
Dari Pojok Sejarah Kembali Lagi Ke Pojok Sejarah
Buku ini pernah terbit pada medio 1985 dan naik cetak beberapa kali oleh penerbit Mizan Bandung. Kini ketika hampir seperempat abad berselang dan ketika generasi telah bergeser, rasanya buku ini pas jika dihadirkan kembali. Anak-anak yang beranjak muda pada tahun 2000-an boleh jadi belum pernah bersentuhan dengan buku ini. Padahal, buku yang berisikan catatan perjalanan Cak Nun semasa mengembara di Eropa ini asik untuk dijadikan ladang inspirasi dan partner berpikir dalam memaknai sejarah.
Dari Pojok Sejarah. Itulah judul buku ini. Secara estetik judul ini enak didengar dan memancing imajinasi. Sejarah yang bukan benda keruangan bisa dibayangkan sebagai suatu ruang, ditemukan pojoknya, dan bisa ditempati, dan dari posisi itu seseorang memandang, menikmati, menghayati, dan menggumami apa-apa yang berseliweran di episentrumnya. Ada pergulatan kuasa. Ada kejenakaan ideologi. Ada kekonyolan manusia. Indahnya lagi, si orang yang berada di pojok sejarah itu bisa mengungkapnya dengan bahasa yang cerdas, kadang akrobatik, dan menggoda naluri bahasa kita.
Orang tersebut, yang kini kita kenal dengan panggilan Cak Nun, agaknya sekarang pun masih konsisten berada di pojok sejarah. Publik yang hanya bisa mengenal seseorang lewat media massa, koran atau tivi, barangkali akan sulit bertemu Cak Nun. Memang dulu ketika Orde Baru sedang on the top, pria kelahiran Jombang ini tak diragukan lagi sangat kritis tepat pada saat orang bungkam. Tulisan-tulisannya menyodok, menyoal, dan mempertanyakan ketidakmanusiawian dan ketidakwajaran yang mengitari kita serta yang memenuhi jarak antara rakyat dan negara. Namun, ketika arus Reformasi (ingat orang ini juga punya peran menentukan dalam masa-masa ini) tak terbendung, sejarah berbelok arah. Penguasa berganti, namun kekuasaan seperti tak punya visi.
Cak Nun pun mengambil langkah untuk lebih berkonsentrasi di bawah. Membangun pemahaman di kalangan rakyat, serta lebih meneguhkan kesadaran dan nilai-nilai di antara kawan-kawan yang melingkar bersamanya. Cak Nun seolah kembali ke pojok sejarah. Itulah sebabnya, buku ini dihadirkan secara terbatas, dijual hanya untuk jaringan dan jamaah Cak Nun yang selama ini setia menemaninya mengelola sejarah dari pojok sejarah dan sesekali saja melintas-lintas di pusat-pusatnya. Kebetulan kerap mereka mengusulkan agar buku-buku lama Cak Nun dipublikasikan kembali. Barangkali agar buku-buku itu tidak ketlingsut di pojok laci sejarah yang makin pengap ini.
Dari koordinat semacam itulah, agaknya Cak Nun merawat kesetiaannya pada nilai-nilai yang ia aktualisasikan di tengah-tengah masyarakat. Dari sudut itu pula sepertinya ia mengontribusikan dirinya untuk mencari solusi atas pelbagai masalah, dari soal korban lumpur Sidoarjo hingga pembalakan liar hutan di Ketapang Kalimantan Barat. Dari orang yang sms sambat tidak punya uang buat nebus obat anaknya hingga sambatan-sambatan yang besar-besar. Semua itu dilakukan dari pojok sejarah, agak luput dari kamera media pewarta sejarah. Selamat membaca. []
Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/nkrqqh
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.











Ratri Dian Ariani on 12 July 2009
Subhanalloh…
Jadi ingin sekali baca buku ini..
Aufa mujtahid Wsb on 4 September 2009
Ku pesen bukuny 1. Gmn caranya? Kecewa kl mpe ga’ kebagian..
Redaksi on 5 September 2009
Silakan Anda hubungi Alay/Yudhis/Anjar (0274) 618810.
jOe rachiem on 3 October 2009
Wah, Q pernah baca buku itu di perpus sekolahku. Warna kertasnya emg udh usang, mirip kertas pembungkus martabak. Q temukan tak sengaja di pojok almari.
Ngliat casingnya sbenernya males mw bca (maklum cetakan 85 gt loh!), pi demi ngliat penulisnya Pak MH, akhirnya q buka jg. 1 halaman..2 halaman..wah menarik!
Benar kata pepatah: dont judge the book by the cover!
Kalo ada yang gratis q mw dong dikirimin.
Fa, Fa! on 4 October 2009
Kaaaaaaaaaaaaaaaaaaang….
Aku kangen…..
awannada on 11 October 2009
Nggak ada versi e- booknya ya ? He 3x
hendro on 18 October 2009
tgl 25 datang gak cak nun di gambang syafa’at. kalo datang tolong bawa bukunya. Suwun
obink on 14 November 2009
hmmmm rasanya ingin sekali membeli nbuku itu kalo pas jalan-jalan ke jogja, sekalian ikut maiyahan bersama sedulur-sedulur jamaah mocopat syafaat..maklum saya ini tinggal di PAPUA. Saya kepingin punya buku itu, karena ingin menjadi saksi sejarah di republik ini, dari pojok sejarah…salam untuk CN KK. obink, Biak-Papua.
dadan hadiansyah on 29 November 2009
saya tinggal di banjarmasin kal-sel
tapi asli bandung
di perpustakaan daerah sini kebetulan banyak koleksi buku2 emha
yang jarang bisa saya temui di bandung
termasuk dari pojok sejarah ada di bapustada kalsel sini
aku bisa mengetikkan ulang kalau mau
deny on 30 December 2009
aku mau dong…
kirim ke sejarahwan@yahoo.com
lagian aku gak punya uang untuk beli
ngenet wae nunut
pyan sopyan solehudin on 8 December 2009
Tulisan Cak Nun membangkitkan imajinasiku… Buku “Dari Pokok Sejarah” empat tahun lalu pernah kupinjam dari perpustakaan kampusku. Bagus banget, tapi tak sempat kubaca semua, maklum saat itu lagi sibuknya menyusun tugas akhir. kalau sekarang sudah diterbitkan lagi aku pesan satu… Truz dicetaknya mauku jangan seperti kayak versi Mizan, yg bentuknya panjang. mauku bentuknya sebagaimana ukuran buku biasa.
aku yang sebagai generasi 2000-an, tak banyak mengenal karya beliau sedari dulu. Tolong donk diterbitkan lagi. nyari ke Mizan saja tak ada. Kemarin saja beli buku “Slilit Sang Kiai” dan “Cahaya Maha Cahaya” buku yang bekas. Sedikit terganggu juga keenjoyan bacanya, karena warnanya sudah kuning kusam..
wak aris on 26 December 2009
buku lama, tapi kandungannya selalu bisa sejajar dengan permasalahan yang hadir di segala zaman. salute to cak nun. dawuh dan kawruhnya senantiasa kita nantikan.
miphz on 6 January 2010
Dari pojok kamarku, aku mau memburu kitab itu, semoga ada di pojok kota Bandung, semoga tidak ada yang menyembunyikan kitab itu. Amin.
Syuhada on 17 February 2010
Kalo di bandung, nyr2 bku2 cak nun gt dmana? D.toko bku bys, dkit jdul.a.
Yg trbitan progres jg..
Trims..
Santri Sudrun on 24 February 2010
Sekarang saya sedang bernafsu membaca buku Dari Pojok sEjarah ini..
Tapi saya cari-cari di perpustakaan tempat saya doLan, belum berjumpa juga.. ah mungkin karena niatnya didasari atas NAFSU ya? Mau beli kok tangan saya belum bisa njangkau.. ya akhirnya nunggu TAKDIR dari Allah saja.. Salam untuk para Khalifatullah.