
Cover Album Terus Berjalan versi CD Audio
KiaiKanjeng mensyukuri lahirnya album Terus Berjalan sebagaimana KiaiKanjeng mensyukuri segala sesuatu yang dialami dan dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari termasuk seperti saat ini ketika misalnya KiaiKanjeng sedang berada di Abu Dhabi untuk acara Indonesian Cultural Night 2008 20-25 November 2008 di Gedung Cultural Foundation Abu Dhabi. Sebelumnya di negeri Kincir Angin Belanda selama kurang lebih 2 minggu (6-20 Oktober 2008).
Di negeri Belanda itu, KiaiKanjeng datang tidak terutama untuk berkesenian, melainkan datang membawa hatinya untuk menyapa masyarakat di sana, membawakan lagu-lagu untuk mempererat persaudaraan di antara orang yang berbeda latar belakangnya, terutama latar belakang agama dan budayanya, terlebih lagi tatkala ketegangan antar manusia kerap mengemuka.
Kemana-mana yang dibawa KiaiKanjeng adalah “manusia”-nya. Bertemu orang, dari pelosok desa hingga kota-kota di mancanegara, KiaiKanjeng lebih dulu menyodorkan sisi manusia dirinya. Manusia dimanusiakan lebih dulu oleh KiaiKanjeng. Agaknya itu dilakukan karena hidup di zaman modern ini telah membuat manusia tercabik-cabik ke dalam kotak-kotak sempit politik, ekonomi, golongan, ideologi, dan berbagai kotak lainnya. Musik dan kesenian, lirik dan lagu, nada dan irama yang dihasilkan KiaiKanjeng lebih banyak “mengabdi” untuk usaha memanusiakan kembali manusia.
Itu tidak berarti bahwa sisi-sisi kualitiatif musikalitas menjadi dinomorduakan. Sama sekali bukan. Bahkan sebaliknya, justru dalam rangka menjalankan proses “nonkesenian” yang disebut memanusiakan itu tadi, KiaiKanjeng makin terlecut untuk lebih kreatif dan berprestasi, kendatipun itu bukan orientasi pertama dan utama. Semoga bukan suatu kesombongan: tahun 2005 KiaiKanjeng mendapat kesempatan pentas di Italia, dan mendapat kehormatan untuk tampil di museum musik klasik dunia di Napoli tempat musisi kelas dunia pernah menggelar konser mereka seperti Guiseppe Verdi, Robert Wagner, Guiseppe Tartini, dan Antonio Vivaldi. Di situ, KiaiKanjeng meninggalkan cinderamata berupa naskah notasi karya mereka, Pambuko I, Pambuko II dan demung.
Di London Inggris, pada tahun 2005, KiaiKanjeng juga mendapatkan kehormatan untuk tampil dalam acara Islamic Award for Muslim Excellence yang dihadiri para pemuka Muslim di Eropa. Di Mesir, tahun 2003, KiaiKanjeng tampil dan mendapatkan sambutan hangat dari publik Mesir dan membuat mata mereka sedikit terbuka tentang Indonesia. Beberapa hari lagi, 21 Oktober 2008, setibanya dari Belanda, KiaiKanjeng telah genap mengunjungi 29 kota di luar negeri.
Tetapi yang lebih melegakan adalah ketika KiaiKanjeng mendengar kesaksian murni dari audiens tentang penampilan mereka. Sebut misalnya Egbert Van Velahuizen tokoh agama Kristen Windesheim yang mendengarkan musik-musik KiaiKanjeng saat mereka tampil di Universitas Windesheim Belanda beberapa hari lalu. Ia mengatakan,”Lagu yang kalian mainkan telah menyentuh hati saya. Kalian telah mengajak manusia untuk hidup bersama secara damai. Kalian membawa kami untuk membuka sebuah lembaran baru, sebuah dunia yang lebih baik.”
Atau mungkin boleh juga menyimak pernyataan Tom America, seorang komponis terkenal Belanda yang tinggal di Amsterdam. Ia adalah salah seorang yang sangat antusias mengikuti pertunjukan dari awal hingga akhir saat KiaiKanjeng tampil di Gedung teater De Nobelaer Anna van Berchemlaan 2, 4872 XE Etten-Leur Netherlands dalam rangkaian tur Emha Ainun Nadjib dan KiaiKanjeng ke Belanda 6-20 Oktober ini. Ia menyatakan bahwa dia merasa mendapat pelajaran berharga dari penampilan KiaiKanjeng. Belum pernah ia menyaksikan pertunjukan seperti yang KiaiKanjeng pertontonkan; sebuah instrumen musik tradisional –dengan segala keterbatasannya, mampu meramu dan menampung lagu dan jenis musik dari seluruh benua. Itu menjadi luar biasa, karena bisa menjadi simbol bahwa perbedaan budaya, agama, ras, bangsa dan sebagainya bisa di”satukan” lewat musik.
Egbert Van Velahuizen dan Tom America masih punya teman, tetapi semua kesaksian itu tidak membuat KiaiKanjeng GR. Sebaliknya itu semua memacu mereka untuk Terus Berjalan. Lebih-lebih budayawan Emha Ainun Nadjib sebagai bagian tak terpisah dari proses kehidupan KiaiKanjeng (mulai soal kreativitas, pandangan hidup, hingga soal-soal daily life) terus membesut mereka untuk tak jemu-jemu menjadi manusia yang sebisa mungkin murni sebagai manusia, di manapun mereka hadir, di manapun mereka bertemu beragam masyarakat.
Itu sebabnya, di tanah air misalnya, kerap kali kehadiran KiaiKanjeng dan tentunya Emha Ainun Nadjib itu diam-diam atau tidak diam-diam membawa suatu “tugas” khusus umpamanya untuk mendamaikan pihak-pihak yang bersitegang, menghibur mereka yang kesepian, atau membantu mencari ilmu bagi mereka yang bingung atau terbingungkan, dengan pertama-tama meletakkan manusia sebagai subjek utama–tentu disertai upaya menegakkan objektivitas–dalam menganalisis suatu masalah. Jadilah musik KiaiKanjeng diaransemen untuk mempermudah proses komunikasi sosial, dan ini adalah sesuatu yang unik.
Barangkali karena itulah posisi KiaiKanjeng dalam dunia musik agak tidak berada dalam peta mainstream, walaupun KiaiKanjeng yang wajah orang-orangnya menyiratkan bahwa mereka adalah orang biasa, sederhana, mungkin juga ndeso, tetapi toh mereka tidak canggung jika harus berkolaborasi dengan para pemusik “resmi” seperti Cat Steven, atau kelompok penerusnya Ummi Kultsum di Mesir.
Album Terus Berjalan ini memang bisa berarti secara harfiah bahwa personel-personel KiaiKanjeng terus berjalan dengan menggotong sendiri seabrek alat musik, saron, demung, keyboard, terbang, dan lain-lain ke berbagai tempat di muka bumi ini, seperti ketika mereka beracara di Finlandia 2006, namun di balik perjalanan mereka, tatapan mata mereka tetaplah ke depan. KiaiKanjeng terus berjalan, sebagaimana Anda dan kita semua juga harus terus berjalan.
Album Terus Berjalan ini berisi 8 lagu. Diproduksi oleh Progress Yogyakarta dan distribusinya ReMZ Music Jakarta. Resminya Album sudah beredar pertengahan Nopember lalu.[]
Tiny Url for this post: http://tinyurl.com/njvomk
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.











Mochtar on 15 September 2009
Saya mau tanya bagai mana cara mendapatkan CD/DVD musik kyai kanjeng
Redaksi on 17 September 2009
Silakan Anda menghubungi kantor Progress Manajemen di Jalan Wates km 2,5 Gg. Barokah no. 287 Kadipiro Jogja (0274) 618810.
Nuwun.
Nanda on 5 October 2009
Sepenggal perjalanan Padhang Mbulan pernah saya ikuti,
waktu SMA (2000-2001). Sungguh perjalanan yang tak pernah terlupakan.
Sayang seiring berjalannya waktu lama-kelamaan kesibukan membuat,
saya jarang dan tidak bisa lagi ke Menturo..
Jujur hati ini rindu dengan Caknun, Ki Sudrun dkk..
Redaksi yang terhormat, apakah CD/DVD kyai kanjeng tersebut tidak dijual di toko music/cd di Jakarta ? sehingga bisa dengan mudah kerinduan ini terobati.
Bissmillahhirohmanirrohim…
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
Redaksi on 6 October 2009
Kaset dan CD Audio KiaiKanjeng “Terus Berjalan” tersedia di toko kaset. Jika Anda kesulitan, untuk area jakarta, silakan Anda menghubungi perwakilan Progress:
ADI KC (0818217616).
Nuwun.
CATUR on 13 October 2009
ASLM..ALBUM TERUS BERJALAN DI JUAL DI SEMARANG GA?
Redaksi on 13 October 2009
Untuk Semarang, bisa Anda dapatkan di toko-toko kaset dan CD. Jika kesulitan, silakan kunjungi Acara Rutin Bulanan Gambang Syafaat setiap tanggal 25 Masehi setiap bulan jam 20.00 di Masjid Baiturrahman Simpanglima Semarang. Disana Anda akan menemukan berbagai macam produk kami.
Terima Kasih.
tansah on 13 October 2009
kullu ‘aam wa antum bi khair ……
syamsul arifien on 20 October 2009
salam maiyah, kk yang terus berjalan, ajari kami berjalan supaya tidak terantuk batu jaman, istiqamah, dan bermanfaat bagi siapapun saja… nuwun
Sang Nananging Jagad on 18 November 2009
kapan CNKK ke KC lagi?
pyan sopyan solehudin on 8 December 2009
memang susah ya untuk mendapatkan karya-karya cak nun sekarang…langka karena cepat laku, segera habis di pasaran, atau produksinya sedikit?
fajar on 2 January 2010
Saya ingin mengoleksi album-album kyaikanjeng mulai dari padhangmbulan sampai album terakhirnya (syukur ada versi cd/dvd). bagaimana caranya plus ongkosnya. posisi saya di Samarinda. Ada yang bisa bantu. Terimakasih
rachmad on 4 January 2010
saya ada koleksi cd KK album ilir-ilir,serta koleksi kaset2nya.cuman kl mau dapetin album KK ditoko kaset memang agak kesulitan untuk daerah kaltim.sobat di Bpp
rachmad on 4 January 2010
gmn dapetin cd/dvd terus berjalan di area balikpapan kaltim.
Redaksi on 4 January 2010
Bagi temen-temen yang ingin mendapatkan produk-produk berupa CD, DVD, dan kaos, silakan berkirim email melalui: pemasaran.mu@gmail.com.
Nuwun.
fajar on 5 January 2010
Terimakasih
fajar on 5 January 2010
Konfirmasi aja. Saya juga pernah keliling toko kaset dan cd di jogja, tapi gak ketemu. Dulu semasa kuliah, saya belinya di Al fath (malioboro), tapi waktu ke sana tahun lalu sudah gak ada jual. Seingat saya ada lagi yang jual, yaitu di toko buku AMM (jual buku iqro) di Kota Gedhe Bantul, tapi saya belum sempat kesana.
Slamet Julianto (Cak Bagong) on 9 February 2010
Ass. Wr.Wb.
Cak Nun yang sangat saya hormati !
mungkin Cak Nun lupa dengan saya, karena yang Cak Nun kenal jumlahnya sudah puluhan ribu, namun saya sampaikan, bahwasanya saya pernah mengundang Cak Nun di Tambak Rejo dahulu kalau tidak salah tahun 1999, namun karena Mbak Novia Kolopaking keguguran (maafsaya mengingatkan sesuatu yang tidak enak), maka Cak Nun tidak bisa hadir ditempat saya dan kedua pada waktu itu saya ikut dengan rombongan Cak Nun ke Pasuruan dekat daerah Pandaan (tapi saya lupa desanya) saya ikut cak Nun pada waktu Cak Nun menginap di hotel Mirama yang sekarang menjadi Hotel Mercury di daerah Darmo Surabaya dan setelah itu saya tidak pernah ketemu lagi dengan Cak Nun, tapi saya masih terus melihat kegiatan-kegiatan manusiawi yang terus dilakukan Cak Nun termasuk diantaranya dalam menangani dan menengahi penyelesaian musibah Lapindo yang mana Cak Nun menurut pandangan saya sudah adil dalam menyelesaikan hal tersebut, hanya saja saya dan mungkin banyak yang lain kangen dengan Padang Mbulannya yang tiap bulan diadakan di daerah Cak Nun di Jombang, untuk itu saya mengusulkan, agar supaya Cak Nun membangkitkan kegiatan itu lagi tiap bulan purnama, karena sekarang ini, bangsa ini menghadapi ketersempitan pemikiran manusia yang sudah mengkotak-kotakkan diri, sehingga sulit membangun Bangsa karena pandangan sempit dari oknum-oknum Pemimpin partai yang hanya mementingkan kelompoknya saja, untuk itu bangkitkan lagi “Pengajian padang Mbulan” untuk memberikan motivasi kepada Rakyat, dan ajari Rakyat ini cerdas dan menjadi tidak ikut-ikutan pemimpinnya yang sempit untuk kenikmatan sesaat dan saya berdoa Semoga harapan saya terkabul AMIEN-AMIEN YA ROBBAL ALAMIEN
Surabaya, 9 Pebruari 2010
Hormat Saya
Slamet Julianto (Cak Bagong)
erwin on 21 February 2010
di surabaya kaset tersebut dapat dibeli dimana? versi yang lama apakah juga tersedia? terimakasih
santri sudrun on 8 March 2010
Seorang Mbambung “takon” sama sahabatnya: kenapa ya? kalau sudah masuk dunia perjual-belian “abad ini”, entah itu kasEt, CD, khususon makhluk yang namanya “BUKU” bila ditulis oleh orang-orang “besar dan atau ternama” pasti harganya seperti GUNUNG. termasuk miliknya Cak Nun. Sahabatnya menjawab : Lho, memang sekarang kan seperti itu, para kapitalis itu menjual barang “sak karepE dhewe”? yang penting dapat UNTUNG banyak. entah masalah jumlah harga itu sudah minta IJIN sama yang membuat atau belum itu urusan belakang. Menurut saya, Yang terpenting kan ILMU yang ada di dalam buku itu to? kalau kamu ngak bisa beli bukunya Cak NUN, ya pinjem, kalau ngak boleh ya kamu pergi ke perpustakaan, baca- baca disana. kalau di perpustakaan ngak ada ya langsung aja sowan ke Cak Nun. Kalau tidak bisa juga, ya berdo’a saja sama Allah…
Sahabat Mbambung menimpali: Lho.. sampean kok malah “ceramah” ???