|
Sejarah berulang, demikian kata sebuah ungkapan. Yang dimaksud ialah keberulangan sebuah fenomena dalam sejarah kehidupan umat manusia. Dan fenomena yang berulang itu terjadi di suatu pesantren di Semarang. Ia seperti cerita fiksi era millenium mengulangi kisah fiksi dengan tema yang sama pada lebih dari 50 tahun yang lalu. Berita tentang Syech Puji, sang bos pesantren, yang menikahi Ulfa, gadis belia yang belum genap 12 tahun, memang mirip fiksi Sitti Nurbaya karangan Marah Roesli yang terkenal itu. Yang membedakan ialah disini tak ada 'Datuk Maringgih' dan tak ada konflik internal karena sepertinya 'Sitti Nurbaya' dari Semarang ini justru happy-happy saja dan pernikahan tampaknya berlangsung suka sama suka.
Konflik justru terjadi diluar, di persepsi masyarakat yang menyaksikan pemberitaan itu. Syech Puji dinilai melanggar aturan undang-undang perkawinan karena menikahi gadis dibawah umur. Meski orang luar mungkin melihat ada nuansa Sitti Nurbaya dalam kasus itu tapi tampaknya ortu Ulfa sendiri menepis anggapan miring tersrbut. Dimata gadis balita (bawah limabelas tahun) itu mungkin Syech Puji, pria 40 an tahun - dengan segala latar materi yang berkilau-kilau dibelakangnya - adalah 'Samsul Bahri' idolanya, sang ortupun mungkin melihat kiai semilyar zakat itu tak ubahnya baginda Sulaiman kontemporer apalagi ditengah krisis ekonomi berkepanjangan ini yang korbannya adalah rakyat jelata. Bagi mereka sang syech hartawan itu tentu jauh lebih konkret ketimbang imbauan presiden yang normatif dan absurd ditengah kepanikan massa terhadap krisis global. Dalam kesusahan ekonomi yang makin hari makin garang ini dapat dimaklumi jika banyak ortu yang tiba-tiba antre untuk jadi calon besan sang baginda. Mungkin banyak pula yang sinis dan memlesetkan julukan 'syech' yang dipakai bung Puji itu menjadi 'seks'. Tapi bagi para calon besan tersebut figur seperti Syech Puji adalah jalan pintas menuju benteng pelindung dari ancaman tsunami krisis finansial. Jangan pula hanya menyalahkan para ortu jika banyak dari mereka yang kini menjadi money oriented hingga dengan sukarela dan antusias menawarkan anak-anak gadisnya untuk dipoligami para taipan lokal. Bahkan kepada para predator sekalipun mereka mungkin rela mengumpankan putri-putri belianya - asalkan para predator itu punya pohon duit. Gejala ini tidak berdiri sendiri. Banyak faktor terkait. Inilah cermin masyarakat kita. Masyarakat yang terkondisi oleh kekacauan sistem ekonomi kapitalistik dimana yang kaya makin kaya, yang melarat tambah terpuruk. Money talks, money changes. Kasus Syech Puji merupakan contoh betapa uang tidak cuma berbicara tapi juga mengubah orang. Ditengah budaya yang mengagungkan materi dan mengesampingkan etos kerja dan kesabaran terhadap proses, sudah bukan hal baru jika uang kerap bisa mengubah 'Datuk Maringgih' menjadi hero kharismatik. Harta yang berlimpah memang bisa mengubah kondisi seseorang dari zero to hero. Meski insan yang sadar terhadap hakikat asal usul dirinya akan tetap membumi menjaga sikap, langkahnya, dan kezeroan dirinya. Karena ia tahu bahwa semua itu tak lebih aksesori temporer belaka. Keheroan, keujuban, hanya akan menjungkalkan manusia yang memang dari sononya sudah zero ke level minus zero.... |