Lakukan Riset Terus Sembari Sholat Khusyu’ dan Wiridan

Posted by Redaksi18 January 2009 in News | 2 Comments
Cak Nun: Lakukan Riset Terus Sembari Sholat Khusyu' dan Wiridan

Cak Nun: Lakukan Riset Terus Sembari Sholat Khusyu' dan Wiridan

Lama tak beracara di kota sendiri, performance composition Cak Nun dan KiaiKanjeng 16 Januari 2009 malam, tampil di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta memenuhi undangan panitia Madrasah Science Expo ‘09. Acara ini dihadiri oleh dua puluh sembilan madarasah se-Indonesia yang menampilkan berbagai kreativitas dan inovasi dibidang ilmu pengetahuan. Karena itu, kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng pun dibingkai tema “Stop Dikotomi Ilmu Agama dan Umum”.

Jatah penampilan KiaiKanjeng yang malam seni budaya itu diawali dengan tembang Pambuko. Dan, seperti biasa, Bapak Harwanto Dahlan berperan sebagai pemandu acara. Seturut tema ekspo kali itu, Pak Harwanto menjelaskan pada siswa dan hadirin bahwa dari dulu ilmu dan agama itu tidak terpisah. Agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi tidak terpisah. Agama memberikan inspirasi lahirnya pengembangan ilmu pengetahuan. Ia mencontohkan bahwa peristiwa Nabi Muhammad dibedah dadanya oleh Malaikat Jibril tanpa rasa sakit, tanpa berdarah, dan tanpa bekas, telah mengilhami banyak ilmuwan kedokteran untuk melahirkan ilmu anastaseia (pembiusan), bedah laser, dan lain-lain. Karena itulah Pak Harwanto menyemangati para generasi muda ini untuk senantiasa mendalami jagad agama untuk mendapatkan inspirasi pengembangan ilmu pengetahuan.

Malam itu, walau hujan lumayan mengguyur untuk beberapa saat, namun acara tetap berlangsung dengan baik. KiaiKanjeng membawakan nomor-nomor yang tergabung dalam album terbarunya, Terus Berjalan, seperti Marhaban dan Ya Thayyibah. Ibu Novia yang setia mendampingi Cak Nun juga mempersembahkan Love dan Sebelum Cahaya-nya Letto dan seperti biasa mengajak hadirin untuk turut bergembira lewat tembang yang dinyanyikannya. Acara juga makin hangat dengan kehadiran penyair Mustofa W. Hasyim yang, salah satunya, membacakan puisinya berjudul Mata Rantai Cinta Yang Ruwet, sebuah puisi jenaka, sederhana, mengundang tawa, tapi tak bisa dipastikan tidak sarat makna.

Sementara itu di awal uraiannya, Cak Nun menceritakan masa mudanya dulu ketika ia pernah menjabat sebagai IPM, juga sekolah di SMA MUHI, amat dekat dengan Muallimin lebih-lebih juga lantaran rumah kontrakan Cak Nun tak jauh dari lokasi sekolah tersebut. Ia juga ikut memelopori lahirnya majalah Kuntum. Malam itu adalah kedatangan Cak Nun di Muallimin Yogyakarta setelah 25 tahun lamanya tak ke sana.

Cak Nun amat mengapresiasi serta ikut bergembira atas acara Madrasah Expo Science ‘09 ini dengan menyampaikan bahwa kepercayaan kepada madrasah itu merupakan indikator kemajuan dan kebangkitan. Lebih tegas lagi, Cak Nun menegaskan bahwa salah satu jalan berubahnya dunia (juga Indonesia) adalah lewat ilmu pengetahuan. “Jadi saya gembira dengan acara Madrasah Expo Science ini,” kata Cak Nun.

Cak Nun menggambarkan dulu orang tidak percaya akan adanya handpone. Dulu orang tak percaya bahwa banyak bioskop akan gulung tikar, karena setiap rumah akan punya bioskop sendiri melalui kepingan VCD dan playernya. Dulu orang tidak percaya pada rahmat Allah yang baru. “Nah siapa percaya bahwa pembawa rahmat di masa depan esok adalah Madrasah Expo Science?” tanya Cak Nun yang disambut meriah para siswa. Tak hanya itu, Cak Nun mendorong para siswa untuk melakukan riset (iqra’), sembari ditopang dengan sholat khusyu’ dan wiridan (dzikir) supaya “Allah membuka pori-pori ubun-ubun agar hidayah bisa mudah masuk ke dalam diri Anda”. Sebuah seruan yang mengandung prinsip intelektual-spiritual yang mesti dipegang teguh para peneliti muslim yang boleh jadi jarang mereka dengar sebelumnya.

Selain mengulas etos riset dan ilmu pengetahuan, Cak Nun juga menyinggung agresi Israel ke jalur Gaza Palestina. Cak Nun mengajak para haridin untuk mempelajari secara cermat perang antara Israel dengan Hamas Palestina apakah merupakan perang agama, perang ras, atau rebutan minyak, perang antara rakyat dan negara, atau perang antar manusia dan kekuasaan. Cak Nun juga mengajak hadirin untuk mencermati dimensi-dimensi lain dari krisis di jalur Gaza ini.

Kembali ke soal ilmu pengetahuan dan riset, Cak Nun sangat antuisas dengan penumbuhan etos meneliti yang selayaknya dimiliki para siswa. Bahkan sebelum dan sesudah acara, Cak Nun diajak menyimak stan-stan para siswa madrasah aliyah yang menampilkan berbagai eksplorasi dan inovasi ilmu dan teknologi, bahkan sebelum pulang Cak Nun juga mempersilakan pihak sekolah untuk mensosialisakan kreativitas para siswa itu melalui forum-forum keummatan seperti acara rutin Mocopat Syafaat. []

Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/mn7okb

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Comments

  1. uzza de mamoy  on 24 November 2009

    siapa tuh anak yang nongkronk di panggung yang kaya tuyul,,,itu adnan & iman kan??

    Reply

  2. Safar safar  on 25 February 2010

    Kutipan dari berita di atas:
    “Ia mencontohkan bahwa peristiwa Nabi Muhammad dibedah dadanya oleh Malaikat Jibril tanpa rasa sakit, tanpa berdarah, dan tanpa bekas, telah mengilhami banyak ilmuwan kedokteran untuk melahirkan ilmu anastaseia (pembiusan), bedah laser, dan lain-lain.”

    Kalimat di atas saya meyakini tidak ada korelasinya.
    Ilmu bedah tidak terinspirasi oleh pembelahan dada Muhammad kecil.
    Dan peristiwa pembedahan dada Muhammad kecil pun ada ulama yg mengatakan bahwa itu adalah hadis yg lemah.
    Bagaimanapun saya tahu cak Nun ingin menginspirasi para pelajar muallimin untuk giat menimba ilmu untuk ini saya mendukung cak Nun, tapi jika nasehatnya kurang relevan rasanya diproses di otak jadi kurang pas.

    Nuwunsewu, mohon maaf atas kelancangan saya, saya hanya mengikuti cak Nun bahwa kritik adalah perlu walaupun untuk orang sekaliber cak Nun. Tanpa kritik kadang-kadang sesuatu berproses tidak pada jalurnya.
    JazaakAllaahu Khairan.

    Reply

Leave a Reply