Dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Mojokerto yang ke 714, Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengadakan acara Tausiyyah bersama Emha Ainun Nadjib dan KiaiKanjeng dihalaman Pendopo Kabupaten Mojokerto Jawa Timur pada tanggal 12 Mei 2007. Acara yang dimulai pukul 20.00 itu juga dihadiri oleh jajaran Muspida dan DPRD Kabupaten Mojokerto.
“Masyarakat Mojokerto harus bangga dengan keberadaan Kabupaten Mojokerto yang mempunyai hubungan sangat erat dengan sejarah Kerajaan Mojopahit”, ungkap Cak Nun membuka acara Tausiyyah malam itu.
Malam itu, Cak Nun bercerita panjang lebar tentang hubungan Kabupaten Mojokerto dengan kerajaan Mojopahit sampai hubungan antara Kabupaten Mojokerto dan Kerajaan Demak. Cak Nun juga menceritakan hubungan antara mayoritas penduduk Mojokerto yang beragama Islam (menurut bupati Mojokerto ada sekitar 80 persen lebih) dengan busana jilbab yang mereka kenakan.
“Pada tahun 60-80 an, tidak ada wanita memakai jilbab di Indonesia. Yang ada hanya kerudung. Maka pada awal tahun 80-an saya ikut memperjuangkan jilbab di Indonesia melalui format pembacaan puisi Lautan Jilbab ke berbagai daerah di Indonesia. Pada perkembangannya konsep pembacan puisi berubah menjadi pementasan Teater. Dan teater yang pernah dihadiri oleh 35.000 pengunjung adalah teater yang saya adakan, yaitu Lautan Jilbab. Teater yang paling banyak penontonnya tapi tak pernah tercatat dalam sejarah. Dan salah satu pelaku pada saat itu adalah pak Seteng,” ungkap Cak Nun seraya menunjuk ke arah pak Seteng, salah satu personel KiaiKanjeng yang sedang mempersiapkan diri untuk membaca Puisi Nusantara pada malam itu.
Pada acara yang dihadiri sekitar 5000 jamaah ini juga Cak Nun menceritakan pertemuan 4 mata dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu di Istana Kepresidenan Yogyakarta.
“Ada 3 syarat yang saya minta ketika presiden SBY meminta bertemu dengan saya. Yang pertama, pertemuan harus diadakan di Yogyakarta, karena saya tidak mau datang ke Jakarta. Yang kedua, tidak boleh ada orang lain yang hadir di pertemuan itu. Yang ketiga, pertemuan itu harus diadakan diatas jam 10 malam. Padahal menurut aturan protokoler kepresidenan, jam 10 malam adalah waktu istirahat bagi presiden,” ungkap Cak Nun.
“Saya ini selalu harus menjadi orang yang sangat sabar. Pidato Presiden SBY di Poso beberapa waktu lalu merupakan ‘kata-kata’ saya ketika bertemu dengannya. Dia menggunakan istilah-istilah saya, sehingga menurut banyak orang, itu adalah pemikiran SBY, ide-ide yang lahir dari SBY sendiri. Dan saya selalu harus tabah dan ikhlas dengan pencurian-pencurian seperti itu. Dan pencurian-pencurian itu sudah sangat sering. Bukan hanya Presiden yang mencurinya, tapi begitu banyak orang. Maka saya dan KiaiKanjeng hanya pasrah dan menyerahkan semua kepada Allah. Kami disembunyikan oleh Allah. Dan itu adalah hutang Allah kepada saya dan KiaiKanjeng,” jelas Cak Nun.
“Kebangkitan Indonesia harus dimulai dari daerah-daerah. Maka tiap daerah, yang diIndonesia dibagi menjadi Kabupaten atau Kotamadya harus mempunyai pemimpin yang mengerti rakyatnya. Pemimpin yang selalu mengutamakan rakyatnya. Saat ini, tidak ada lagi orang besar di Indonesia, maka pasrahkan semua kepada Allah SWT,” lanjut Cak Nun.
Cak Nun menjelaskan bahwa ada tiga golongan Bupati/Walikota.
- Bupati Narsistik Merupakan bupati yang selalu berkaca bahwa dirinya bupati. Bahwa dirinya merupakan orang penting, sehingga lupa dengan amanah yang diberikan kepadanya. Bupati dalam golongan ini tidak bisa lagi memikirkan rakyatnya karena yang dia pikirkan hanya kepentingannya, dan dia hanya berpikir bagaimana mempertahankan jabatannya sebagai bupati atau walikota.
- Bupati yang sangat sadar bahwa jabatannya bisa dipakai untuk memperkaya dirinya dan golongannya.
- Bupati yang didalam dirinya tidak ada dirinya, yang ada hanyalah rakyatnya.
Cak Nun juga menjelaskan konsep Manunggaling Kawulo Gusti, yaitu konsep Gusti Allah ada dihati pemimpin untuk menjalankan amanah rakyatnya. “Konsep ini telah banyak disalah artikan. Maka arti, tujuan dan maksud sebenarnya juga akhirnya tidak sesuai,” tegas Cak Nun.
Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/m5567u
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.










