|
"Sing tak pengini kowe
teko mrene iku mung siji, kowe biso duwe pikiran sing bening, lan ati sing
resik. Yen kowe wis
biso koyo ngono, kuwi pek’en kabeh aku ora arep njaluk", ungkap Cak Nun di
penghujung acara Mocopat Syafaat. Atau kira-kira dua tiga kali kedatangan saya
di mocopatan, sebelum pemikiran tentang maiyah. Ungkapan tersebut seperti
magnet yang terus menerus menarik diri ini untuk senantiasa datang dan hadir di
dusun Jetis, Kasihan Bantul.
Ibarat orang yang sedang bertamu, baru menginjakkan kaki di
pelataran rumah, pintu sudah dibuka lebar-lebar. Dan di depan pintu, si empunya
rumah sudah menunggu menyambut kedatangan kita. Tidak ada uluk salam, karena
sudah terwakili dengan terbukanya pintu. Ucapan salam yang sesungguhnya adalah
kepercayaan dan keyakinan si empunya rumah terhadap para tamunya. Sehingga
sudah menjadi kelayakan atau kewajiban kita di dalam menjaga etika atau adab "per-tamu-an". Untuk tidak mengkhianati kepercayaan dan keyakinan si empunya
rumah. Atau, masing-masing dari kita bertanggungjawab atas pilihan-pilihan kita
di dalam bersikap. Tentu saja pilihan sikap yang didasar-landasi kebeningan
pikiran dan olah resik dari
kedalaman kandungan hati. Atau, bebarengan
untuk senantiasa belajar membuat menjadi beningnya oikiran dan tetap istiqomah
untuk reresik kandungan hati.
Lalu
perlahan-lahan konsep tentang "tamu dan tuan rumah" di acara Mocopat Syafaat "dihilangkan". Atau dibuat menjadi sempit jaraknya. Dan tumbuh menjadi keluarga
maiyah, seiring dengan pemikiran tentang Maiyah. Jadi itulah yang saya
katakan maiyah sebagai pintu, pintu yang
terbuka. Dan tinggal bagaimana kita bersikap terhadap pintu yang sudah terbuka.
Sumangga kersa!!
"Bebarengan atau bersama-sama belajar
untuk membeningkan pikiran dan membersihkan hati". Ungkapan Cak Nun yang
membuat diri ini untuk selalu berusaha hadir disetiap mocopatan. Sebagai ajakan
untuk berintrospeksi diri. Membangun dan mengembangkan kesadaran diri untuk
merdeka memakanai hidup. Untuk metani
dan belajar bersikap.
Karena, Maiyah
hanyalah pintu. Untuk terbukanya kebuntuan atas pilihan sikap dan cara pikir.
Jadi, Maiyah bukanlah mazhab. Aliran apalagi sebuah organisasi massa Islam yang
besar, lalu mempunyai alasan untuk membuat aturan untuk menjadi hakim. Karena
tumbuhnya Maiyah bukan dan tidak untuk tujuan yang remah seperti itu. Bukan untuk menjadi siapa, tetapi apa yang
sudah, sedang dan akan kita kerja lakukan. Sebuah proses yang terus menerus.
Justru Maiyah
merupakan cara pandang untuk nggathukk'e
dan menemukan ketepatan dan keteraturan bentuk. Membuat menjadi pupusnya
ketidak dewasaan dalam berpikir dan bersikap. Membuka pintu untuk mencari dan
merumuskan kemudian menemukan formulanya. Maiyah hanyalah pintu untuk menggugah
kesadaran pikir dan kelelapan hati yang tertidur. Kesederhanaan dan
kebersahajaan di dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Lantas tinggal sikap
kita bagaimana, purun napa mboten, yes or
no? Mau atau tidak.
Karena, Maiyah
bukanlah mazhab. Maka orang-orang Maiyah harus mempunyai kewaspadaan. Sebab,
Maiyah bukanlah harga mati. Atau bukan merupakan bentuk akhir. Toh kalau memang
Maiyah itu adalah bentuk akhir sebuah nilai, bukanlah pada kuantitas titik
pentingnya. Namun, justru bagaimana kita, sikap orang-oran Maiyah di dalam
berproses menjalani laku atau
bermaiyah. Maiyah adalah sebuah proses kebersahajaan dan kesederhanaan
perjalanan hidup. Untuk berusaha belajar sadar, dan menjadi lebih berkualitas.
Sudah semestinya kita orang Maiyah melapangkan hati dan pikiran. Karena Maiyah
merupakan metode pembelajaran untuk me-merdeka-kan akal pikiran.
DS Nugroho, tinggal
di Klaten.
|