyat petani sebagai produsen. Dan yang lebih penting, dari sudut syariat, adanya mekanisme harga yang tidak menjamin makanan yang halalan thoyyiban.
Berguru Kepada Nabi Soal Pangan
Sementara itu Cak Nun yang tampil sebagai panelis terakhir mengajak para peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia itu untuk mencari alasan yang lebih mendasar. Sebab kata Cak Nun 3-4 tahun ini pemerintah belum tentu sanggup mengatasi persoalan pangan ini. Karena itu, kata Cak Nun, “kita memuhammadiyyahkan diri.” Sampai di sini para peserta masih belum membaca ke arah mana Cak Nun akan bicara.
Kemudian Cak Nun menjelaskan bahwa pada masa Nabi memulai dakwah di mekkah dengan titik tekan akidah atau keimanan. Tetapi pada masa di Mekkah itu pula Rasul yang mendapat gelar Al-Amin adalah sosok yang sangat sukses dalam memimpin bisnis istrinya yaitu Khadijah, tetapi uangnya langsung dikirim ke madinah untuk keperluan pengembangan ekonomi di sana. Ini menjelaskan mengapa ketika Rasul hijrah di madinah begitu tiba di sana langsung disambut meriah oleh penduduk Madinah. Sebab, kalau tidak ada hubungannya untuk apa Rasul disambut secara meriah.
Proses hijrah Rasul juga mengandung pelajaran penting mengenai ekologi. Saking cintanya orang Madinah kepada Nabi maka mereka ingin misalnya Nabi bertempat di rumahnya atau kalau hendak membangun masjid dimintanya di tempat mereka juga. Tetapi, nabi memutuskannya dengan menyerahkannya kepada unta. “Ini bukan perkara unta, ini persoalan ekologi. Unta itu akan cenderung mencari tempat yang bagus sumber mata airnya. Maka di tempat unta berhenti dibangunlah misalnya masjid Quba. Dari titik yang dipilih oleh naluri unta itu lalu ditarik garis ke titik selanjutnya, dan jadilah ia pola tata kota yang secara ekonomis dan ekologis ideal,” papar Cak Nun.
Dan puncak kecerdasan nabi adalah pernyataan beliau ketika pertama kali tiba di Madinah yaitu “mulai hari ini bercocok tanamlah kalian.” Jadi Rasul memperkuat dulu akidah dan keterpercayaan di bidang bisnis (uang), baru kemudian memimpin masyarakat Islam dan masyarakat Madinah pada umumnya untuk mengembangkan tata kehidupan bersama mereka yang salah satu hasilnya adalah Piagam Madinah yang lahir dari pergulatan masyarakat, bukan atas inisiatif kaum elit. Dari pernyataan pertama Rasul ketika tiba di Madinah itu, terlihat bahwa soal pertanian dan pangan itu sangat mendasar dan pokok. Maka menurut Cak Nun kabinet pemerintahan yang ada seharusnya adalah kabinet kedaulatan pangan. []
Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/m6ow5z
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.











achmad kadarsah on 1 September 2009
Betul cak, tampa ada petani yang mau menanam , kita mau makan apa , presiden juga bisa kelaparan,lihat waktu terjadi perang kemerdekaan , rakyat dan para pemimpin kurus kurus kurang makan , karena banyak petani tidak sempat bertani, oh … para pemimpin tidak mau belajar.
Mundhori on 2 September 2009
Kalau kabinet yg dimaksud adalah kabinet presiden terpilih SBY Boediono, maknanya terlalu ekslusif dan saru.Masak kabinet hanya disuruh ngurusi pangan. Akan l;ebih tepat kalau namanya cabinet ekonomi. Karena permasalahan yg saat ini krodit adalah ekonomi. Tetapi kalau artikulasinya bertujuan penekanan pd kepentingan rakyat kecil, karena pangan merupakan hal yg terkait erat dg kebutuhan rakyat kecil Bolah boleh saja. Yang pokok cabinet yg akan dibentuk harus focus memikirkan kepentingan rakyat. Sebab selama ini penderitaannya tidak pernah berhenti, terus menerus sepanjang sejarah. Setiap pergantian pemerintahan akan membawa permasalahan sendiri sendiri, entah itu politik, perbenturan idologi, kesulitan ekonomi, terancamnya Negara kesatuan, dll. Tragisnya selalu rakyatlah yg menjadi kurbannya. Kabinet yad akan mampukah menyelesaikan permasalahan sakabrek itu. Semoga saja berhasil, asal kompak, kerja keras dan focus mikirkan rakyat.
Vandals on 7 September 2009
Ekonomi sama pangan penting mana dan krusial yang mana? Lha sampeyan ngurusi ekonomi klo gak ada pangan mau diurusi apanya?
Menurut saya, benar kok kalo pangan adalah hal paling dasar yang harus dipikirkan. Ekonomi mah bisa belakangan aja.
Pangan bukan cuma urusan rakyat kecil wong sejak jaman Nabi Adam aja yang namanya pangan sudah dibutuhkan ileh siapapun selama dia disebut makhluk Allah kok…. Pangan adalah hal dasar, dan bikin Kabinet atau pemimpin negara ya harus bisa ngurusi pangan alias mencukupi kebutuhan rakyatnya dulu…..
Ekonomi bisa belakangan….
muhammad makhdoemz on 7 September 2009
Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku menanam di sawah, tapi sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku punya rumah, tapi rumahku kau ratakan dengan tanah
(KH. Musthofa Bisri)
Pemerintah koq disuruh ngurusi pangan rakyat, wong mereka sendiri saja masih sibuk cari makan untuk dirinya sendiri koq . . .
con on 15 September 2009
ok