Mbah Maridjan dan Mbah Ronggo PDF Print E-mail
Ditulis oleh Maryono | Kamis, 16 Oktober 2008 08:47 di Opini | Esai

ADA 'bara' yang menggelisahkan dalam jagat pendidikan, pro-kontra pornoaksi, aneka peristiwa dalam jagat politik dan kebudayaan, keadilan yang melelahkan.

Masyarakat seputar Merapi was-was berhari-hari oleh soal lahar, kecuali Mbah Maridjan dan Mbah Ronggo. Ini wangsit apa?

Pendidikan yang bermutu atau anak didik generasi bangsa yang menurut standar nasional bermutu apa itu gerangan? Para anak didik yang pintar mengacu nilai yang diperolehnya, yang mendasarkan rasionalitas berpikir dan kemudian terbukti lulus ujian kesarjanaan?

Masyarakat terdidik, bertanya ke'sarjana'an macam apa atau bahkan penganut aliran macam apa sehingga mbah Maridjan tetap percaya diri, tak goyah pendirian oleh bujuk rayu para ilmuwan modern bermutu tinggi itu untuk agar segera mengungsi pergi dari lereng gunung merapi?

Jelas model mbah Maridjan dan mbah Ronggo dari kaca mata 'pendidikan' bukan hanya tidak bermutu, memalukan namun juga memilukan, gambar masyarakat gunung yang tidak ‘terdidik’. Sebab masyarakat yang terdidik oleh rasionalitas pasti akan lari terbirit-birit oleh bencana alam apalagi sekelas lahar gunung.

Ini pelecehan atau semacam sindiran alam? Yang jelas mbah Maridjan dan mbah Ronggo yang sudah tua itu bukan membangkang, juga jangan sekali-kali menganggap sebagai penganut aliran sesat.

Bagi kaum terdidik, keselamatan memerlukan ilmu rasionalitas sementara mbah Maridjan dan mbah Ronggo pasrah pada apa yang diyakininya secara spiritualitas dan sasmita batin. Generasi kaum terdidik lebih peka sensitif, kulitnya tersentuh tanah apalagi lahar, mbah Maridjan setiap hari hidupnya justru selalu menyatu bersama alam dan bahkan menunggu lahar.

Ia bukan hanya tidak menghiraukan untuk mengungsi, bahkan saat lahar semakin menunjukkan aktifitas dan banyak orang mulai berduyun-duyun turun mengunsi, ia bahkan naik mendekat puncak. Orang lain turun, ia naik. Banyak orang lari, ia malah diam. Tidak sebagaimana kaum terdidik, para mahasiswa pecinta alam yang bak pahlawan heroik terlebih bila dibidik kamera publik, ia ke atas bukan untuk sebuah nama, melainkan berdoa mohon keselamatanNya. Bukan untuk dirinya sendiri melainkan seluruh warga seputar Merapi dan DIY pada umumnya.

Kaki tangan model mbah Maridjan selalu melekat langsung pada bumi, sebaliknya kaki tangan anak terdidik generasi ilmu pengetahuan rasionalitas ini senantiasa bersih, hampir tak pernah bersentuhan dengan bumi baik sungguh-sunggu dalam pengertian yang sebenarnya maupun kiasan.

Ada yang bertanya-tanya bahwa jangan-jangan ada kaitan antara hidup dengan kaki telanjang menyentuh bumi sering lebih terjaga kesehatannya. Ia jarang terserang masuk angin, tubuh tetap bugar, sebagaimana kaum modern cenderung mudah terkena berbagai penyakit yang namanya canggih-canggih.

Oleh karena itu ada kecenderungan para generasi terdidik diam-diam meniru dengan acara naik gunung ramai-ramai, sepeda santai. Meskipun gaya meng alamnya orang terdidik ini tetap saja kelihatan 'palsunya', seluruh tubuh, kaki, tangan terbungkus rapi, dengan berbagai busana serta peralatan yang mahal harganya.

Sebaliknya naik turun gunung, bersepeda ngangkut hasil pertanian, pakaian kumal, kaki telanjang, namun tertutup rapat begitu masuk 'wilayah' orang pendidikan, atau masuk kota-kota, adalah 'aslinya' model hidup macam mbah Maridjan gunung itu. Dan itu bukan sekadar etalase kesederhanaan sebagaimana banyak ditampilkan oleh kaum terdidik umumnya.

Kemudian kita asyik membayangkan jika model mbah Maridjan masuk ke Senayan, atau Partai-politik. Bagi mbah Maridjan kemarahan rakyat, adalah 'lahar' alamiah manakala aliran aspirasinya tersumbat. Jika ternyata kaki pikiran kebijakan pemimpinya tidak pernah menyentuh bumi harapan. Seorang mbah Maridjan tidak akan lari dari kenyataan 'alamiah'nya, meskipun dimata dunia pendidikan tidak ilmiah.

Dan kita tidak sedang membayangkan, ini rasionalitas, realitas, ilmiah, dunia kenyataan yang dihuni oleh orang-orang terdidik dan bermutu serta berkualitas. Kita sedang menuju abad masa depan. Mbah Maridjan kita tinggalkan, dan itu gampang, bagi mbah Maridjan ditinggal atau dibawa sama saja. Kita masuk dunia 'terdidik', ekonomi politik sosial budaya.

Kita masuk ruang-ruang seminar, lokakarya, gedung senayan, istana, pasar swalayan, IMF, WTO, D-8 sampai pada ruang sidang pengadilan. Itu semua tidak akan ada Mbah ke 'maridjanan', sebab yang ada generasi peradaban tinggal landas: sekolah bermutu tinggi.

Kita juga tidak sedang membayangkan, bukan mimpi, namun kenyataan bahwa diruang-ruang 'terdidik' yang berkualitas dan bermutu tinggi itu ternyata potensial penyebab, pemicu adanya 'lahar' yang suatu saat membuncah. Model Mbah Maridjan tak terlibat, kecuali justru 'langganan' terkena 'lahar' ulahnya. Kita ajukan daftar pertanyaan ini:

Siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap banyaknya kebocoran, pemborosan dana pembangunan, proyek-proyek, kebijakan-kebijakan yang potensial melahirkan 'lahar' ketimpangan sosial ekonomi kecuali - ini - aneh tapi nyata adalah orang terdidik bermutu tinggi dan bukan model mbah Maridjan?

Siapakah yang dominan andil dalam estafet ketidak adilan, gemar merekaya hukum, ketidak alamiahan serta keilmiahan kecuali - ini - aneh tapi nyata, yang terdidik mengerti hukum, ayat suci diluar kepalanya, bersumpah atasNya yang jelas bukan mbah Maridjan.

Bangsa manakah yang paling dominan ikut andil dalam kericuhan sosial, ekonomi, politik, budaya kecuali - ini - aneh tapi nyata justru bangsa super power yang serba canggih, sosial politik budayanya, ilmu teknologinya, dan jelas bukan 'bangsa' Mbah Maridjan.

Siapa yang banyak melakukan korupsi, melanggar hukum, hartanya menggunung namun tidak berani menghadapi 'lahar' atas perbuatannya? Yang jelas bukan tipe dan model mbah Maridjan yang sudah cukup bahagia menjaga 'warisan' gunung Merapi serta kelestarian alam sekitarnya.

Siapakah yang senantiasa bicara alamiah ilmiah, beriman, bertaqwa, berkualitas namun dalam relaitas perilakunya tidak jumbuh, tak konsekuen, sebab Mbah Maridjan justru aktual takut jika tidak seirama dengan alam.

Watak korup, curang, culas, bukan hanya bertentangan dengan alam, mencederai spiritualitas, namun juga tidak ilmiah serta alamiah, dalam hamparan sosial ekonomi menjadi 'lahar' ketidak adilan. Namun orang pintar berkelit demi menghindari 'lahar' tuntutan, tetapi Mbah Maridjan berani menyikapi lahar alamiah Merapi.

Oh Mbah Maridjan, dunia pendidikan sedang menjadi pusat perhatian. Sangat dicurigai sebagai biang keladi merosotnya masa depan dan moralitas bangsa. Ujian distandarkan, dinasionalkan supaya lebih bermutu berkualitas.

Ini soal rasionalitas, ilmiah, alamiah, beriman, berkualitas bermutu tinggi, lha kok sampean malah menolak rayuannya.