|
ADA 'bara' yang menggelisahkan dalam jagat
pendidikan, pro-kontra pornoaksi, aneka peristiwa dalam jagat politik dan
kebudayaan, keadilan yang melelahkan.
Masyarakat seputar Merapi was-was berhari-hari oleh soal lahar,
kecuali Mbah Maridjan dan Mbah Ronggo. Ini wangsit apa?
Pendidikan yang bermutu atau anak didik generasi bangsa yang
menurut standar nasional bermutu apa itu gerangan? Para
anak didik yang pintar mengacu nilai yang diperolehnya, yang mendasarkan rasionalitas
berpikir dan kemudian terbukti lulus ujian kesarjanaan?
Masyarakat terdidik, bertanya ke'sarjana'an macam apa atau
bahkan penganut aliran macam apa sehingga mbah Maridjan tetap percaya diri, tak
goyah pendirian oleh bujuk rayu para ilmuwan modern bermutu tinggi itu untuk
agar segera mengungsi pergi dari lereng gunung merapi?
Jelas model mbah Maridjan dan mbah Ronggo dari kaca mata 'pendidikan' bukan hanya tidak bermutu, memalukan namun juga memilukan, gambar
masyarakat gunung yang tidak ‘terdidik’. Sebab masyarakat yang terdidik oleh
rasionalitas pasti akan lari terbirit-birit oleh bencana alam apalagi sekelas
lahar gunung.
Ini pelecehan atau semacam sindiran alam? Yang jelas mbah
Maridjan dan mbah Ronggo yang sudah tua itu bukan membangkang, juga jangan
sekali-kali menganggap sebagai penganut
aliran sesat.
Bagi kaum terdidik, keselamatan memerlukan ilmu rasionalitas
sementara mbah Maridjan dan mbah Ronggo pasrah pada apa yang diyakininya secara
spiritualitas dan sasmita batin. Generasi kaum terdidik lebih peka sensitif,
kulitnya tersentuh tanah apalagi lahar, mbah Maridjan setiap hari hidupnya
justru selalu menyatu bersama alam dan bahkan menunggu lahar.
Ia bukan hanya tidak menghiraukan untuk mengungsi, bahkan
saat lahar semakin menunjukkan aktifitas dan banyak orang mulai berduyun-duyun
turun mengunsi, ia bahkan naik mendekat puncak. Orang lain turun, ia naik.
Banyak orang lari, ia malah diam. Tidak sebagaimana kaum terdidik, para
mahasiswa pecinta alam yang bak pahlawan heroik terlebih bila dibidik kamera
publik, ia ke atas bukan untuk sebuah nama, melainkan berdoa mohon
keselamatanNya. Bukan untuk dirinya sendiri melainkan seluruh warga seputar
Merapi dan DIY pada umumnya.
Kaki tangan model mbah Maridjan selalu melekat langsung pada
bumi, sebaliknya kaki tangan anak terdidik generasi ilmu pengetahuan
rasionalitas ini senantiasa bersih, hampir tak pernah bersentuhan dengan bumi
baik sungguh-sunggu dalam pengertian yang sebenarnya maupun kiasan.
Ada
yang bertanya-tanya bahwa jangan-jangan ada kaitan antara hidup dengan kaki
telanjang menyentuh bumi sering lebih terjaga kesehatannya. Ia jarang terserang
masuk angin, tubuh tetap bugar, sebagaimana kaum modern cenderung mudah terkena
berbagai penyakit yang namanya canggih-canggih.
Oleh karena itu ada kecenderungan para generasi terdidik
diam-diam meniru dengan acara naik gunung ramai-ramai, sepeda santai. Meskipun gaya meng alamnya orang
terdidik ini tetap saja kelihatan 'palsunya', seluruh tubuh, kaki, tangan
terbungkus rapi, dengan berbagai busana serta peralatan yang mahal
harganya.
Sebaliknya naik turun gunung, bersepeda ngangkut hasil
pertanian, pakaian kumal, kaki telanjang, namun tertutup rapat begitu masuk 'wilayah' orang pendidikan, atau masuk kota-kota, adalah 'aslinya' model hidup
macam mbah Maridjan gunung itu. Dan itu bukan sekadar etalase kesederhanaan
sebagaimana banyak ditampilkan oleh kaum terdidik umumnya.
Kemudian kita asyik membayangkan jika model mbah Maridjan
masuk ke Senayan, atau Partai-politik. Bagi mbah Maridjan kemarahan rakyat,
adalah 'lahar' alamiah manakala aliran aspirasinya tersumbat. Jika ternyata
kaki pikiran kebijakan pemimpinya tidak pernah menyentuh bumi harapan. Seorang
mbah Maridjan tidak akan lari dari kenyataan 'alamiah'nya, meskipun dimata
dunia pendidikan tidak ilmiah.
Dan kita tidak sedang membayangkan, ini rasionalitas,
realitas, ilmiah, dunia kenyataan yang dihuni oleh orang-orang terdidik dan
bermutu serta berkualitas. Kita sedang menuju abad masa depan. Mbah Maridjan
kita tinggalkan, dan itu gampang, bagi mbah Maridjan ditinggal atau dibawa sama
saja. Kita masuk dunia 'terdidik', ekonomi politik sosial budaya.
Kita masuk ruang-ruang seminar, lokakarya, gedung senayan,
istana, pasar swalayan, IMF, WTO, D-8 sampai pada ruang sidang pengadilan. Itu
semua tidak akan ada Mbah ke 'maridjanan', sebab yang ada generasi peradaban
tinggal landas: sekolah bermutu tinggi.
Kita juga tidak sedang membayangkan, bukan mimpi, namun
kenyataan bahwa diruang-ruang 'terdidik' yang berkualitas dan bermutu tinggi itu
ternyata potensial penyebab, pemicu adanya 'lahar' yang suatu saat membuncah. Model Mbah Maridjan tak
terlibat, kecuali justru 'langganan' terkena 'lahar' ulahnya. Kita ajukan
daftar pertanyaan ini:
Siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap banyaknya
kebocoran, pemborosan dana pembangunan, proyek-proyek, kebijakan-kebijakan yang
potensial melahirkan 'lahar' ketimpangan sosial ekonomi kecuali - ini - aneh
tapi nyata adalah orang terdidik bermutu tinggi dan bukan model mbah Maridjan?
Siapakah yang dominan andil dalam estafet ketidak adilan,
gemar merekaya hukum, ketidak alamiahan serta keilmiahan kecuali - ini - aneh
tapi nyata, yang terdidik mengerti hukum, ayat suci diluar kepalanya, bersumpah
atasNya yang jelas bukan mbah Maridjan.
Bangsa manakah yang paling dominan ikut andil dalam
kericuhan sosial, ekonomi, politik, budaya kecuali - ini - aneh tapi nyata
justru bangsa super power yang serba canggih, sosial politik budayanya, ilmu
teknologinya, dan jelas bukan 'bangsa' Mbah Maridjan.
Siapa yang banyak melakukan korupsi, melanggar hukum,
hartanya menggunung namun tidak berani menghadapi 'lahar' atas perbuatannya?
Yang jelas bukan tipe dan model mbah Maridjan yang sudah cukup bahagia menjaga 'warisan' gunung Merapi serta kelestarian alam sekitarnya.
Siapakah yang senantiasa bicara alamiah ilmiah, beriman,
bertaqwa, berkualitas namun dalam relaitas perilakunya tidak jumbuh, tak konsekuen,
sebab Mbah Maridjan justru aktual takut jika tidak seirama dengan alam.
Watak korup, curang, culas, bukan hanya bertentangan dengan
alam, mencederai spiritualitas, namun juga tidak ilmiah serta alamiah, dalam
hamparan sosial ekonomi menjadi 'lahar' ketidak adilan. Namun orang pintar
berkelit demi menghindari 'lahar' tuntutan, tetapi Mbah Maridjan berani menyikapi
lahar alamiah Merapi.
Oh Mbah Maridjan, dunia pendidikan sedang menjadi pusat
perhatian. Sangat dicurigai sebagai biang keladi merosotnya masa depan dan
moralitas bangsa. Ujian distandarkan, dinasionalkan supaya lebih bermutu
berkualitas.
Ini soal rasionalitas, ilmiah, alamiah, beriman, berkualitas
bermutu tinggi, lha kok sampean malah menolak rayuannya.
|